Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
NATIONAL Aeronautics and Space Administration (NASA) berhasil merekam letusan plasma gelap di matahari. Apa itu letusan plasma gelap? Dan apakah hal itu berbahaya bagi kehidupan di bumi? Tulisan ini akan menjeleskannya, simak penjelsannya di bawah ini.
Letusan plasma gelap adalah fenomena di mana material matahari, yang disebut plasma, dipancarkan dari permukaan matahari dalam jumlah besar.
Plasma ini terdiri dari partikel-partikel bermuatan seperti proton dan elektron.
Baca juga : Fenomena Equinox Kembali Terjadi di Indonesia 21 Maret 2024, Apa Penyebabnya?
Letusan ini sering terjadi dalam bentuk prominensa atau filamen yang tampak gelap karena mereka lebih dingin dan kurang terang dibandingkan dengan area di sekitarnya di matahari.
Menurut laporan dari IFL Science, letusan tersebut memiliki kemungkinan 60 persen untuk mematikan gelombang radio dan mengganggu sistem komunikasi penerbangan serta satelit minggu ini.
Suar matahari dingin dengan suhu sekitar 19.982 derajat Celsius hanya sekitar seperempat suhu suar matahari panas yang biasanya terjadi.
Baca juga : Studi Evolusi Bintang, Apa Itu Nebula Boomerang?
Kemarin, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengeluarkan peringatan bahwa denyut plasma gelap bisa menyebabkan fluktuasi pada jaringan listrik.
Suar tersebut berpotensi mengganggu gelombang radio, komunikasi penerbangan, dan operasi satelit, setidaknya pada Jumat ini.
Video dari NASA Solar Dynamics Observatory menunjukkan awan gelap plasma dingin yang meletus dari matahari, menciptakan tampilan seperti asap hitam ketika plasma yang lebih dingin dari rata-rata menyembur ke arah utara melintasi permukaan matahari.
NOAA menyebutkan ada kemungkinan 60 persen terjadi suar matahari tingkat sedang atau kelas M dalam 24 jam ke depan. Laporan tersebut juga mengungkapkan ada risiko sebesar 15% terjadinya suar matahari kelas X yang lebih ekstrem yang dapat menyebabkan pemadaman gelombang radio di seluruh dunia. (Nasa/Z-10)
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin sempurna kali ini tidak melewati wilayah Indonesia dan hanya melintasi wilayah terpencil di Antartika.
Geminid dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lebih lambat dan terkadang berwarna-warni. Fenomena ini dapat dinikmati dengan baik oleh pengamat di wilayah Asia Tenggara
Fenomena-fenomena ini dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Hujan meteor Geminid akan mencapai puncaknya pada malam 13-14 Desember 2025 (Sabtu-Minggu). Fenomena astronomi tahunan ini bisa disaksikan dari berbagai belahan duni
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Matahari meletuskan ledakan X-Class dan CME raksasa melaju ke Bumi. Badai geomagnetik kuat berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan.
Fenomena pertama gerhana matahari cincin dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved