Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DEWAN Pimpinan Pusat Garuda Astacita Nusantara (DPP GAN) menyatakan dukungan terhadap pengusulan Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional.
Menurut Ketua Umum DPP GAN Muhammad Burhanuddin, langkah ini merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa besar Soeharto dalam membangun stabilitas nasional dan fondasi ekonomi Indonesia modern.
“Setiap bangsa berdiri di atas bahu para pendahulunya. Menghormati mereka bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi juga menjaga kesinambungan sejarah bangsa,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Burhanuddin menegaskan, penghormatan terhadap pahlawan nasional merupakan wujud rasa syukur dan kesadaran historis bangsa terhadap perjuangan para pendiri dan pemimpin terdahulu. Ia mengatakan bahwa kemerdekaan dan perjalanan Indonesia tidak datang dengan mudah, melainkan hasil dari perjuangan, keberanian, dan pengorbanan generasi sebelumnya.
“Melupakan pahlawan sama saja dengan kehilangan kompas moral sebagai bangsa,” ujarnya. “Kita menghormati mereka bukan karena mereka sempurna, tapi karena mereka berani memikul beban berat membangun republik ini," tambahnya.
Menurut Burhanuddin, penghargaan terhadap pahlawan tidak cukup hanya dengan upacara atau monumen, melainkan juga melalui pendidikan sejarah yang jujur dan seimbang. Ia menilai generasi muda perlu diajak memahami perjuangan bangsa secara utuh agar mampu meneladani nilai-nilai keberanian, disiplin, dan pengabdian yang diwariskan para pahlawan.
Dalam pandangan DPP GAN, Presiden Soeharto adalah salah satu tokoh penting yang layak mendapat pengakuan sebagai pahlawan nasional. Meski diwarnai perdebatan, Burhanuddin menilai masa kepemimpinan Soeharto meninggalkan warisan besar yang membentuk wajah Indonesia modern.
“Setelah masa-masa bergolak 1960-an, Indonesia berada di ambang kehancuran ekonomi dan politik. Soeharto hadir dengan kepemimpinan yang mampu memulihkan stabilitas nasional,” ujarnya.
Burhanuddin menilai di bawah kepemimpinan Soeharto, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras, menekan hiperinflasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan hingga ke daerah. Program Revolusi Hijau dan perluasan infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan irigasi menjadi tonggak penting yang menghubungkan provinsi-provinsi di seluruh nusantara.
“Era Orde Baru memang bukan tanpa kekurangan, tetapi harus diakui bahwa banyak capaian fundamental yang menopang kemajuan kita hari ini,” imbuhnya.
Burhanuddin mengajak publik untuk memahami kepemimpinan Soeharto secara kontekstual. Menurutnya, kebijakan terpusat dan pendekatan keamanan yang diterapkan saat itu merupakan refleksi dari kondisi bangsa yang masih rapuh dan terbelah.
“Bila kita menilai dengan kacamata masa kini tanpa memahami konteks zamannya, kita akan kehilangan makna dari perjuangan membangun bangsa di tengah keterbatasan,” tegasnya.
Ia menekankan, menghargai Soeharto tidak berarti menutup mata terhadap kritik. Sebaliknya, pengakuan terhadap jasanya justru menunjukkan kedewasaan bangsa dalam membaca sejarah dengan jujur dan seimbang.
DPP GAN menilai, penghormatan kepada tokoh seperti Soeharto harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang mencerminkan semangat kepahlawanan. Burhanuddin menyebut ada beberapa nilai penting yang bisa diwarisi dan diterapkan generasi saat ini.
Pertama, belajar dari sejarah dengan membuka ruang kajian yang objektif dan berimbang tentang perjalanan Indonesia modern. Kedua, mengabdi dengan integritas, meneladani disiplin dan dedikasi para pemimpin masa lalu. Ketiga, melanjutkan misi pembangunan dengan fokus pada ketahanan pangan, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat kecil.
“Bentuk penghormatan terbaik adalah dengan meneruskan perjuangan mereka dalam konteks zaman sekarang,” ujar Burhanuddin.
Ia berpandangan generasi sekarang menghadapi tantangan baru seperti digitalisasi, perubahan iklim, dan persaingan global yang menuntut ketangguhan dan semangat kebersamaan sebagaimana dicontohkan para pendiri bangsa. Soeharto pun dianggap mendedikasikan hidupnya untuk membangun negara, memperkuat ekonomi, dan menjaga stabilitas.
"Menghormatinya berarti mengakui besarnya upaya itu, dengan jujur dan rendah hati,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan menyerukan agar peringatan Hari Pahlawan tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai pengabdian, disiplin, dan semangat pembangunan. Setiap generasi, ungkapnya, mempunyai tantangan dan pahlawannya sendiri.
"Namun yang menyatukan kita semua adalah cinta pada Tanah Air. Menghormati mereka berarti membawa semangat itu ke depan mengabdi untuk Indonesia dengan kejujuran, ketekunan, dan keyakinan pada masa depan bangsa,” pungkas Burhanuddin. (E-4)
ADA sejumlah kalangan, terutama aktivis hak-hak asasi manusia, sangat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang menyetujui pemberian gelar pahlawan pada mantan Presiden Soeharto.
Gelar Pahlawan Nasional yang diterima kedua tokoh tersebut merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk terus meneladani perjuangan mereka.
Idrus menegaskan bahwa momentum ini sebaiknya dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan reformasi dan memperbaiki kekurangan.
Titiek Soeharto menilai pro-kontra penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan hal wajar. Ia membantah ada campur tangan keluarga Cendana dalam penetapan gelar Pahlawan Soeharto
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, Pemerintah Republik Indonesia kembali menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh penting dari kalangan NU
Gelar Pahlawan Nasional yang diterima kedua tokoh tersebut merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk terus meneladani perjuangan mereka.
Bahlil Lahadalia menilai Soeharto layak mendapatkan gelar pahlawan nasional. Ia berharap pihak yang menolak dapat menerima keputusan pemberian gelar tersebut.
Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 menetapkan dan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Bidang Perjuangan Bersenjata kepada Tuan Rondahaim Saragih pada 10 November 2025.
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, Pemerintah Republik Indonesia kembali menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh penting dari kalangan NU
PEMERINTAH Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menggelar syukuran atas anugerah gelar pahlawan nasional kepada K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Marsinah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved