Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, ekor panjang selalu dikaitkan dengan komet yang melesat di tata surya. Namun fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai ekor raksasa di luar angkasa.
Meski tak bisa dilihat dengan mata telanjang, struktur ini membentang hingga jutaan kilometer menjauhi Matahari.
Mengutip laporan dari NASA, ekor Bumi bukanlah kumpulan debu atau es seperti pada komet. Fenomena ini tersusun dari partikel bermuatan dan energi yang terus berinteraksi dengan medan magnet Bumi, menciptakan struktur kosmik yang sangat dinamis.
Dalam istilah ilmiah, ekor ini disebut geotail. Ia merupakan bagian dari magnetosfer, perisai magnetik tak kasat mata yang melindungi Bumi dari gempuran angin Matahari.
Angin Matahari sendiri adalah aliran partikel bermuatan yang dilepaskan Matahari dengan kecepatan sangat tinggi. Saat aliran ini menghantam medan magnet Bumi, tekanan tersebut membuat magnetosfer memanjang ke sisi belakang planet, membentuk struktur mirip ekor komet. Panjang geotail bahkan diperkirakan melampaui orbit Bulan.
Medan magnet Bumi bekerja seperti tameng raksasa. Ketika angin Matahari menekan sisi depan Bumi, medan magnet akan terkompresi. Sebaliknya, di sisi belakang, energi tersebut tertarik dan memanjang, membentuk ekor magnetik yang sangat panjang.
Geotail terdiri dari dua lapisan medan magnet dengan arah berlawanan, serta satu wilayah pusat yang kaya plasma, gas panas bermuatan listrik. Fenomena serupa juga ditemukan pada planet lain seperti Jupiter dan Saturnus, namun geotail Bumi memiliki peran vital bagi kelangsungan hidup.
Keberadaan geotail bukan sekadar keunikan kosmik. Struktur ini berfungsi sebagai pengatur dan pengalih energi Matahari, sehingga partikel berbahaya tidak langsung menghantam atmosfer Bumi.
Tanpa sistem magnetik ini, angin Matahari berpotensi merusak atmosfer, mengganggu satelit dan jaringan komunikasi, bahkan membahayakan makhluk hidup di permukaan planet.
Energi yang tersimpan di geotail tidak selalu diam. Dalam kondisi tertentu, energi tersebut dilepaskan kembali ke arah Bumi. Ketika partikel bermuatan memasuki atmosfer di wilayah kutub, muncullah aurora borealis dan aurora australis yang memukau.
Namun jika pelepasan energinya terlalu besar, dapat terjadi badai geomagnetik yang berisiko mengganggu sistem navigasi, jaringan listrik, dan teknologi berbasis satelit.
Sebenarnya, ilmuwan telah lama mengetahui keberadaan geotail. Namun, perhatian publik meningkat seiring kemajuan misi antariksa dan teknologi observasi modern. Wahana luar angkasa kini memungkinkan para peneliti memetakan struktur ekor Bumi dengan lebih detail dan memahami dinamika energinya.
Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa Bumi bukanlah planet pasif, melainkan terus berinteraksi dengan lingkungan kosmik yang ekstrem. Meski tak bercahaya di langit malam, “ekor” Bumi menjadi bukti bahwa sistem pelindung alami planet ini sangat kompleks, dan mungkin menjadi alasan utama mengapa kehidupan bisa terus bertahan.
Tanpa magnetosfer dan geotail, Bumi mungkin tidak akan pernah menjadi rumah yang aman bagi kehidupan seperti sekarang. (NASA/Z-10)
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
Sempat diprediksi akan menghiasi langit malam tahun 2020, Komet C/2019 Y4 ATLAS justru hancur berkeping-keping. Kini, astronom menemukan bukti baru sisa fragmennya.
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA kembali menghadirkan temuan penting dalam dunia astronomi.
Wahana Voyager NASA mengungkap wilayah ekstrem di heliopause, batas Tata Surya dengan ruang antarbintang, dengan suhu mencapai 50.000 kelvin.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fenomena ini berpotensi memicu keruntuhan gravotermal, yaitu kondisi ketika inti halo terus memadat akibat aliran energi ke luar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved