Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pecinta kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bertaruh bahwa teknologi ini akan membantu memecahkan masalah terbesar umat manusia, mulai dari perang hingga pemanasan global. Namun dalam praktiknya, ambisi tersebut mungkin tidak realistis untuk saat ini.
"Ini bukan tentang menanyakan AI, 'Hei, ini masalah yang sulit. Apa yang akan kamu lakukan?' dan AI seperti, 'Anda perlu merestrukturisasi bagian perekonomian ini sepenuhnya'," kata Michael Littman, profesor ilmu komputer di Brown University.
Littman menghadiri festival seni dan teknologi South By Southwest (atau SXSW) di Austin, Texas, dan dia baru saja berbicara di salah satu panel tentang potensi manfaat AI. "Ini hanya mimpi belaka. Ini sedikit fiksi ilmiah. Kebanyakan orang mencoba menggunakan AI untuk mengatasi masalah spesifik yang sudah mereka selesaikan, tetapi hanya ingin menjadi lebih efisien."
Baca juga : Elon Musk Gugat OpenAI karena Dituding Khianati Misi Pendirian
"Bukan hanya tinggal pencet tombol ini dan semua sudah beres," ujarnya. Dengan judul-judul yang menjanjikan seperti Cara Membuat AGI Bermanfaat dan Menghindari Kiamat Robot, kehadiran raksasa teknologi, panel-panel tersebut menarik banyak orang. Namun acara itu sering kali memiliki tujuan yang lebih pragmatis, seperti mempromosikan produk.
Pada salah satu pertemuan bertajuk Di Dalam Revolusi AI: Bagaimana AI Memberdayakan Dunia untuk Mencapai Lebih Banyak, seorang eksekutif Microsoft, Simi Olabisi, memuji manfaat teknologi ini pada Azure, layanan cloud perusahaan. Saat menggunakan fitur bahasa AI Azure di pusat panggilan, "Mungkin ketika pelanggan menelepon, mereka marah, dan ketika mereka mengakhiri panggilan, mereka sangat menghargai. Bahasa Azure AI benar-benar dapat menangkap sentimen itu dan memberi tahu bisnis tentang pelanggan mereka rasakan," jelasnya.
Gagasan kecerdasan buatan, dengan algoritmanya yang mampu mengotomatisasi tugas dan menganalisis tumpukan data, telah ada selama beberapa dekade. Namun hal ini mengambil dimensi yang benar-benar baru tahun lalu dengan kesuksesan ChatGPT, antarmuka AI generatif yang diluncurkan oleh OpenAI, perusahaan rintisan AI yang kini menjadi ikon dan sebagian besar didanai oleh Microsoft.
Baca juga : Sam Altman kembali sebagai CEO OpenAI setelah Dipecat
OpenAI mengklaim ingin membangun kecerdasan umum buatan atau AGI. Ini akan, "Lebih pintar dari manusia pada umumnya," dan akan, "Meninggikan kemanusiaan," sesumbar CEO Sam Altman.
Etos tersebut sangat terasa di SXSW dengan pembicaraan tentang kapan AGI akan menjadi kenyataan, bukan jika. Ben Goertzel, ilmuwan yang mengepalai SingularityNET Foundation dan AGI Society, memperkirakan munculnya AI umum pada 2029.
"Setelah Anda memiliki mesin yang bisa berpikir sebaik manusia pintar, Anda hanya perlu beberapa tahun lagi untuk bisa berpikir seribu atau sejuta kali lebih baik daripada manusia pintar, karena AI ini bisa memodifikasi kode sumbernya sendiri," kata Goertzel.
Baca juga : 8 Fakta dan Cara Kerja Google Bard, Saingannya ChatGPT
Mengenakan topi koboi bulu imitasi bermotif macan tutul, ia menganjurkan pengembangan AGI yang memiliki belas kasih dan empati dan diintegrasikan ke dalam robot yang mirip dengan kita. Ini untuk memastikan bahwa AI super ini dapat berhubungan baik dengan umat manusia.
Pendiri Hanson Robotics dan yang merancang Desdemona, robot humanoid yang berfungsi dengan AI generatif, David Hanson bertukar pikiran tentang kelebihan dan kekurangan AI dengan kekuatan super. "Gangguan positif yang ditimbulkan oleh AI dapat membantu memecahkan masalah berkelanjutan global, meskipun orang-orang mungkin hanya akan menciptakan algoritma perdagangan keuangan yang benar-benar efektif," katanya.
Hanson khawatir akan gejolak yang disebabkan oleh AI. Namun ia menekankan bahwa manusia telah melakukan pekerjaan besar lain dengan senjata nuklir dan menyebabkan peristiwa kepunahan massal tercepat dalam sejarah umat manusia. Namun, "AI mungkin saja memiliki benih kebijaksanaan yang berkembang dan tumbuh menjadi bentuk kebijaksanaan baru yang dapat membantu kita menjadi lebih baik," ujarnya.
Baca juga : OpenAI Tolak Tuduhan Pengkhianatan Misi Awal oleh Elon Musk
Pada awalnya, AI harus mempercepat desain atau bahan baru yang lebih berkelanjutan, kata para penganut AI. Bahkan jika, "Kita belum sampai di sana, di dunia mimpi, AI dapat menangani kompleksitas dan keacakan dunia nyata, dan menemukan materi yang benar-benar baru yang memungkinkan kita melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh kita mungkin terjadi," kata Roxanne Tully, investor di Piva Capital.
Saat ini, AI telah membuktikan kemampuannya dalam sistem peringatan tornado dan kebakaran hutan, misalnya. "Namun kita masih perlu mengevakuasi masyarakat atau membuat masyarakat setuju untuk memvaksinasi diri mereka sendiri jika terjadi pandemi," tegas Rayid Ghani dari Universitas Carnegie Mellon dalam panel bertajuk Dapatkah AI Memecahkan Pandemi Cuaca Ekstrem?
"Kami menciptakan masalah ini. Ketimpangan tidak disebabkan oleh AI, melainkan disebabkan oleh manusia dan saya pikir AI dapat membantu sedikit. Namun hanya jika manusia memutuskan ingin menggunakannya untuk mengatasi masalah ini," kata Ghani. (AFP/Z-2)
Berlatar tahun 2029, MERCY mengisahkan Detektif Los Angeles bernama Chris Raven yang terbangun dalam sebuah kursi persidangan berteknologi tinggi bernama Mercy Chair.
Ashley St. Clair, ibu dari anak Elon Musk, menggugat xAI setelah chatbot Grok diduga menghasilkan citra seksual eksplisit dirinya tanpa izin.
Fitur AI Google Photos kini mampu menghapus objek, mengedit foto dengan teks, dan mengganti latar, menjadikannya alternatif Photoshop yang praktis.
Teknologi AI baru bernama CytoDiffusion mampu mendeteksi tanda halus leukemia pada sel darah dengan akurasi tinggi, bahkan melampaui kemampuan dokter spesialis.
Kesadaran akan pentingnya kesiapan data mulai muncul di seluruh spektrum perusahaan, baik skala besar maupun menengah.
Model tersebut berguna bagi investor sebagai alat bantu dalam investasi kuantitatif, dan akademisi dapat menggunakan hasilnya untuk menguji serta menyempurnakan teori.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Rabu (21/1) bahwa beberapa wilayah di Eropa tidak lagi dapat dikenali. Benua itu disebutnya tidak menuju ke jalan yang benar.
PERDANA Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani mengatakan di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos bahwa Dewan Perdamaian Gaza menawarkan jalan keluar.
ANGKATAN Bersenjata Kanada membuat model untuk mempersiapkan kemungkinan invasi Amerika Serikat (AS) setelah Donald Trump mengatakan ingin mencaplok wilayahnya.
Menurutnya, sektor-sektor yang paling terdampak aksi jual bersih (net sell) yaitu yang sensitif terhadap siklus ekonomi seperti perbankan, properti, dan konsumer.
Amerika Serikat mewajibkan calon tentara setidaknya memiliki kartu izin tinggal permanen (Green Card) atau telah menjadi warga negara AS (US Citizen).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Andini merupakan perempuan kelahiran Indonesia yang memutuskan untuk meniti karier di Amerika Serikat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved