Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Terraforming Mars: Ilmuwan Menakar Kemungkinan Manusia Bisa Hidup di Mars

Bimo Aria Seno
11/11/2025 11:26
Terraforming Mars: Ilmuwan Menakar Kemungkinan Manusia Bisa Hidup di Mars
Ilustrasi(freepik)

Para ilmuwan kembali menyoroti kemungkinan menjadikan Mars sebagai Bumi kedua. Sebuah gagasan lama yang kini ditinjau ulang melalui kemajuan terbaru di bidang ilmu planet, bioteknologi, dan rekayasa antariksa. 

Penelitian baru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy mencoba menjawab pertanyaan mendasar, apakah secara ilmiah dan biologis mungkin untuk mengubah Planet Merah menjadi tempat yang layak huni bagi manusia? Gagasan ini, yang dikenal sebagai terraforming, telah lama memikat imajinasi masyarakat dan menjadi bahan utama fiksi ilmiah. 

Studi yang dipimpin oleh para peneliti dari Pioneer Research Labs dan University of Chicago tersebut menekankan bahwa upaya mengubah Mars menjadi mirip Bumi bukan sekadar khayalan. Namun, sebuah tantangan ilmiah yang kompleks dan realistis untuk dikaji.

Menurut Nina Lanza, ilmuwan planet dari Los Alamos National Laboratory yang turut menulis penelitian itu, diskusi serius tentang kelayakan terraforming Mars sebenarnya sudah lama tidak dilakukan. “Sejak 1991, belum ada yang benar-benar meninjau kembali apakah proses tersebut benar-benar mungkin. Padahal, selama tiga dekade terakhir kita telah mengalami kemajuan besar dalam bidang geoengineering, eksplorasi Mars, serta bioteknologi,” ujarnya.

Untuk membuat Mars lebih ramah bagi kehidupan, langkah pertama adalah meningkatkan suhu permukaannya dan mempertebal atmosfernya. Salah satu pendekatan yang tengah diteliti adalah penggunaan mikroba hasil rekayasa genetik yang mampu menghasilkan oksigen melalui fotosintesis. 

Dalam jangka panjang, proses ini diharapkan dapat memperkaya atmosfer Mars hingga cukup mendukung keberadaan air cair dan kehidupan yang lebih kompleks. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa setiap langkah menuju terraforming perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. 

“Sebelum memutuskan apakah pemanasan Mars layak dilakukan, kita perlu menilai dampak ekologis, biaya, serta risiko yang mungkin timbul, termasuk kemungkinan menjaga Mars tetap sebagai planet alami yang belum tersentuh,” tulis tim peneliti dalam artikelnya.

Sejauh ini, para ilmuwan masih meneliti cadangan air, kandungan karbon dioksida, serta komposisi tanah Mars untuk menilai apakah planet tersebut memiliki sumber daya yang cukup untuk proses transformasi besar-besaran. Teknologi baru diperkirakan dapat meningkatkan suhu rata-rata Mars puluhan derajat dalam hitungan decade. Namun, hal ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang batasan fisika, kimia, dan biologi planet tersebut.

Menariknya, penelitian terraforming Mars bukan hanya tentang masa depan manusia di planet lain. Namun, juga dapat memberikan manfaat langsung bagi Bumi. Teknologi yang dikembangkan, mulai dari tanaman tahan kekeringan hingga sistem pemulihan tanah dan model ekosistem baru dapat diterapkan untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di planet kita sendiri. 

Para peneliti menegaskan bahwa penelitian ini sekaligus menjadi laboratorium alam yang penting bagi ilmu planet. Selain itu, berpotensi memperluas pemahaman tentang dinamika atmosfer dan ekologi lintas dunia. Meskipun masih jauh dari kenyataan, para peneliti percaya bahwa studi semacam ini adalah langkah penting untuk memahami batas kemampuan manusia dalam menata ulang lingkungan planet.  (scitechdaily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik