Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MATAHARI kembali menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan setelah melepaskan semburan energi kuat yang dikenal sebagai flare kelas X4.2 pada awal Februari 2026. Peristiwa ini terpantau oleh sejumlah observatorium antariksa dan menjadi perhatian para ilmuwan dari NASA serta Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) karena potensinya memengaruhi kondisi cuaca antariksa di sekitar Bumi.
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari. Berdasarkan sistem klasifikasi, flare dibagi menjadi kelas A, B, C, M, dan X, dengan kelas X sebagai yang paling kuat. Angka 4.2 menunjukkan intensitas flare tersebut berada 4,2 kali di atas ambang dasar kelas X. Flare dengan kekuatan ini mampu memancarkan sinar-X dan radiasi ultraviolet dalam jumlah besar ke ruang angkasa.
Menurut NASA, flare X4.2 ini berasal dari wilayah aktif Matahari yang memiliki struktur medan magnet kompleks. Wilayah tersebut sebelumnya telah menghasilkan beberapa flare kelas menengah hingga kuat, menandakan fase aktif dari siklus Matahari yang sedang berlangsung. Siklus Matahari sendiri berlangsung sekitar 11 tahun dan ditandai dengan naik turunnya aktivitas seperti bintik Matahari, flare, serta lontaran massa korona.
NOAA menjelaskan bahwa dampak langsung flare seperti ini dapat dirasakan di Bumi dalam hitungan menit. Radiasi elektromagnetik bergerak dengan kecepatan cahaya dan dapat meningkatkan ionisasi di lapisan ionosfer. Kondisi ini berpotensi menyebabkan gangguan komunikasi radio gelombang pendek, terutama di wilayah Bumi yang sedang mengalami siang hari saat flare terjadi. Sistem navigasi berbasis satelit juga dapat terdampak sementara.
Meski demikian, para ilmuwan mencatat bahwa flare X4.2 ini tidak disertai indikasi kuat terjadinya lontaran massa korona besar yang mengarah langsung ke Bumi. Lontaran massa korona atau coronal mass ejection merupakan faktor utama yang dapat memicu badai geomagnetik serius. Tanpa adanya lontaran tersebut, risiko gangguan besar pada jaringan listrik dan satelit dinilai relatif rendah.
NASA dan NOAA terus memantau Matahari menggunakan instrumen seperti Solar Dynamics Observatory dan satelit pemantau cuaca antariksa lainnya. Pemantauan ini penting untuk memahami dinamika aktivitas Matahari sekaligus memberikan peringatan dini jika terjadi peristiwa yang berpotensi berdampak besar bagi teknologi dan aktivitas manusia di Bumi.
Sumber: NASA Solar Dynamics Observatory, NASA Science - Solar Cycle, NOAA Space Weather Prediction Center
Temuan terbaru mengenai ukuran Jupiter ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Senin (2/2). Jurnal ini sekaligus disebut sebagai salah satu hasil penting
Meskipun peluang tersebut sempat mencapai 3,1%, perkiraan lintasan yang lebih rinci akhirnya meniadakan kemungkinan tabrakan dengan Bumi saat ia melintas dekat pada 22 Desember 2032.
Awak Ekspedisi 74 di ISS fokus pada studi CIPHER untuk kesehatan jangka panjang astronaut serta peluncuran CubeSat karya pelajar dari lima negara.
Mars berada pada jarak rata-rata sekitar 140 juta mil atau 225 juta kilometer dari Bumi. Jarak tersebut menyebabkan keterlambatan komunikasi, sehingga pengendalian rover secara langsung
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved