Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Mars tidak hanya berbeda dengan Bumi dari segi warna dan jaraknya saja, tetapi juga dari cara waktunya berjalan
Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) milik NASA baru saja mencatat tonggak sejarah dengan menangkap 100.000 foto permukaan Mars melalui kamera canggih HiRISE.
Ilmuwan berhasil memetakan sistem drainase kuno berskala benua di Mars untuk pertama kalinya.
Pusat ini dibangun berdasarkan pengalaman JPL selama lebih dari 30 tahun dalam mengembangkan dan mengoperasikan misi permukaan Mars
NASA merilis video dan audio pertama yang merekam percikan listrik dalam badai debu di Mars.
Temuan dari rover Perseverance milik NASA membuka kemungkinan bahwa miliaran tahun lalu, Mars justru memiliki iklim yang hangat, lembap, dan mungkin mirip daerah tropis di Bumi.
Batu itu belakangan dikonfirmasi sebagai kaolinit, jenis mineral kaya aluminium yang pada umumnya terbentuk melalui proses pelapukan panjang di tempat yang hangat dan sangat lembap
Lebih dari lima tahun menjalankan misinya, penjelajah Mars Perseverance milik NASA masih berjalan perlahan di permukaan planet merah itu.
Jam di Mars akan berjalan sedikit lebih cepat daripada di Bumi. Perbedaan ini disebabkan oleh dua faktor utama di tata surya.
Sekitar 4,5 miliar tahun lalu, Bumi muda diduga keras dihantam sebuah protoplanet sebesar Mars yang dikenal sebagai Theia.
Ilmuwan untuk pertama kalinya mendeteksi kilatan listrik kecil di Mars melalui mikrofon Perseverance.
NASA baru-baru ini melaporkan bukti aktivitas listrik di Mars, atau yang disebut sebagai mini lightning, petir ini berbeda jauh dari petir di Bumi.
Rover Perseverance NASA menemukan batu logam kaya besi dan nikel yang diduga meteorit pertama dalam misinya di Mars.
Wahana antariksa ESA menangkap pola mirip barcode di lereng Mars. Penelitian baru menunjukkan fenomena ini bukan akibat tumbukan meteorit.
Para ilmuwan kembali menyoroti kemungkinan menjadikan Mars sebagai Bumi kedua. Sebuah gagasan lama yang kini ditinjau ulang melalui kemajuan terbaru
Ilmuwan menemukan parit-parit misterius di permukaan Mars terbentuk akibat es karbon dioksida yang mencair dan meluncur di atas pasir, bukan karena air atau kehidupan.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances oleh tim ilmuwan gabungan dari Universitas Bern, Swiss, dan Badan Antariksa Eropa (ESA).
Miliaran tahun silam, air pernah mengalir di permukaan Mars. Para ilmuwan sepakat bahwa planet ini pernah memiliki jaringan Sungai.
Ilmuwan menemukan ribuan pusaran debu di Mars yang berputar jauh lebih cepat dari perkiraan, mencapai 160 km/jam.
ESA merilis video menakjubkan dari data wahana Mars Express yang menampilkan saluran air purba, lembah, dan kawah di permukaan Mars.
Media Indonesia berusaha menghadirkan foto-foto eksclusive sehingga pembaca dapat melihat kejadian aktual dengan lebih baik
LOAD MORECopyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved