Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
PARA ilmuwan dari Brasil, Prancis, dan Italia memperingatkan keberadaan tiga asteroid besar yang tersembunyi di orbit Venus dan berpotensi menghancurkan kota-kota di Bumi jika terjadi tumbukan. Asteroid-asteroid ini, yang dikenal sebagai “Venus co-orbitals,” memiliki diameter antara 100 hingga 400 meter dan sulit dideteksi karena posisinya yang tersembunyi di balik silau Matahari dari perspektif Bumi.
Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics, ketiga asteroid yang dinamai 2020 SB, 524522, dan 2020 CL1 ini bergerak dalam orbit yang tidak stabil dan dapat berubah arah akibat gangguan gravitasi dari planet lain atau asteroid lain. Sedikit perubahan pada jalur asteroid bisa membuatnya bergerak menuju Bumi. Hal ini berpotensi menempatkannya pada lintasan tabrakan dengan planet kita.
“Orbit mereka sinkron dengan Venus, tapi itu tidak melindungi Bumi. Objek-objek ini masih bisa melintasi jalur Bumi dan berpotensi bertabrakan,” jelas Valerio Carruba, peneliti dari Universitas São Paulo.
Yang menjadi perhatian khusus adalah Jarak Persimpangan Orbital Minimal (MOID) mereka — jarak terpendek antara orbit mereka dan Bumi — yang sangat kecil, kurang dari 0,0005 unit astronomi. Itu bahkan lebih dekat dari Bulan.
Ukuran asteroid ini cukup besar untuk menimbulkan kehancuran besar. Jika menabrak Bumi, energi yang dilepaskan bisa mencapai lebih dari satu juta kali ledakan bom atom Hiroshima, menciptakan kawah selebar lebih dari 3 kilometer, serta memicu kebakaran besar dan tsunami dahsyat yang dapat meluluhlantakkan wilayah luas.
Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan waktu deteksi. Observatorium Rubin di Chile, yang menjadi harapan utama untuk pengawasan asteroid, mungkin hanya mampu memberikan peringatan dua hingga empat minggu sebelum dampak. Waktu singkat ini sangat membatasi persiapan mitigasi dan respons darurat.
Para ilmuwan menekankan pentingnya misi luar angkasa khusus yang mengorbit Venus. Misi ini dibutuhkan untuk mengamati asteroid-asteroid tersembunyi yang sulit terdeteksi dari Bumi. Hal ini disebabkan oleh posisi asteroid yang kerap tertutup sinar Matahari, sehingga pengamatan dari Bumi menjadi sangat terbatas. (The Economic Times/New York Post/Business Today/Z-2)
Penelitian ini memberikan pandangan yang lebih lengkap mengenai pembentukan tata surya kita 4,5 miliar tahun yang lalu, yang tidak bisa didapatkan hanya dari meteorit yang jatuh ke Bumi.
Studi terbaru menemukan asteroid tipe M dan K, meski berbeda komposisi, memiliki lapisan debu troilite yang sama.
Sebuah bola api seukuran tomat ceri yang menghantam atap rumah di kawasan metro Atlanta, Juni lalu, ternyata berasal dari meteorit berusia 20 juta tahun lebih tua daripada Bumi.
Penelitian terbaru dalam dunia astronomi mengungkapkan fakta mengejutkan: Bumi pernah memiliki hingga enam “bulan mini” sekaligus.
Sekitar 48,5 ton (44.000 kilogram) reruntuhan puing-puing dari pembentukan sistem tata surya kita menabrak atmosfer Bumi
Analisis awal terhadap sampel asteroid Bennu yang dikumpulkan oleh misi OSIRIS-REx NASA mengungkapkan keberadaan mineral fosfat magnesium-natrium, yang belum pernah terdeteksi
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved