Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, menilai usulan pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah atau Pilkada lewat DPRD layak dipertimbangkan.
Menurutnya, evaluasi ini diperlukan untuk menekan berbagai ekses negatif yang muncul selama pelaksanaan Pilkada langsung.
Berdasarkan pengalamannya sebagai Sekretaris Jenderal partai selama hampir 10 tahun, Eddy mengamati adanya peningkatan intensitas praktik politik yang tidak sehat, mulai dari politik uang (money politics), penguatan politik dinasti, hingga tajamnya polarisasi akibat politik identitas.
"Kami melihat adanya peningkatan intensitas di berbagai hal, seperti money politics dan politik dinasti. Kami ingin mengkaji bagaimana jika model ini dikembalikan ke sistem perwakilan melalui DPRD agar ekses-ekses tersebut bisa dikurangi," ujar Eddy di Jakarta, Selasa (30/12).
Eddy menyoroti bahwa Pilkada langsung yang terjadi selama ini justru membawa dampak negatif terhadap pendidikan politik masyarakat. Ia menyayangkan fenomena di mana pemilih seringkali hanya disuguhi insentif jangka pendek berupa uang atau sembako untuk menentukan pemimpin daerah.
"Masyarakat hanya disuguhi amplop atau sembako untuk memilih siapapun calonnya. Ini harus diperhitungkan dampaknya karena merusak kualitas demokrasi kita," tegas Wakil Ketua MPR RI tersebut.
Meski demikian, ia mengakui bahwa wacana pilkada tak langsung akan memicu perdebatan di ruang publik, terutama dari masyarakat yang merasa hak pilih langsungnya dipangkas. Namun, ia menekankan bahwa tujuan akhir dari kajian ini adalah demi melahirkan pimpinan daerah yang lebih berkualitas.
Eddy mengingatkan bahwa sistem pemilihan melalui keterwakilan memiliki landasan filosofis yang kuat dalam ideologi negara. Ia merujuk pada Sila Keempat Pancasila, yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
"Pemilihan secara keterwakilan itu ada di dalam sila keempat Pancasila kita. Ini menjadi salah satu hal yang perlu kita jadikan pertimbangan utama dalam kajian ini," katanya.
Eddy menegaskan bahwa usulan Pilkada melalui DPRD tetap bersifat konstitusional. Jika nantinya terjadi perubahan undang-undang dan ada pihak yang keberatan, ia mempersilakan masyarakat untuk menempuh jalur konstitusi melalui Mahkamah Konstitusi (MK).
Mengenai langkah politik ke depan, Eddy menyatakan bahwa pembicaraan mengenai wacana ini sudah mulai bergulir di antara internal partai politik.
"Saya harus bicara dengan Ketua Umum partai saya, tetapi saya kira di antara teman-teman partai politik sudah ada pembicaraan terkait hal ini. Pembahasan ini dilakukan semata-mata dalam rangka memperbaiki kualitas demokrasi dan pimpinan kita di daerah," pungkasnya. (H-4)
PARTAI NasDem menanggapi santai langkah PAN yang mendukung Presiden Prabowo Subianto dan Zulkifli Hasan sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) pada Pilpres 2029 mendatang.
Keterbukaan PAN terhadap berbagai opsi pembenahan sistem pemilu bertujuan agar representasi masyarakat benar-benar terlaksana dengan baik.
Ahmad Najib memberikan perhatian khusus pada pesatnya perkembangan teknologi informasi
Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menjelaskan soal nasib Eko Patrio dan Uya Kuya di DPR RI.
ANGGOTA DPR RI dari Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay, menyerukan kehati-hatian pemerintah dalam memberikan bantuan kepada Ponpes Al Khoziny yang baru-baru ini tertimpa musibah.
Direktur IPR, Iwan Setiawan, menyebutkan alokasi anggaran umum untuk Pilkada langsung tahun 2024 saja mencapai Rp38,2 triliun.
Kemendagri mendorong evaluasi rekrutmen politik dan sistem pilkada untuk menekan korupsi kepala daerah yang terus berulang meski pengawasan diperketat.
Pengamat politik Citra Institute Yusak Farchan menilai tingginya biaya politik dalam pilkada menjadi persoalan serius dalam demokrasi Indonesia.
Pilkada tak langsung bertentangan dengan semangat demokrasi lokal dan tidak menyelesaikan persoalan biaya politik tinggi.
Kepala Pusat Riset BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko menilai wacana pilkada tidak langsung lewat DPRD tidak menjamin hilangnya politik uang dan justru berpotensi lebih mahal.
SISTEM pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung yang telah berjalan dua dekade dinilai gagal mewujudkan demokrasi substansial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved