Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 25 September 2024, langit malam akan memberikan pemandangan yang menakjubkan bagi para pengamat bintang ketika Bulan dan Mars mengalami konjungsi.
Konjungsi ini adalah peristiwa ketika dua benda langit terlihat sangat dekat satu sama lain dari sudut pandang Bumi, meskipun jarak sebenarnya antara keduanya sangat jauh.
Baca juga : Amerika Serikat Minta NASA Ciptakan Standar Waktu Bulan, Apa Tujuannya?
Mari kita telusuri tiga fakta menarik mengenai fenomena astronomi ini.
Konjungsi Bulan dan Mars akan menghasilkan pemandangan yang spektakuler. Pada malam itu, Mars, yang dikenal sebagai "Planet Merah," akan terlihat bersebelahan dengan Bulan yang bercahaya.
Dalam kondisi langit yang cerah dan bebas awan, para pengamat dapat dengan jelas melihat kedua benda langit ini dalam satu bingkai pandangan.
Baca juga : Ini Teori Baru Soal Asal-usul Bulan
Fenomena ini sering menarik perhatian baik astronom amatir maupun profesional, yang berusaha memanfaatkan momen ini untuk mengamati serta merekam gambar langit.
Keindahan visual dari konjungsi ini tak hanya membuat para pengamat terpesona, tetapi juga memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk belajar lebih banyak tentang astronomi.
Banyak observatorium dan komunitas astronomi lokal sering mengadakan acara pengamatan umum untuk mengedukasi masyarakat tentang peristiwa ini, menjadikan momen konjungsi sebagai kesempatan untuk berbagi pengetahuan.
Baca juga : Isi Tata Surya dan Pengelompokan Planet
Lebih dari sekadar keindahan visual, konjungsi Bulan dan Mars memiliki dampak signifikan dalam dunia penelitian astronomi. Posisi dan pergerakan Bulan serta Mars selama konjungsi memberikan informasi berharga tentang interaksi gravitasi antar benda langit.
Para astronom menggunakan data dari peristiwa seperti ini untuk memahami lebih dalam tentang dinamika sistem tata surya kita.
Salah satu area penelitian yang terdampak oleh konjungsi ini adalah studi atmosfer Mars.
Baca juga : Jangan Lewatkan Fenomena Strawberry Moon Besok Malam!
Dengan mengamati bagaimana cahaya Bulan berinteraksi dengan atmosfer Mars saat keduanya tampak berdekatan, para ilmuwan dapat mendapatkan wawasan baru tentang komposisi dan kondisi atmosfer planet tersebut.
Ini menjadi penting, terutama dalam konteks misi eksplorasi Mars yang terus berlangsung.
Di berbagai budaya di seluruh dunia, konjungsi Bulan dan Mars tidak hanya dilihat sebagai fenomena astronomi, tetapi juga memiliki makna yang mendalam.
Banyak tradisi mengaitkan konjungsi ini dengan pertanda baik, harapan, dan refleksi.
Dalam beberapa masyarakat, momen ini dipandang sebagai saat yang tepat untuk merenung, merencanakan masa depan, atau bahkan mengadakan ritual tertentu.
Selain itu, konjungsi ini sering menjadi ajang berkumpul bagi keluarga dan teman-teman.
Aktivitas mengamati langit tidak hanya membawa keajaiban alam semesta lebih dekat, tetapi juga memperkuat ikatan sosial.
Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital, momen seperti ini memberikan kesempatan untuk menjauh dari layar dan menikmati keindahan yang ditawarkan oleh alam
Konjungsi Bulan dan Mars pada 25 September 2024 adalah lebih dari sekadar peristiwa astronomi; ini adalah peluang untuk merasakan keajaiban alam dan membangun hubungan antarmanusia.
Dengan memahami kedekatan visual yang menawan, dampak ilmiah dari konjungsi ini, dan makna budaya yang menyertainya, kita dapat merayakan momen ini dengan cara yang lebih bermakna.
Mari kita siapkan teleskop dan nikmati pemandangan langit malam yang indah, sambil meresapi keajaiban alam semesta yang tak terbatas. (Z-10)
Kilatan cahaya singkat yang muncul di sisi gelap Bulan pada Desember 2025 bukan hanya peristiwa astronomi biasa.
Selama lebih dari satu dekade, Bulan terbesar milik planet Saturnus, Titan dikenal sebagai salah satu kandidat terkuat tempat adanya kehidupan di luar Bumi.
Sebagian partikel atmosfer Bumi ternyata “bocor” dan berpindah ke permukaan Bulan. Proses ini diduga telah berlangsung selama miliaran tahun.
Pusat ini dibangun berdasarkan pengalaman JPL selama lebih dari 30 tahun dalam mengembangkan dan mengoperasikan misi permukaan Mars
Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa Bulan bergerak menjauhi Bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun, kira-kira secepat kuku manusia tumbuh.
Fenomena supermoon kembali menyapa di penghujung tahun.
Waktu di planet Mars berjalan sedikit lebih cepat dibandingkan Bumi akibat perbedaan gravitasi dan lintasan orbit. Apa dampaknya bagi manusia, teknologi, dan misi antariksa?
Mars memiliki gravitasi yang jauh lebih lemah dibandingkan Bumi, sekitar lima kali lebih kecil. Selain itu, Mars juga berada lebih jauh dari Matahari
Eksplorasi Mars terancam kontaminasi mikroorganisme Bumi. Ilmuwan menemukan bakteri dan organisme tangguh yang mampu bertahan di luar angkasa.
Mars tidak hanya berbeda dengan Bumi dari segi warna dan jaraknya saja, tetapi juga dari cara waktunya berjalan
Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) milik NASA baru saja mencatat tonggak sejarah dengan menangkap 100.000 foto permukaan Mars melalui kamera canggih HiRISE.
Ilmuwan berhasil memetakan sistem drainase kuno berskala benua di Mars untuk pertama kalinya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved