Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 23 Mei 2025, langit pagi akan menampilkan fenomena astronomi menarik berupa konjungsi Bulan dan Saturnus, yang juga disertai dengan kehadiran Venus di dekatnya. Fenomena ini akan terlihat sebelum matahari terbit di arah timur, menjadi suguhan indah bagi para pengamat langit dini hari.
Konjungsi adalah peristiwa ketika dua benda langit tampak sangat berdekatan di langit dari sudut pandang pengamat di Bumi. Pada 23 Mei 2025, Bulan sabit tipis akan tampak sangat dekat dengan planet Saturnus, dengan jarak sudut sekitar 2°49' pada tanggal 22 Mei dan berlanjut hingga 23 Mei saat Bulan juga berdekatan dengan Venus.
Dave Eicher dari Astronomy Magazine menyarankan, “Sekitar pukul 4 pagi waktu setempat, jika Anda keluar dan menghadap ke timur, Anda akan melihat Bulan sabit yang tipis, Saturnus yang redup, dan Venus yang paling terang berdampingan di cakrawala.”
Saturnus, planet gas raksasa yang terkenal dengan cincinnya, akan tampak redup karena cincin-cincinnya hampir sejajar sisi pandang kita, sehingga memantulkan cahaya lebih sedikit ke Bumi. Venus, yang dikenal sebagai bintang pagi paling terang, akan menjadi objek paling mencolok dalam formasi ini.
Konjungsi Bulan, Saturnus, dan Venus terjadi dini hari 23 Mei 2025, sekitar pukul 3–5 pagi sebelum matahari terbit, di arah timur. Pilih lokasi terbuka tanpa halangan seperti gedung atau pepohonan untuk pandangan jelas.
Fenomena ini bisa dilihat dengan mata telanjang, namun teropong atau binocular dengan bidang pandang lebar disarankan untuk melihat detail seperti cincin Saturnus dan fase Bulan sabit. Kenakan pakaian hangat karena suhu pagi bisa dingin.
Abadikan momen dengan kamera atau smartphone yang dipasang tripod agar gambar stabil. Gunakan aplikasi planetarium seperti Sky Tonight atau Star Walk 2 untuk membantu identifikasi posisi objek. Meski waktu puncak konjungsi singkat, objek tetap dekat selama beberapa jam sehingga pengamatan sebelum dan sesudahnya tetap menarik.
Jangan lupa cek prakiraan cuaca agar tidak terhalang awan. (Time and Date/Celestron/When the Curves Line Up/Z-2)
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena parade planet akan menghadirkan enam planet di langit malam pada akhir Februari.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Para ilmuwan meyakini bahwa Venus akan segera melintasi aliran puing-puing kosmik yang sangat padat, menciptakan pertunjukan cahaya yang luar biasa di atmosfer tebal planet tersebut.
Selama puluhan tahun, buku pelajaran dan pengetahuan populer membuat kita yakin bahwa Venus adalah planet terdekat dengan Bumi.
Selama bertahun-tahun, Venus dikenal sebagai planet yang paling mirip dengan Bumi.
Ilmuwan temukan potensi kacang arab sebagai sumber pangan masa depan utama di Bulan. Cek hasil penelitian NASA terkait ketahanan legum di tanah ekstrem luar angkasa.
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan peluang bagi Indonesia untuk terlibat dalam kolaborasi misi observatorium astronomi di bulan.
Tiongkok melirik kawasan Rimae Bode sebagai lokasi pendaratan misi berawak pertamanya ke Bulan. Wilayah ini disebut menyimpan 'emas ilmiah' dari inti Bulan.
Terobosan baru NASA Artemis! Peneliti gunakan laser 3D printing untuk menyulap debu regolith menjadi bangunan kokoh di Bulan.
BMKG memastikan akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT) pada Selasa, 3 Maret 2026. Fenomena alam ini dapat diamati secara langsung dari berbagai wilayah di Indonesia.
Berbeda dengan Bumi yang memiliki lempeng tektonik yang saling bertabrakan atau menjauh, Bulan hanya memiliki satu kerak yang utuh dan berkesinambungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved