Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
STUDI mengungkapkan longsoran dan getaran mungkin akan mengubah asteroid Apophis saat mendekati Bumi pada 2029.
Dinamai berdasarkan Apep, dewa kekacauan Mesir kuno, Apophis adalah asteroid berbentuk kacang sepanjang 340 meter. Meskipun tabrakan dengan batu angkasa sebesar itu tidak akan menghancurkan planet, namun cukup untuk meratakan sebuah kota.
Saat Apophis ditemukan pada tahun 2004, para astronom menghitung asteroid ini akan melintas sangat dekat dengan Bumi pada tahun 2029. Pengamatan yang lebih rinci pada 2021 memungkinkan para ilmuwan menentukan jalur Apophis dengan lebih akurat, menunjukkan kemungkinan tabrakan dengan Bumi lebih kecil dari perkiraan awal.
Saat ini, Apophis diprediksi akan melintas sedekat 32.000 kilometer dari Bumi pada 13 April 2029, bahkan lebih dekat dibandingkan beberapa satelit buatan manusia.
Dengan jarak tersebut, Apophis mungkin tidak akan banyak memengaruhi Bumi pada 2029. Tetapi bagaimana nasib asteroid itu sendiri setelah pertemuan dekat ini?
Pertanyaan itu menarik perhatian Ronald-Louis Ballouz, seorang ilmuwan asteroid di Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory. Meteoroid kecil secara konstan menabrak permukaan asteroid dalam proses yang disebut pelapukan luar angkasa, kata Ballouz.
Namun, Ballouz menambahkan para astronom telah lama melihat asteroid yang melintas dekat dengan planet seperti Bumi sering kali memiliki permukaan yang tidak terlapuk.
Mekanisme fisik pasti yang menghilangkan tanda pelapukan ini belum sepenuhnya dipahami, kata Ballouz. Salah satu kemungkinan adalah gravitasi planet menarik bebatuan di permukaan asteroid, melemparkannya ke luar dan mengungkapkan lapisan di bawahnya.
Untuk menguji hipotesis ini, Ballouz dan sekelompok peneliti internasional membuat model komputasi dari Apophis. Sedikit fitur fisik dari asteroid ini yang diketahui, jadi para peneliti mendasarkan model mereka pada asteroid dua lobus serupa, Itokawa, yang telah dipelajari lebih mendetail. Mereka kemudian mensimulasikan pergerakan setiap model menuju Bumi, melacak perubahan fisik skala besar dan kecil.
Para peneliti menemukan bahwa dua proses fisik kemungkinan akan membentuk permukaan Apophis selama pertemuan pada 2029. Salah satunya adalah getaran yang mungkin dimulai satu jam sebelum Apophis mencapai titik terdekatnya dengan Bumi dan berlanjut sebentar setelahnya.
Kekuatan getaran sulit diperkirakan, kata Ballouz. Namun, "gravitasi Apophis sekitar 250.000 kali lebih kecil dari Bumi," tambahnya. "Jadi, kami berpikir bahwa peristiwa dengan magnitudo jauh lebih kecil mungkin dapat mengguncang permukaannya."
Ini berarti gempa mungkin cukup kuat untuk melontarkan batuan dari permukaan Apophis. Meskipun beberapa batu mungkin terlepas, sebagian besar akan jatuh kembali ke Apophis, menciptakan pola permukaan yang dapat diidentifikasi oleh pesawat ruang angkasa yang melintas.
Proses lain yang bisa "menyegarkan" permukaan Apophis adalah perubahan dalam rotasinya yang berputar tak teratur. Rotasi tidak teratur ini terjadi karena asteroid tidak berputar pada sumbu atau periode tetap, melainkan berputar seperti bola yang dilempar tidak sempurna.
Sebuah studi pada 2023 menunjukkan gravitasi Bumi akan menyebabkan asteroid ini berputar lebih cepat atau lebih lambat tergantung pada orientasinya selama pendekatan tahun 2029.
Simulasi baru mengonfirmasi temuan ini. Mereka juga mengungkapkan bahwa perubahan rotasi Apophis akan menyebabkan batuan di permukaannya menjadi tidak stabil, yang dalam kasus ekstrem dapat memicu longsoran. Berbeda dengan guncangan seismik, perubahan ini terjadi secara bertahap, selama puluhan ribu tahun.
Hasil ini tidak hanya memprediksi bagaimana nasib Apophis setelah pertemuan tahun 2029. Menurut Ballouz, "temuan ini memperkenalkan mekanisme baru untuk penyegaran permukaan asteroid yang dapat memberikan jawaban atas masalah puluhan tahun tentang bagaimana pertemuan dekat dengan planet dapat mengubah permukaan benda kecil."
Ballouz dan rekan-rekannya berharap misi OSIRIS-APEX NASA dapat mengonfirmasi hipotesis mereka. Diambil alih dari OSIRIS-REx — pesawat ruang angkasa yang mengumpulkan sampel dari asteroid Bennu — OSIRIS-APEX dijadwalkan mempelajari Apophis selama pertemuan tahun 2029. Pesawat ini akan bertemu dengan asteroid tersebut selama 18 bulan untuk mempelajari komposisi kimianya dan memetakan permukaannya. (Livescience/Space/Z-3)
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Tim riset Eropa kembangkan sistem tiga robot otonom untuk memetakan terowongan lava di Bulan dan Mars sebagai perlindungan alami bagi penjelajah manusia.
Ilmuwan gunakan AI 'AnomalyMatch' untuk menyisir 1.7 juta foto teleskop Hubble. Hasilnya, ditemukan ribuan anomali galaksi unik mirip ubur-ubur hingga hamburger.
Astronom berhasil mengungkap pemicu ledakan dahsyat di Matahari melalui misi Solar Orbiter. Ternyata, solar flare dipicu oleh rangkaian gangguan magnetik kecil.
Astronom memprediksi hujan meteor dahsyat di Venus pada Juli mendatang. Berasal dari pecahan asteroid misterius, mungkinkah terlihat dari Bumi?
Komet antarbintang 3I/ATLAS akan melintas paling dekat dengan Bumi pada 19 Desember. Meski aman, momen ini penting bagi ilmuwan untuk mempelajari materi pembentuk planet dari luar tata surya.
Tanah longsor menutup jalan dengan ketebalan 3 meter dan panjang 7 meter. Tim Gabungan TNI, Polri, BPBD, relawan, dan warga setempat melakukan evakuasi dan dibantu ekskavator.
INTENSITAS hujan tinggi yang terjadi sejak siang hingga malam menyebabkan kolam ikan longsor menimpa rumah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Hujan dengan intensitas lebat juga diduga menyebabkan tanah longsor menerjang Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Hujan berintensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, memicu banjir dan tanah longsor.
Sebagian keluarga besarnya juga turut menjadi korban dalam peristiwa memilukan tersebut.
Dengan tambahan tersebut, total kantung jenazah yang diterima hingga saat ini berjumlah 55 kantung. Dari jumlah itu, sebanyak 41 jenazah telah berhasil diidentifikasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved