Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PUTRI Presiden ke-2 Republik Indonesia, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, membantah adanya campur tangan keluarga Cendana dalam penetapan gelar Pahlawan Nasional bagi ayahnya, Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto alias Pak Harto.
Titiek menegaskan, keputusan pemerintah tersebut merupakan hak negara untuk memberikan penghargaan kepada tokoh yang dinilai berjasa besar bagi bangsa.
Terlepas dari adanya perdebatan, Titiek menegaskan bahwa bagi keluarga Cendana, sosok Soeharto tetaplah pahlawan, baik diberi gelar resmi oleh negara maupun tidak.
"Buat kami, diberi gelar atau tidak, bapak adalah pahlawan buat kami (keluarga)," kata Titiek di Mataram, dikutip dari Antara, Rabu (12/11).
Ia menilai, pro dan kontra terkait penetapan gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto merupakan hal yang wajar dan sah dalam negara demokrasi.
"Pro kontra boleh-boleh saja, nggak apa-apa ini negara demokrasi," kata dia.
Menurut Titiek, mayoritas masyarakat Indonesia mendukung pemberian gelar tersebut karena menilai jasa Presiden ke-2 RI itu besar bagi pembangunan bangsa.
"Saya rasa itu sudah jelas terang benderang nggak usah kita lanjutkan lagi," kata Titiek.
Titiek mencontohkan, keberhasilan NTB mengembangkan padi gogo di lahan kering hingga menjadi lumbung pangan nasional tak lepas dari kebijakan pembangunan era Soeharto.
Ia juga menyoroti banyaknya proyek bendungan dan irigasi yang dibangun pada masa tersebut, yang hasilnya masih dirasakan masyarakat hingga kini.
"Bendungan paling banyak dibangun di NTB, dari daerah kering jadi daerah subur. Jadi lumbung padi, pabrik dan sebagainya, pokoknya yang jelas daerah kering jadi lumbung padi itu berkat dari pertanian dan bendungan-bendungan yang ada, saluran-saluran irigasi dirasakan oleh semua masyarakat NTB," jelasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh bangsa melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116.TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta pada 6 November 2025.
Berikut 10 tokoh penerima gelar tersebut adalah:
(Ant/P-4)
Dari banyaknya tukik yang dilepas, hanya sebagian kecil dengan kurang dari 1% yang kemungkinan akan bertahan hidup hingga dewasa.
Selain Perkici Dada Merah, beberapa satwa lain juga telah direpatriasi dari Inggris lebih dulu yakni pada tahun 2024 terdapat 10 ekor Owa Jawa dan 3 ekor Lutung Jawa.
Kinerja Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang masuk 10 besar versi IndoStrategi merupakan hasil sinergi Komisi IV DPR dan pemerintah dalam menjalankan program perhutanan sosial.
Ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) komoditas jagung diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional (Kepbadan) Nomor 216 Tahun 2025 yang berlaku mulai Juli.
Titiek mengatakan bahwa jabatan pemerintahan saat ini pun belum genap setahun. Dia juga meyakini Prabowo belum terpikir untuk menjabat dua periode.
ADA sejumlah kalangan, terutama aktivis hak-hak asasi manusia, sangat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang menyetujui pemberian gelar pahlawan pada mantan Presiden Soeharto.
Gelar Pahlawan Nasional yang diterima kedua tokoh tersebut merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk terus meneladani perjuangan mereka.
Idrus menegaskan bahwa momentum ini sebaiknya dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan reformasi dan memperbaiki kekurangan.
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, Pemerintah Republik Indonesia kembali menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh penting dari kalangan NU
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved