Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Gelar Pahlawan Nasional Pengingat Perjuangan Syaikhona Kholil dan Gus Dur

Rahmatul Fajri
18/11/2025 15:06
Gelar Pahlawan Nasional Pengingat Perjuangan Syaikhona Kholil dan Gus Dur
Ilustrasi(Dok ist)

PENGURUS Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) menggelar acara Tasyakuran Pahlawan sebagai bentuk rasa syukur atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Senin (17/11).

Bendahara Umum PB IKA PMII, Arif Rahman, menyampaikan bahwa gelar Pahlawan Nasional yang diterima kedua tokoh tersebut merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk terus meneladani perjuangan dan pemikiran mereka.

“Dengan tasyakuran ini, kita bersyukur orang tua kita, leluhur, buyut kita ini menjadi pahlawan nasional. Walaupun sebenarnya, menurut saya, seperti Mbah Syaikhona Kholil harusnya sudah dapat gelar pahlawan tidak hanya sekarang, tapi sejak dahulu. Tapi buat apalah gelar dan pengakuan itu, yang terpenting beliau sudah menginspirasi kita untuk membangun bangsa dan negara ini. Itu yang terpenting menurut saya,” ujar Arif melalui keterangannya, Selasa (18/11).

Sementara itu, Andi Muawiyah Ramli, tokoh PMII sekaligus asisten pertama Gus Dur mengungkapkan sisi lain dari sosok Presiden ke-4 RI tersebut. Menurutnya, pengangkatan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional bukan hanya sebuah penghargaan formal, tetapi pengakuan atas perjuangan moral dan kemanusiaan yang selama ini beliau tegakkan.

“Jarang yang tahu siapa tokoh idola beliau. Tentu saja selain Kanjeng Nabi Muhammad, ada dua nama lagi, yaitu Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela. Dan cita-cita beliau adalah ingin menjadi martir. Dan ini tidak pernah kejadian, meskipun berkali-kali dilakukan oleh rezim sebelumnya. Bahwa sekarang beliau diangkat sebagai pahlawan, itu luar biasa. Tapi itu bukan cita-cita utama beliau,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, mantan jubir Gus Dur, Adhi Massardi menyebut bahwa sosok Gus Dur merupakan sosok yang selalu memayungi hampir semua gerakan civil society sejak masa Orde Baru. Menurutnya, banyak organisasi yang bisa tumbuh karena perlindungan dan jaringan yang dibangun Gus Dur. 

“Dimanapun ada Gus Dur, pasti ada gerakan. Civil society itu tumbuh karena Gus Dur,” ucapnya.

Acara tasyakuran ini juga menjadi ruang refleksi bagi kader dan alumni PMII untuk kembali menyadari kontribusi para ulama dan pemimpin bangsa dalam membentuk karakter keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan Indonesia. 

Ketua panitia acara, Rodli Kaelani menjelaskan bahwa teladan Syaikhona Kholil dan Gus Dur akan terus hidup dalam gerakan intelektual, sosial, dan kebangsaan yang diwariskan kepada generasi PMII saat ini.

"Dengan gelar Pahlawan Nasional ini, PB IKA PMII berharap semangat perjuangan kedua tokoh tersebut semakin mengakar kuat dan menginspirasi perjuangan untuk Indonesia yang lebih adil, toleran, dan berkeadaban," jelasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik