Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Pada 5 November 2024, langit malam akan menyajikan pemandangan langka, yaitu konjungsi antara Bulan dan Venus yang tampak berdekatan dari sudut pandang Bumi. Momen ini dapat diamati langsung oleh para pengamat langit di Indonesia.
Berikut adalah tiga fakta menarik tentang peristiwa konjungsi ini:
Fase bulan baru terjadi pada 1 November 2024, tepatnya pukul 20:47 WIB. Pada fase ini, posisi Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, sehingga tidak terlihat dari Bumi.
Fenomena ini terjadi ketika Bulan dan Matahari memiliki bujur langit yang sama atau sejajar, yang juga disebut sebagai konjungsi.
Dalam kalender berbasis bulan, seperti kalender Islam dan Ibrani, fase bulan baru ini digunakan sebagai patokan awal bulan baru.
Saat fase bulan baru, Bulan biasanya tidak tampak karena sejajar dengan Matahari, kecuali saat terjadi gerhana matahari. Dalam tradisi kalender Islam, bulan baru dimulai ketika hilal (bulan sabit pertama) terlihat di langit senja.
Pada 1 November, Matahari terbenam sekitar pukul 17:45 WIB di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Langit mulai gelap sekitar pukul 18:15 WIB ketika Matahari berada enam derajat di bawah cakrawala (senja nautika).
Di waktu senja ini, Venus akan tampak rendah di arah barat daya, sekitar 12 derajat di atas cakrawala.
Untuk memudahkan perkiraan ketinggian Venus, Anda bisa mengangkat kepalan tangan dengan lengan lurus ke depan, di mana satu kepalan tangan mencakup sekitar 10 derajat.
Venus akan terlihat sekitar dua lebar jari di atas kepalan tangan Anda, menjadikannya "bintang" pertama yang bersinar di langit malam.
Di wilayah Indonesia, Venus akan terbenam sekitar pukul 19:45 WIB.
Konjungsi adalah fenomena pertemuan semu antara dua atau lebih objek di langit, yang membuat objek-objek tersebut tampak seperti saling berdekatan jika diamati dari Bumi.
Fenomena ini dapat dinikmati dengan mata telanjang, dan pada 5 November 2024, konjungsi antara Bulan dan Venus akan terlihat di langit Indonesia.
Saat peristiwa ini terjadi, Bulan dan Venus tampak berada di konstelasi Ophiuchus, yang terletak di antara konstelasi Scorpio dan Sagitarius.
Dilansir dari In-The-Sky, konjungsi ini dapat diamati di ufuk barat daya Indonesia mulai pukul 17:59 WIB, tepat setelah Matahari terbenam.
Pada saat itu, Bulan berada dalam fase sabit yang menawan dengan usia 4 hari, sementara Venus akan tampak sebagai “bintang” yang paling terang di langit malam, bersinar dengan rona merah khasnya.
Berikut adalah beberapa kiat yang dapat membantu Anda mendapatkan pengalaman pengamatan yang optimal:
Sebelum mengamati fenomena ini, pastikan Anda memeriksa prakiraan cuaca untuk memastikan langit cerah tanpa awan atau hujan. Langit yang bersih akan membuat Bulan sabit dan Venus terlihat jelas tanpa gangguan.
Usahakan memilih lokasi yang jauh dari cahaya perkotaan yang berlebihan. Polusi cahaya dari lampu kota dapat mengurangi visibilitas bintang dan planet. Tempat-tempat yang jauh dari perkotaan atau di daerah yang lebih tinggi biasanya memberikan pemandangan langit yang lebih jernih.
Menggunakan aplikasi peta bintang atau planetarium digital dapat membantu Anda menemukan posisi Bulan dan Venus dengan mudah. Aplikasi ini akan memberi Anda panduan tentang lokasi konstelasi Ophiuchus, tempat kedua objek tersebut akan terlihat berdekatan.
Jika Anda ingin mengabadikan momen konjungsi ini, siapkan kamera dengan tripod agar hasilnya stabil. Mengambil foto Bulan sabit yang bersinar dan Venus yang terang dapat menjadi kenangan indah dari fenomena langit ini.
Fenomena ini menawarkan kesempatan bagi para pengamat langit untuk menikmati pemandangan unik konjungsi kosmik antara Bulan sabit dan Venus yang terang di malam hari. Jangan lewatkan momen ini untuk melihat keindahan alam semesta! (Z-10)
Sumber:
Dalam proses memasuki atmosfer, permukaan perisai panas akan mengalami pembakaran dan pengikisan yang disebut sebagai ablasi. Fenomena ini membantu melindungi wahana dari panas ekstrem.
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena parade planet akan menghadirkan enam planet di langit malam pada akhir Februari.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Para ilmuwan meyakini bahwa Venus akan segera melintasi aliran puing-puing kosmik yang sangat padat, menciptakan pertunjukan cahaya yang luar biasa di atmosfer tebal planet tersebut.
Selama puluhan tahun, buku pelajaran dan pengetahuan populer membuat kita yakin bahwa Venus adalah planet terdekat dengan Bumi.
Ilmuwan Tiongkok menemukan waktu paling aman bagi manusia untuk beraktivitas di Bulan. Dengan suhu ekstrem dan radiasi tinggi, pemilihan waktu jadi kunci bertahan hidup.
Anda tidak memerlukan alat bantu seperti teleskop untuk melihat Pink Moon karena ukurannya yang besar dan cahayanya yang sangat terang.
Amerika Serikat berkomitmen membangun pangkalan permanen di kutub selatan Bulan dengan investasi sebesar US$20 miliar (sekitar Rp338 triliun) selama tujuh tahun ke depan.
NASA resmi mengumumkan rencana ambisius untuk melakukan setidaknya satu kali pendaratan di Bulan setiap tahun, yang akan dimulai pada 2027.
Ilmuwan temukan potensi kacang arab sebagai sumber pangan masa depan utama di Bulan. Cek hasil penelitian NASA terkait ketahanan legum di tanah ekstrem luar angkasa.
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan peluang bagi Indonesia untuk terlibat dalam kolaborasi misi observatorium astronomi di bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved