Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir memastikan bakal menindak tegas dan mencopot jabatan para oknum 'nakal di tubuh PSSI.
Hal itu dikatakan Erick ketika memberi tanggapan perihal kekecewaan manajemen Persebaya Surabaya terhadap Komisi Disipilin (Komdis) PSSI setelah mendapat sanksi karena Bonek, nama suporter mereka, hadir di laga tandang BRI Liga 1 2023/2024 melawan PSIS Semarang, Minggu (16/7).
Ketegasan Erick Thohir ini kemudian mendapat apresiasi dari pengamat bola nasional Sigit Nugroho.
Dikatakan Sigit, ancaman pencopotan terhadap Komdis PSSI yang nakal ini sebagai spirit baru di PSSI, tetapi spirit baru ini harus konsisten dan perlu didalami lagi keputusan-keputusan sanksi kepada klub, khususnya Persebaya Surabaya yang telah melayangkan kritik berat kepada Komdis.
“Menurut saya, ini spirit bagus, asal konsisten. Perlu ditelaah, apakah keputusan (sanksi) itu semata-mata karena ketidaktahuan Komdis,m atau faktor nonteknis,” kata Sigit kepada wartawan, Minggu (23/7).
Pendiri presidium suporter Indonesia itu mengakui, kasus serupa pernah terjadi di kepengurusan sebelumnya, ketika oknum Ketua Komdis pernah menerima suap sebelum memutuskan sanksi.
Untuk itu, ancaman Erick Thohir kepada Komdis nakal ini sangat baik dan harus konsisten diterapkan jika ada Komdis yang melanggar.
“Bukan su’udzon, hanya mengingatkan kasus ini pernah terjadi. Ada oknum Ketua Komdis terbukti menerima suap, itu bisa ditelusuri di berita-berita lama di mesin pencarian berita,” ujarnya.
Tidak hanya kasus suap ketua Komdis sebelumnya, sanksi kepada suporter yang melakukan pelanggaran pernah terjadi juga di kepengurusan PSSI sebelumnya, ketika salah satu suporter Arema mendapat sanksi berat atas pelanggarannya.
Namun, sanksi tersebut dicabut kembali karena ada kedekatan emosional antara Arema dan salah satu pejabat di PSSI.
Oleh sebab itu, lewat ketegasan dan ancaman yang dikeluarkan Erick Thohir ini bisa menjadi alarm bagi Komdis dalam mengambil keputusan, termasuk mengeluarkan sanksi kepada klub.
“Belum lagi tren lama PSSI yang enteng menjatuhkan sanksi, tapi begitu ada orang kuat di dalam, sanksi itu mudah dicabut. Silakan googling pentolan suporter Arema untuk kasus ini. PSSI memang sudah wajah baru, karena itu perlu sentuhan dan penanganan baru," jelasnya.
Terkait dengan protes keras Persebaya, Sigit membenarkan langkah tersebut karena semua klub peserta Liga 1 sudah pasti menyosialisasikan larangan suporter menonton langsung ke stadion saat bertandang ke markas lawan.
Namun, Sigit menilai masih ada kendala sebab namanya suporter atau pendukung klub itu tidak semuanya berada di satu kota, tetapi pasti ada di berbagai kota termasuk di Kota Semarang.
“Protes Persebaya sangat masuk akal. Hal ini juga bisa terjadi pada klub-klub lain, yang merasa sudah menyosialisasikan larangan suporternya datang pada laga tandang. Dalam konteks kehadiran normal saja, klub yang dikenai sanksi tetap merasa dirugikan. Soalnya, belum tentu yang hadir ini suporter yang bernaung di bawah organisasi fans yang diakui klub, dan lagi tren munculnya suporter gelap tidak resmi," urainya.
"Ambil contoh ada oknum simpatisan Persebaya yang nonton laga tim Bajul Ijo di kota X (luar Surabaya), di mana ia tinggal disitu. Begitu ketahuan, Persebaya dihukum Rp25 juta, ya kesannya sanksi dipaksakan,” sambungnya.
Sigit pun menyinggung soal regulasi yang dikeluarkan PSSI kepada klub tidak begitu detail soal petunjuk pelaksanaan, karena dalam regulasi tersebut tidak begitu rinci dijelaskan.
Buat Sigit, regulasi yang sudah dikeluarkan butuh waktu, butuh sosialisasi dan butuh aturan yang bersifat mengikat suporter agar mereka patuh pada aturan.
“Ini semata kurang detailnya juklak terkait regulasi. Untuk detail, harus diserahkan pada tokoh yang in charge di dunia suporter dan paham regulasi. Tak cukup berstatus pengurus, lalu bikin regulasi tapi kurang paham akar masalah suporter secara detail,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, dalam artikel berjudul "Di Mana Akal Sehat Komdis?" yang dipublikasikan di laman resmi klub Persebaya Surabaya, manajemen klub Bajul Ijo Candra Wahyudi mengutarakan kekecewaannya setelah klubnya mendapat sanksi denda Rp25 juta dari Komdis PSSI tanpa ada kesempatan banding.
Pada tulisan itu, Candra juga menyebut pihaknya sudah melakukan segala upaya untuk memastikan Bonek tidak hadir pada laga yang digelar di Stadion Jatidiri tersebut, salah satunya adalah merilis imbauan larangan menonton laga tandang dan menggelar acara nonton bareng.
Merespon perihal kekecewaan manajemen Persebaya Surabaya terhadap Komisi Disipilin (Komdis) PSSI, Erick Thohir memastikan bakal menindak tegas dan mencopot jabatan para oknum 'nakal 'dalam tubuh PSSI
“Memang ya pimpinan Komdis, anggota Komdis tidak ada yang sempurna. Tetapi mereka sudah mau kerja mingguan itu yang sulit dan pasti ada konsekuensinya, kalau tidak bagus ya (saya) copot,” kata Erick.
“Jadi mari kasih kesempatan untuk semua bekerja, jadi tidak semua dalam satu minggu ini langsung selesai,” tambahnya.
Erick juga menyinggung permasalahan wasit Indonesia juga tidak bisa diselesaikan dalam waktu sekejap. Pihaknya akan terus berupaya memperbaiki kualitas wasit dan salah satunya adalah penerapan Video Assistant Referee (VAR) yang kini sudah memasuki pelatihan kedua.
“Semua perbaikan perwasitan itu tidak mungkin tiga minggu selesai. Kita sudah komitmen sama liga untuk penggunaan VAR di Februari dan ini sudah training kedua dan ini serius bukan hanya cita-cita,” ucap Erick.
Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu berharap semua pihak untuk bersabar dan memberikan waktu kepada sepak bola Tanah Air yang sedang memasuki masa transisi menuju lebih baik ini berjalan sempurna.
“Ini yang kita harapkan sama saya juga tidak main-main dengan PSSI, Komdis tidak main-main, komite wasit tidak main-main, kita akan 'gigit' yang nakal-nakal, tapi perlu waktu transisi, tidak bisa semuanya langsung selesai dan tentu wasit pun akan kita hukum apabila ada hal-hal yang memang tidak sesuai,” tutup Erick. (RO/Z-1)
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa FIFA Series 2026 merupakan panggung krusial bagi perkembangan skuat Garuda, terutama di bawah arahan pelatih kepala baru, John Herdman.
Misi John Herdman memutus kutukan juara sekaligus menghapus memori kelam kegagalan Shin Tae-yong di Piala ASEAN 2024.
nam kali melangkah ke partai puncak, enam kali pula Garuda harus puas hanya menyentuh medali perak.
KETUA Umum PSSI, Erick Thohir, mengharapkan dukungan dari seluruh elemen sepak bola nasional usai PSSI resmi memperkenalkan John Herdman sebagai pelatih tim nasional Indonesia.
Jakarta, Herdman menyampaikan pandangannya. Ia melihat tekanan menjadi pelatih timnas Indonesia bukan sebagai masalah besar, melainkan sebagai sebuah keistimewaan.
Prestasi gemilang yang ditorehkan kontingen Indonesia pada ajang SEA Games 2025 Thailand tidak hanya menjadi catatan sejarah olahraga nasional.
Persija Jakarta vs Arema FC berakhir 0-2 di SUGBK. Gabriel Silva jadi pahlawan Arema dengan dua gol di menit akhir laga Liga 1.
Pemain kelahiran Zaandam, Belanda, 9 November 2004 itu diikat kontrak berdurasi 2,5 musim oleh klub berjuluk Macan Kemayoran.
PADA pertandingan Arema FC vs Persijap Jepara, wasit Aidil Azmi menganulir gol Carlos Franca. Itu membuat pertandingan berakhir dengan skor 1-0 untuk Arema FC di BRI Super League 2025/2026 liga 1
PERTANDINGAN Arema FC vs Persijap berakhir dengan skor 1-0 untuk Arema FC. Kini tim tersebut naik satu tingkat ke urutan 11 dalam tabel klasemen Liga 1 BRI Super League 2025/2026
Hingga peluit akhir dibunyikan, skor 1-0 tetap bertahan untuk kemenangan Arema FC.
Madura United gagal meraih poin penuh setelah ditahan imbang PSBS Biak 0-0. Hasil ini memperpanjang catatan tanpa kemenangan Laskar Sape Kerrap di Super League.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved