Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
Analis intelijen, pertahanan, dan keamanan Ngasiman Djoyonegoro menilai langkah DPR RI yang menegaskan kembali posisi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berada di bawah komando Presiden sebagai keputusan yang tepat. Itu dinilai bisa menjaga kejelasan politik hukum dan stabilitas kelembagaan.
Ngasiman, yang akrab disapa Simon, mengatakan penegasan tersebut mencerminkan pemahaman DPR atas pentingnya kepastian posisi Polri dalam sistem demokrasi. Menurutnya, kejelasan struktur komando membantu meredakan polemik yang berkembang di ruang publik.
“DPR telah mengambil langkah yang tepat dan moderat. Ini memberikan kepastian bagi Polri sekaligus menenangkan ruang publik dari polemik yang tidak perlu,” ujar Simon.
Ia menilai kepastian kelembagaan penting agar Polri dapat fokus menjalankan tugas utama, mulai dari menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat hingga penegakan hukum dan pelayanan publik. Perdebatan berkepanjangan mengenai struktur organisasi, kata dia, justru berpotensi mengganggu konsentrasi institusi.
“Polri butuh kepastian untuk bekerja optimal, bukan wacana yang berlarut-larut,” katanya.
Simon juga mengapresiasi sikap Polri yang dinilainya tetap profesional dan tidak reaktif di tengah dinamika politik. Menurutnya, Polri memilih menjaga kinerja dan stabilitas internal ketimbang terlibat dalam polemik terbuka.
“Sikap tenang dan profesional Polri patut diapresiasi,” ujarnya.
Dalam pandangannya, menempatkan Polri di bawah Presiden merupakan pilihan logis dalam sistem presidensial karena memperjelas garis tanggung jawab. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa posisi tersebut tetap harus disertai mekanisme pengawasan dan akuntabilitas.
“Polri di bawah Presiden bukan berarti tanpa batas. Profesionalisme dan kontrol tetap kunci,” tegas Simon.
Ia menilai DPR memahami pentingnya keseimbangan antara kewenangan dan pengawasan sehingga tidak mendorong perubahan struktural yang drastis. Stabilitas kelembagaan, lanjutnya, juga merupakan bagian dari agenda reformasi institusi.
“Reformasi tidak selalu berarti mengubah struktur, tapi memastikan sistem berjalan sehat,” katanya.
Menutup pernyataannya, Simon berharap posisi Polri di bawah Presiden dapat memperkuat efektivitas transformasi kelembagaan dan peningkatan kualitas layanan publik. Ia menekankan pentingnya penguatan transformasi struktural, kultural, dan instrumental agar Polri semakin modern, adaptif, dan dipercaya masyarakat.
“Transformasi Polri bukan sekadar perubahan sistem, tetapi perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak seluruh personel. Tujuannya satu, menghadirkan Polri yang semakin presisi dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya. (Ant/E-3)
ANALIS Politik dan Isu Intelijen, Boni Hargens mengapresiasi sikap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menolak usulan penempatan Polri di bawah kementerian.
POLEMIK yang berkembang di ruang publik terkait wacana Reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menuai beragam tanggapan dari berbagai elemen masyarakat.
Secara konstitusional, Polri berada di bawah Presiden sebagai bagian dari cabang eksekutif.
KOMISI Kepolisian Nasional atau Kompolnas mendorong Polri untuk tidak berhenti pada penghukuman terhadap AKBP Didik Putra Kuncoro, Kapolres Bima Kota nonaktif atas dugaan kepemilikan
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman mengingatkan adanya mantan pejabat yang diduga menjadi penumpang gelap dalam isu reformasi Polri.
PRESIDEN Prabowo Subianto meminta jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk tetap tabah dalam menjalankan tugas meskipun kerap menjadi sasaran serangan serta kritik tajam.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya profesionalisme, persatuan, dan kedekatan dengan rakyat dalam tubuh TNI dan Polri
KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak menyebut Presiden Prabowo menekankan evaluasi berkelanjutan dan peningkatan kinerja TNI-Polri demi rakyat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved