Sajak-sajak Boris Pasternak

Boris Pasternak (1890-1960) 

Mimpi 

Aku memimpikan cahaya musim gugur 
ada kau dan temanmu di kerumunan badut. 
Serupa elang mendapat darah dari surga, 
hatiku telah jatuh ke dalam genggamanmu. 

Waktu berlalu, menjadi tua dan kusam 
menyeret bingkai perak saat sinar fajar 
di taman mengalirkan serpihan kaca dan  
air mata memerah kesumba di September. 

Waktu berlalu, menjadi tua dan longgar 
seperti es, kursi sutra retak dan cair. 
Tiba-tiba, kau tersandung dan tenggelam, 
mimpi serupa gema lonceng, namun hening. 

Aku bangun dan fajar gelap menjelma 
musim gugur. Angin puyuh berhembus, 
seperti jerami berlari mengejar kereta  
dan punggung betula pendula melintasi langit. 

1913 


Mencintai - Pergilah - Guntur Belum Berhenti 

Mencintai - pergilah - guntur belum berhenti 
menginjak-injak kemurungan tanpa sepatu, 
menakut-nakuti landak, membayar kebaikan 
atau kejahatan lingonberry dengan jaring laba-laba.

Minumlah dari cawan bertangkai, 
agar Azure melesat dari pantulan:
"Apa ini gema?" - di ujung jalanan 
tersesat aku dalam ciumanmu. 

Serupa pawai, berjalanlah bersama duri 
ketahui saja bahwa saat matahari terbenam, 
usia surya lebih tua daripada bintang gemintang 
kereta pun tiba membawa gandum dan margarita. 

Aku kehilangan lidahmu, hanya menuai 
badai air mata di mata para Valkyrie,
langit angkasa panas, bikin mati rasa,
namun udara segar berhembus di hutan. 

Berbaringlah, menyapu duri dan memarut 
peristiwa-peristiwa lampau, seperti kerucut:
jalan raya terjal dan turunnya sebuah kedai 
hari mulai terang; panas dingin, makan ikan.

Saat kau terjatuh, senandungkanlah lagu: 
"Berambut abu-abu, aku berjalan dan jatuh lelah. 
Sekali waktu, kota tersedak angsa, 
bermandikan air mata tentara. 

Bayang-bayang panjang tanpa bulan, 
mengendapi botol api dan bahan makanan,
mungkin kau sudah tua, sebenar lagi 
maut menjemput jua." 

Berceloteh, bernyanyi, dan bersedu 
ketika maut datang mengetuk pintu, 
genggam tangan ini seperti bumerang 
aku 'kan ingat - mengucapkan selamat tinggal. 

1917 


Tak Ada Orang di Rumah 

Tak ada orang di rumah, 
kecuali senja. Suatu siang 
di musim dingin, kubuka 
tirai yang tertutup rapat. 

Sayap-sayap putih lembut 
sekilas kulihat serupa roda-roda, 
hanya ada atap dan salju 
tidak ada siapa-siapa. 

Embun beku kian luruh, 
perlahan-lahan membungkusku 
berbalut kesedihan setahun silam 
musim dingin baru saja terlewati.

Perpisahan masih menusuk sukma 
rasa bersalah terus menghantui diri 
kulihat kayu salib terpajang di jendela 
peras kulitnya terkelupas ditelan waktu. 

Tetiba saja, aku merasakan getaran lain 
perlahan mengalir dan menggetarkan tirai, - 
mengukur langkah-langkah keheningan 
seperti masa depan lebih awal tiba ketuk pintu. 

Kau menggunakan jubah putih 
tak seperti biasanya melangkah 
masuk membawa serpihan kisah 
luka yang sulit dijahit kembali. 

1931 


Mengasihi Orang Lain Ialah Memikul Salib Sendiri 

Mengasihi orang lain ialah memikul salib sendiri, 
hidup berharga tanpa cela, 
dan segala rahasia pesona 
setara solusinya di kehidupan. 

Di musim semi aku mendengar 
gemerisik mimpi, kabar sukacita, dan kebenaran. 
Kau berasal dari keluarga yang selalu mengasih orang lain.

Makna hidupmu seperti udara, tidak pernah egois. 

Saling membantu dan memandang jernih, 
dari lubuk hati, mari singkirkan sampah 
agar lurus jalan kini dan nanti 
ini semua - kasih. 

1931 


Malam Musim Dingin 

Melodi, melodi semesta 
bagi setiap tapal batas. 
Sebatang lilin berpijar di meja, 
itu lilin menyala-nyala. 

Serupa segerombolan pengusir hama 
di musim panas, terbang ke tungku perapian 
sementara serpihan bara berarak-arakan 
dari selingkung halaman ke bingkai jendela. 

Badai salju memaguti kaca 
ada mug dan ada panah. 
Sebatang lilin berpijar di meja, 
itu lilin menyala-nyala. 

Di langit-langit terang benderang 
bayangan luruh perlahan, melewati 
persimpangan lengan dan kaki,
nasib pun menghampiri kita. 

Dan sepasang sepatu jatuh 
kudengar bunyi gedebuk di lantai.
Dari cahaya malam, percikan air mata lilin 
menetes perlahan di gaunmu. 

Lalu lenyap bersama sekawanan 
kabut salju putih dan abu-abu. 
Sebatang lilin berpijar di meja, 
itu lilin menyala-nyala. 

Dari sudut, tampak bayangan 
dan panasnya menggoda 
serupa sayap malaikat 
tersalib. 

Melodi bulan demi bulan di awal Februari, 
maka kini dan nanti 
lilin berpijar di meja, 
itu lilin menyala-nyala. 

1946 


Monolog Hamlet: Maka Jadilah atau Sebaliknya 

: Kutipan dari drama Hamlet oleh William Shakespeare dan diterjemahkan oleh Boris Pasternak 

Maka jadilah atau sebaliknya, itulah pertanyaannya. 
Apakah layak untuk merendahkan diri di bawah takdir, 
Atau apakah perlu untuk melawan alam fana, 
Dan mengendap di seluruh lautan masalah 
Dengan cara mengakhiri hidup mereka? Mati. 
Lupakan dirimu saja. 
Ketahuilah bahwa dengan melakukan ini, 
Kau memutuskan mata rantai siksaan hati 
Dan ribuan kesulitan melekat pada tubuh. 
Bukankah ini tujuan yang diinginkan untuk mati? Lupa tidur.
Tertidur... dan bermimpi? Inilah jawabannya. 
Mimpi apa yang akan diimpikan dalam mimpi fana itu 
Ketika selubung perasaan duniawi disingkirkan? 
Inilah petunjuknya. Inilah yang memperpanjang
Kemalangan kita selama bertahun-tahun.
Dan siapa yang akan menurunkan penghinaan di ini abad, 
Ketidakbenaran para penindas, 
Kesombongan bangsawan, perasaan ditolak, 
Penghakiman yang lambat, dan yang terpenting 
Ejekan yang tidak laik atas yang layak, 
Ketika begitu mudah untuk menyatukan semua ujungnya 
Sebuah pukulan belati! Siapa yang setuju, 
Mengeranglah, berjalan dengan susah payah di bawah beban kehidupan,
Kapan pun yang tidak diketahui setelah kematian, 
Takut akan negara yang tidak ada untuk 
kembali, tidak tunduk pada keinginan 
Untuk bertahan dengan kejahatan yang sudah dikenal,
Daripada mencari pelarian ke asing!
Demikianlah pikiran mengubah kita semua menjadi pengecut,
Dan tekad kita layu seperti bunga 
Dalam kemandulan dan kebuntuan mental, 
Demikianlah rencana musnah dalam skala besar, 
Pada awalnya menjanjikan kesuksesan, 
Namun penundaan begitu lama. Tapi cukup! 
Ofelia! Oh sukacita! Ingatlah 
Dosa-dosaku dalam doamu, bidadari. 

 

Sumber terjemahan: 
¹ Pasternak, B. Mengasihi Orang Lain Ialah Memikul Salib Sendiri. Disusun oleh I. A. Mudrova. Moskwa: Centerpolygraph, 2022. 
² Pasternah, B. Mimpi, Moskwa: Majalah Krasnaya Nov, 1932. 
³ Pasternak, B. Esai dalam Dua Edisi. Tula: Filin, 1993. 


 

 

 

Boris Leonidovich Pasternak, peraih Nobel Sastra, lahir di Moskwa, Rusia, 10 Februari 1890. Ia belajar di Universitas Negeri Moskwa; dari Fakultas Hukum pindah ke Fakultas Sejarah dan Filologi (lulus 1913). Kumpulan puisi pertamanya dirangkumkan pada 1917 dan diterbitkan di Berlin, Jerman, pada 1922 dengan judul Adikku, Lily. Pada musim dingin 1945/1946, Pasternak mulai mewujudkan ide utamanya dalam penulisan awal novel Doctor Zhivago. Ia secara aktif juga terlibat dalam penerjemahan drama tragedi milik sastrawan Inggris William Shakespeare dan Faust milik sastrawan Jerman Johann Wolfgang von Goethe. Pada 1950-an menjadi masa cobaan berat bagi Pasternak. Novel Doctor Zhivago, yang diusulkan untuk diterbitkan oleh majalah bulanan Novy Mir di Moskwa, ditolak oleh editor. Setelah diterbitkan di luar negeri pada 1957 dan penulis dianugerahi hadiah Nobel pada 1958, Pasternak mulai dianiaya, baik di kalangan sastra maupun politik, sehingga ada tuntutan agar ia dikeluarkan dari negaranya. Di luar Rusia, Pasternak juga mendapatkan kritikan keras sehingga mendorongnya untuk menolak hadiah Nobel. Setelah menderita serangan jantung, ia meninggal dunia pada 30 Mei 1960. Pasternak dimakamkan di Peredelkino, sebuah desa di pinggiran Moskwa. Pada 1989 Yevgeny, putra Pasternak, akhirnya menerima penghargaan Nobel Sastra atas nama ayahnya. Novel Dokter Zhivago telah menjadi bagian dari kurikulum sekolah utama Rusia sejak 2003. Puisi-puisi di sini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke dalam bahasa Indonesia oleh Iwan Jaconiah, penyair dan editor puisi Media Indonesia. Foto-foto: MI/Arsip Flomaster Club/Museum Pasternak di Peredelkino. (SK-1)