Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Lembaga kajian demokrasi Public Virtue Research Institute (PVRI) menilai keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Soeharto sebagai skandal politik terbesar di era Reformasi. Keputusan itu dianggap sebagai bentuk pengkultusan terhadap elite yang menghapus ingatan publik atas penyimpangan kekuasaan selama tiga dekade Orde Baru.
Direktur Eksekutif PVRI Muhammad Naziful Haq menyebut langkah tersebut sebagai upaya menghapus dosa masa lalu yang dilakukan secara terang-terangan.
"Keputusan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto lebih mirip pencucian dosa sejarah yang dipaksakan terang-terangan. Keputusan ini mengabaikan aspirasi dan penolakan masyarakat sipil termasuk korban pelanggaran HAM yang hingga kini masih menuntut keadilan," ujar Nazif melalui keterangannya, Senin (10/11).
"Para elite mungkin menganggapnya sah administratif, tapi apalah artinya itu dibanding sebelangga fakta ilmiah yang terhampar terang dan dibaca khalayak umum. Jadi keputusan ini pada dasarnya sesat pikir dan logika. Bagaimana mungkin aktor yang bertanggungjawab atas pelanggaran HAM dan KKN secara sistematik dianggap pahlawan?" tambahnya.
Nazif menuturkan, Soeharto juga mendapat dukungan geopolitik Amerika Serikat dalam menjatuhkan Soekarno dan membuka jalan bagi ekspansi kapitalisme di Indonesia. Ia mengutip karya Vincent Bevins, The Jakarta Method, yang menggambarkan gelapnya operasi antikomunisme berskala besar di Indonesia dengan korban mencapai ratusan ribu jiwa.
PVRI juga mengingatkan, warisan Soeharto bukan hanya korupsi dan militerisme, tetapi juga sistem pendidikan yang menumbuhkan generasi patuh tanpa daya kritis.
"Pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto tidak saja menegasi nalar, tetapi juga menganggap enteng apa yang seharusnya tidak dimaafkan," tutur Nazif.
Lebih jauh, PVRI menyoroti dukungan terhadap keputusan ini yang datang dari sebagian pimpinan ormas Islam besar di Indonesia. Menurut Nazif, hal itu justru memperkuat ironi sejarah.
"Dukungan itu menjadi keberpihakan yang tragis sekaligus bagian dari skandal politik terbesar era Reformasi. Peleburan ormas dan negara adalah fasis," kata dia.
Ketua Dewan Pengurus PVRI Usman Hamid juga menilai keputusan tersebut absurd. Berbagai kajian ilmiah telah menunjukkan betapa Soeharto naik ke tampuk kekuasaan melalui rekayasa berdarah.
Temuan akademis seperti karya Benedict Anderson dan Ruth McVey (Preliminary Analysis of the 1 October 1965 Coup in Indonesia), John Roosa (Pretext of Mass Murder), hingga Saskia Wieringa (Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia) menegaskan kekuasaan Orde Baru berdiri di atas kekerasan politik dan pembungkaman terhadap kelompok progresif, termasuk gerakan perempuan. (Z-10)
ADA sejumlah kalangan, terutama aktivis hak-hak asasi manusia, sangat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang menyetujui pemberian gelar pahlawan pada mantan Presiden Soeharto.
Bahlil Lahadalia menilai Soeharto layak mendapatkan gelar pahlawan nasional. Ia berharap pihak yang menolak dapat menerima keputusan pemberian gelar tersebut.
Titiek Soeharto menilai pro-kontra penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan hal wajar. Ia membantah ada campur tangan keluarga Cendana dalam penetapan gelar Pahlawan Soeharto
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Politisi PDIP Ribka Tjiptaning dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik Soeharto usai menyebutnya pembunuh jutaan rakyat
Bahkan dunia media sosial seperti X (twitter) ini penetapan Suharto sebagai Pahlawan Nasional menjadi tranding.
Idrus menegaskan bahwa momentum ini sebaiknya dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan reformasi dan memperbaiki kekurangan.
Titiek Soeharto menilai pro-kontra penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan hal wajar. Ia membantah ada campur tangan keluarga Cendana dalam penetapan gelar Pahlawan Soeharto
Politisi PDIP Ribka Tjiptaning dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik Soeharto usai menyebutnya pembunuh jutaan rakyat
KNPI menyampaikan apresiasi tinggi kepada Presiden Prabowo Subianto atas keputusan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden RI ke-2 Soeharto.
Tutut Soeharto menilai pro-kontra pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada ayahandanya, Soeharto, sebagai hal wajar. Ia menegaskan pentingnya menjaga persatuan bangsa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved