Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pengamat Sebut Gelar untuk Soeharto dan Gus Dur Bisa Jadi Wujud Rekonsiliasi Sejarah

Rahmatul Fajri
09/11/2025 14:23
Pengamat Sebut Gelar untuk Soeharto dan Gus Dur Bisa Jadi Wujud Rekonsiliasi Sejarah
Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto (kanan).(Dok. Antara)

KETUA Umum Yayasan Jayabaya, Moestar Pj Moeslim, menilai Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, dan Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sama-sama memiliki kontribusi besar bagi bangsa Indonesia dalam bidang yang berbeda. Soeharto, menurutnya, berperan melalui pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional, sementara Gus Dur melalui penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman. Oleh karena itu, keduanya layak menerima gelar pahlawan nasional.

Moestar mengatakan penghargaan terhadap Soeharto tidak berarti menghapus masa lalu, melainkan merupakan pengakuan atas kontribusinya dalam membangun fondasi ekonomi nasional, stabilitas politik, dan kemandirian bangsa. Dalam pandangannya, rekonsiliasi sejarah merupakan wujud kedewasaan bangsa dalam memahami perjalanan masa lalunya.

Lebih lanjut, Moestar menyoroti peran Soeharto dalam menyelamatkan Indonesia dari krisis dan membangun sistem ekonomi yang tangguh. Ia juga menilai sikap kenegarawanan Soeharto terlihat saat ia memilih mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan presiden, alih-alih menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan kekuasaan.

“Beliau memiliki kesempatan menggunakan kekuatan tentara, tetapi memilih tunduk pada kehendak rakyat,” ujarnya.

Moestar memahami sikap sejumlah pihak, termasuk Megawati Soekarnoputri yang masih menyimpan luka sejarah terhadap masa pemerintahan Soeharto. Namun, ia menegaskan bahwa bangsa yang dewasa harus mampu memandang sejarah secara utuh dan proporsional, dengan mengakui tidak hanya sisi kelam, tetapi juga jasa dan pengabdian yang telah diberikan.

Selain itu, Moestar mengingatkan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah mencabut Ketetapan MPR (TAP MPR) yang sebelumnya berkaitan dengan Soeharto dan Gus Dur. Ia berpendapat bahwa pencabutan tersebut menjadi landasan moral dan politik bagi negara untuk memberikan penghargaan berupa gelar pahlawan nasional kepada kedua tokoh tersebut.

Dalam pandangannya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga sangat layak menerima gelar yang sama. Gus Dur, kata Moestar, berjasa besar dalam memperkuat nilai-nilai toleransi, kemanusiaan, dan pluralisme di Indonesia.

“Gus Dur adalah sosok yang menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa,” tegasnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik