Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGURUS Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) menggelar acara Tasyakuran Pahlawan sebagai bentuk rasa syukur atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Senin (17/11).
Bendahara Umum PB IKA PMII, Arif Rahman, menyampaikan bahwa gelar Pahlawan Nasional yang diterima kedua tokoh tersebut merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk terus meneladani perjuangan dan pemikiran mereka.
“Dengan tasyakuran ini, kita bersyukur orang tua kita, leluhur, buyut kita ini menjadi pahlawan nasional. Walaupun sebenarnya, menurut saya, seperti Mbah Syaikhona Kholil harusnya sudah dapat gelar pahlawan tidak hanya sekarang, tapi sejak dahulu. Tapi buat apalah gelar dan pengakuan itu, yang terpenting beliau sudah menginspirasi kita untuk membangun bangsa dan negara ini. Itu yang terpenting menurut saya,” ujar Arif melalui keterangannya, Selasa (18/11).
Sementara itu, Andi Muawiyah Ramli, tokoh PMII sekaligus asisten pertama Gus Dur mengungkapkan sisi lain dari sosok Presiden ke-4 RI tersebut. Menurutnya, pengangkatan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional bukan hanya sebuah penghargaan formal, tetapi pengakuan atas perjuangan moral dan kemanusiaan yang selama ini beliau tegakkan.
“Jarang yang tahu siapa tokoh idola beliau. Tentu saja selain Kanjeng Nabi Muhammad, ada dua nama lagi, yaitu Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela. Dan cita-cita beliau adalah ingin menjadi martir. Dan ini tidak pernah kejadian, meskipun berkali-kali dilakukan oleh rezim sebelumnya. Bahwa sekarang beliau diangkat sebagai pahlawan, itu luar biasa. Tapi itu bukan cita-cita utama beliau,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, mantan jubir Gus Dur, Adhi Massardi menyebut bahwa sosok Gus Dur merupakan sosok yang selalu memayungi hampir semua gerakan civil society sejak masa Orde Baru. Menurutnya, banyak organisasi yang bisa tumbuh karena perlindungan dan jaringan yang dibangun Gus Dur.
“Dimanapun ada Gus Dur, pasti ada gerakan. Civil society itu tumbuh karena Gus Dur,” ucapnya.
Acara tasyakuran ini juga menjadi ruang refleksi bagi kader dan alumni PMII untuk kembali menyadari kontribusi para ulama dan pemimpin bangsa dalam membentuk karakter keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan Indonesia.
Ketua panitia acara, Rodli Kaelani menjelaskan bahwa teladan Syaikhona Kholil dan Gus Dur akan terus hidup dalam gerakan intelektual, sosial, dan kebangsaan yang diwariskan kepada generasi PMII saat ini.
"Dengan gelar Pahlawan Nasional ini, PB IKA PMII berharap semangat perjuangan kedua tokoh tersebut semakin mengakar kuat dan menginspirasi perjuangan untuk Indonesia yang lebih adil, toleran, dan berkeadaban," jelasnya. (H-2)
ADA sejumlah kalangan, terutama aktivis hak-hak asasi manusia, sangat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang menyetujui pemberian gelar pahlawan pada mantan Presiden Soeharto.
Idrus menegaskan bahwa momentum ini sebaiknya dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan reformasi dan memperbaiki kekurangan.
Titiek Soeharto menilai pro-kontra penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan hal wajar. Ia membantah ada campur tangan keluarga Cendana dalam penetapan gelar Pahlawan Soeharto
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, Pemerintah Republik Indonesia kembali menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh penting dari kalangan NU
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved