Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Deretan Fenomena Langit Indonesia Bulan Desember 2025, Bisa Dilihat Pakai Mata Telanjang

Abi Rama
02/12/2025 23:40
Deretan Fenomena Langit Indonesia Bulan Desember 2025, Bisa Dilihat Pakai Mata Telanjang
Ilustrasi(freepik)

BULAN Desember 2025 akan menjadi salah satu periode terbaik bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati berbagai peristiwa astronomi. Sepanjang bulan, beragam fenomena mulai dari supermoon, kemunculan planet terang, hingga dua hujan meteor besar dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang tanpa perlu teleskop. 

Kondisi cuaca Indonesia yang cenderung cerah di pagi hari dan minim polusi cahaya di sejumlah daerah menjadi keuntungan tersendiri bagi penggemar langit malam. Berikut deretan fenomena menarik yang dapat diamati sepanjang Desember di langit Indonesia.

4 Desember: Cold Supermoon

Fenomena pertama dimulai pada 4 Desember 2025 ketika Bulan mencapai fase purnama sekaligus berada pada jarak terdekat dengan Bumi. Hal ini membuat ukurannya tampak sedikit lebih besar dan lebih terang dibanding purnama biasa, yang dikenal sebagai Cold Supermoon.

Bagi pengamat di Indonesia, malam hari menjadi waktu terbaik untuk menyaksikannya. Pada malam yang sama, Bulan juga akan mengokultasi Gugus Bintang Pleiades, yakni menutupi kumpulan bintang tersebut untuk beberapa waktu. Meski dapat dilihat tanpa alat, penggunaan teropong kecil disarankan untuk pengalaman yang lebih maksimal.

7 Desember: Merkurius Muncul Jelas di Ufuk Timur

Tiga hari setelah supermoon, Merkurius memasuki posisi greatest western elongation pada 7 Desember 2025. Pada titik ini, planet yang terkenal sulit diamati tersebut berada di posisi terbaik untuk dilihat menjelang Matahari terbit.

Di Indonesia, Merkurius dapat diamati di arah timur pada waktu dini hari, hanya beberapa saat sebelum Matahari muncul. Cuaca pagi Indonesia yang relatif cerah menjadi keunggulan tersendiri untuk menyaksikan fenomena ini tanpa hambatan.

13-14 Desember: Puncak Hujan Meteor Geminid

Hujan Meteor Geminid menjadi fenomena terbesar pada bulan ini. Puncaknya terjadi pada 13–14 Desember 2025, dengan potensi mencapai 120 meteor per jam dalam kondisi langit gelap.

Menurut NASA, Geminid merupakan salah satu hujan meteor tahunan paling aktif dan menghasilkan meteor yang lebih terang, bergerak lambat, dan sering tampak berwarna, ideal bahkan untuk pengamat pemula.

Keuntungan tahun ini, Bulan berada pada fase sabit tipis, sehingga cahaya bulan tidak akan mengganggu pengamatan. Waktu terbaik bagi masyarakat Indonesia untuk menyaksikannya dimulai dari pukul 20.00 hingga dini hari, dengan aktivitas tertinggi menjelang subuh.

20 Desember: Langit Paling Gelap Sepanjang Bulan

Pada 20 Desember, Bulan mencapai fase Bulan Baru dan tidak terlihat sama sekali di langit. Kondisi ini menghasilkan malam paling gelap sepanjang bulan, sangat ideal untuk melihat objek redup seperti gugus bintang, nebula, dan galaksi.

Di beberapa wilayah Indonesia yang jauh dari polusi cahaya, seperti pedesaan atau pegunungan, kondisi ini memberi peluang langka untuk menikmati langit malam terbaik.

21 Desember: Solstis, Malam Relatif Panjang di Indonesia

Tepat pada 21 Desember 2025, Bumi mengalami solstis Desember, yakni ketika Matahari berada pada titik terendah di langit. Di belahan Bumi utara, ini adalah malam terpanjang dalam setahun.

Meski Indonesia tidak mengalami musim dingin, solstis tetap berdampak pada durasi malam yang cenderung lebih panjang, sehingga waktu untuk pengamatan langit menjadi lebih luas.

21-22 Desember: Hujan Meteor Ursid

Rangkaian fenomena langit bulan Desember ditutup oleh Hujan Meteor Ursid pada 21-22 Desember 2025. Intensitasnya memang lebih rendah dibanding Geminid, sekitar 5-10 meteor per jam, namun tetap menarik karena terjadi tepat setelah fase Bulan Baru.

Dalam kondisi langit Indonesia yang cenderung cerah pada malam hari, Ursid dapat diamati mulai setelah tengah malam hingga menjelang fajar, dengan langit gelap sempurna.

Tips Mengamati Langit untuk Pemula

  • Biarkan mata beradaptasi dengan gelap selama 10-15 menit.
  • Pilih lokasi yang minim polusi cahaya dan jauh dari lampu kota.
  • Gunakan pakaian hangat bila berada di dataran tinggi.
  • Manfaatkan aplikasi seperti Stellarium Mobile, SkySafari, atau SkyView untuk mengenali bintang dan planet.

Sumber: Media Indonesia, NASA.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik