Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PUTRI sulung Presiden ke-2 RI Soeharto atau Pak Harto, Siti Hardijanti Hastuti (Tutut), menanggapi pro dan kontra yang muncul di tengah masyarakat terkait penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada ayahandanya. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dan bagian dari dinamika demokrasi di Indonesia.
“Pro kontra itu biasa, masyarakat Indonesia kan macam-macam. Yang penting kita melihat apa yang telah dilakukan Pak Harto dari sejak muda sampai beliau wafat, semua perjuangannya untuk masyarakat dan bangsa Indonesia,” kata Tutut dikutip dari Antara, Selasa (11/11).
Tutut hadir didampingi sang adik, Bambang Trihatmodjo, dalam upacara yang juga dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Keluarga: Tak Ada Dendam
Tutut menegaskan keluarga Soeharto tidak menyimpan dendam maupun keberatan terhadap kritik yang muncul. Ia menilai yang terpenting adalah menjaga persatuan dan tidak bersikap ekstrem dalam menyikapi perbedaan pandangan.
"Kami keluarga tidak merasa dendam, karena kan kita negara kesatuan. Boleh saja kontra, tapi jangan ekstrem. Kita jaga persatuan dan kesatuan,” kata Tutut.
Dalam kesempatan itu, Tutut menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, yang telah menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116.TK/Tahun 2025.
“Terima kasih banyak kepada Pak Presiden. Karena beliau tentara, jadi tahu apa yang telah dilakukan bapak. Tapi beliau juga melihat aspirasi masyarakat,” ucapnya.
Ia menilai keputusan itu lahir dari penilaian objektif atas rekam jejak dan kontribusi Soeharto terhadap pembangunan Indonesia.
Ketika ditanya mengapa gelar tersebut baru diberikan sekarang, bukan pada era presiden sebelumnya, Tutut menyebut bahwa pemerintah dahulu mempertimbangkan kondisi masyarakat.
“Karena (Presiden sebelumnya) belum banyak kumpulkan (dukungan) supaya Pak Harto terpilih, juga untuk persatuan dan kesatuan Indonesia, supaya tidak ada yang marah. Sekarang rakyat sudah dewasa dan makin pintar,” ujarnya.
Menanggapi pandangan bahwa gelar itu dapat menghapus stigma terhadap Soeharto terkait isu korupsi dan pelanggaran HAM, Tutut menegaskan bahwa masyarakat kini dapat menilai sendiri.
“Rakyat sudah makin pintar dan bisa melihat apa yang bapak lakukan. Kami tidak perlu membela diri, semua bisa terlihat kok,” katanya.
Idrus menegaskan bahwa momentum ini sebaiknya dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan reformasi dan memperbaiki kekurangan.
Titiek Soeharto menilai pro-kontra penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan hal wajar. Ia membantah ada campur tangan keluarga Cendana dalam penetapan gelar Pahlawan Soeharto
Politisi PDIP Ribka Tjiptaning dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik Soeharto usai menyebutnya pembunuh jutaan rakyat
KNPI menyampaikan apresiasi tinggi kepada Presiden Prabowo Subianto atas keputusan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden RI ke-2 Soeharto.
PVRI menilai keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Soeharto sebagai skandal politik terbesar di era Reformasi.
Presiden Prabowo Subianto menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto, yang diterima oleh putri sulungnya Siti Hardijanti Rukmana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved