Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Peneliti KITLV Leiden Usul Pilkada dan Pileg DPRD Digabung Tekan Ongkos Politik

Devi Harahap
14/1/2026 18:04
Peneliti KITLV Leiden Usul Pilkada dan Pileg DPRD Digabung Tekan Ongkos Politik
Ilustrasi.(Antara Foto)

PENELITI Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV) Leiden Ward Berenschot mengusulkan opsi ketiga dalam reformasi sistem pemilihan kepala daerah yakni mengintegrasikan Pilkada dan pemilihan legislatif daerah (Pileg) DPRD guna menekan ongkos politik sekaligus memperkuat akuntabilitas demokrasi.

Berenschot  menilai reformasi sistem elektoral perlu dilakukan secara komprehensif, bukan sekadar menghapus Pilkada langsung.

“Yang saya advokasikan adalah opsi ketiga, yaitu reformasi sistem elektoral yang secara serius menurunkan ongkos politik, mengurangi korupsi, dan memperkuat partai politik,” ujarnya dalam sebuah diskusi pada Selasa (13/1).

Ia mengusulkan agar Pilkada dan Pileg DPRD digabung dalam satu pemilu. Dalam skema tersebut, kata dia, pasangan calon kepala daerah berasal dari nomor urut satu dan dua partai politik pemenang suara terbanyak di DPRD.

“Dengan sistem ini, warga yang memilih DPRD sekaligus memilih bupati atau wali kota. Jadi tetap ada akuntabilitas demokrasi karena kepala daerah dipilih oleh masyarakat,” katanya.

Berenschot  menjelaskan, sistem tersebut juga dapat menghindari praktik transaksi politik di DPRD.

“Tidak ada lagi horse trading di DPRD karena bupati terpilih secara otomatis,” ujarnya.

Selain itu, menurut Berenschot, sistem ini menciptakan insentif sehat bagi partai politik untuk tidak menjual nomor urut kepada kandidat bermodal besar.

“Kalau partai menjual nomor urut satu kepada orang kaya yang tidak populer, partai itu justru akan dirugikan karena bisa kehilangan suara,” katanya.

Berenschot juga menekankan pentingnya memperkuat pendanaan partai politik melalui mekanisme yang transparan, seperti subsidi negara, pembatasan donasi perusahaan, dan skema voucher pajak seperti yang diterapkan di Prancis.

“Masyarakat bisa menyumbangkan sebagian pajaknya kepada partai politik yang mereka dukung. Ini menciptakan sumber pendanaan yang sah dan akuntabel,” ujarnya.

Menurut dia, opsi ketiga ini jauh lebih sehat dibandingkan sekadar menghapus Pilkada langsung.

“Inilah mengapa opsi ketiga lebih komprehensif, karena memperkuat demokrasi, menurunkan ongkos politik, dan mengurangi ketergantungan pada oligarki,” pungkasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik