Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
AKHIRNYA Presiden Prabowo Subianto melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 menetapkan dan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Bidang Perjuangan Bersenjata kepada Tuan Rondahaim Saragih pada 10 November 2025.
Daftar jasa yang dibacakan di Istana Merdeka menyebutkan, “Almarhum Tuan Rondahaim Saragih dari Provinsi Sumatra Utara pahlawan bidang perjuangan bersenjata. Dikenal sebagai Napoleon dari Batak. Di bawah kepemimpinan Tuan Rondahaim Saragih, Pasukan Raya di Simalungun mencatatkan riwayat perjuangan menonjol melawan kolonialisme Belanda dengan fokus pada pertahanan kemerdekaan yang berhasil. Kemenangan signifikan terutama setelah pertempuran Dolok Merawan dan Dolok Sagala.”
Istilah Napoleon der Bataks atau lebih tepat Napoleon dari Simalungun bersumber dari laporan pemerintah kolonial Belanda pada 1880-an hingga menjadi judul buku Napoleon der Bataks, Kisah Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih Melawan Belanda di Sumatra Timur 1828-1891 (Erika Revida Saragih [et.al], Medan, USU Press, 2013).
Napoleon dari Batak disematkan kolonialisme Belanda kepada Tuan Rondahaim Saragih yang tidak pernah menyerah dan tidak pernah ditangkap selain kekokohan pribadinya yang memegang prinsip, dan itu diakui Belanda dengan jujur. Konsistensi memegang prinsip merupakan karakter pribadi Tuan Rondahaim Saragih.
Konsistensi ini sangat diperlukan bagi seorang panglima perang atau Panglima Goraha seperti Tuan Rondahaim Saragih. Tanpa konsistensi ini seorang Panglima Goraha tidak akan pernah memenangi medan pertempuran. Sebaliknya dengan mengenggam konsistensi prinsip hidup ini, Tuan Rondahaim Saragih dapat menegakkan wibawanya sebagai panglima perang sekaligus penguasa lokal yang disegani dan tidak terkalahkan di Sumatra Timur.
Orang yang konsisten memegang prinsip lazimnya adalah pribadi tanpa pernah kompromi. Jika melihat pribadi Tuan Rondahaim Saragih tampak cenderung kaku dan tidak mengenal belas kasih. Tetapi sesungguhnya dibalik sikap tanpa kompromi ini, ia mampu membangun spirit kebersamaan, berbagi penderitaan dan persaudaraan.
Dengan sikap ini pula Tuan Rondahaim Saragih mampu menjalin semangat kesatuan dan persatuan dalam keberagaman lintas pasukan perangnya untuk menentang dan mengusir kekuasaan bangsa asing (kolonial Belanda) di Sumatra Timur.
Tuan Rondahaim Saragih adalah sebuah sosok sejarah yang tanpa pernah lelah menggagas dan berjuang menegakkan Simalungun menjadi kelompok etnik yang terhormat di antara beragam kelompok etnik yang ada di Sumatra khususnya Sumatera Timur. Ia menjadi seorang yang tanpa lelah menggagas dan berjuang mencita-citakan Simalungun berdaulat dan menjadi bagian yang menyatu dalam hidupnya.
Ia tumbuh cepat dewasa dengan kematangan pribadinya. Pengalaman hidupnya sejak kecil bersentuhan dengan dunia nyata bukan dunia istana yang diwarnai kehidupan mewah. Hidupnya jauh dari kemewahan dan berdekatan dengan rakyat kebanyakan.
Ia juga seorang altruistik karena dengan entengnya memberikan properti pribadinya untuk keperluan orang kebanyakan. Sikap hidup yang demikian membentuk dirinya menjadi pribadi yang keras, tegas, dan konsisten.
Konsistensi mempertahankan prinsip hidup ini terlihat saat Tuan Rondahaim Saragih menjatuhkan hukuman kepada bawahannya tanpa melihat besar kecilnya kesalahannya. Siapapun yang berbuat salah tanpa pandang bulu, sekalipun itu panglima perangnya tetap mendapat hukuman setimpal. Demikian juga dengan para pasukan perangnya setelah memenangi pertempuran di berbagai daerah bawahan Kerajaan Siantar, Tanah Jawa, Panei, dan Solog Silau, jika ada yang melanggar aturan yang ditetapkan akan mendapat hukuman dari Tuan Rondahaim Saragih.
Di mata Tuan Rondahaim Saragih, kekuasaan ekspansionistik Belanda bukan hanya meluluhlantakan bangunan masyarakat tradisional Simalungun juga memproduksi perubahan struktural hingga mencerabut rakyat dalam narasi besar kekuasaan tradisional. Seturut dengan beroperasinya kekuasaan kolonial, otoritas tradisional semakin tergerus dalam tubuh kekuasaan kolonial.
Menyaksikan runtuhnya otoritas tradisional kerajaan-kerajaan di Simalungun ditambah lagi semakin merajalelanya keterasingan masyarakat akibat bekerjanya mesin kapitalisme kolonial, yang diperlihatkan dengan tegaknya arogansi industri perkebunan menghancurkan bangunan tradisional masyarakat Simalungun, mendorong Tuan Rondahaim Saragih melawan kekuasaan Belanda.
Peperangan antara pasukan Tuan Rondahaim Saragih dengan pemerintah kolonial Belanda meletup di berbagai daerah. Tuan Rondahaim Saragih melancarkan serangan dan membakar industri perkebunan yang menjadi simbol arogansi kapitalisme kolonial sekaligus berhadap-hadapan dengan mesin perang Belanda untuk mengusir penjajah dari bumi Simalungun dan Sumatra Timur.
Jangkauan perlawanannya mengempur kekuasaan kolonial Belanda meluas tidak saja di Simalungun tetapi juga sampai ke Sumatra Timur. Pasukan Tuan Rondahaim Saragih beraliansi dengan pasukan Datuk Sunggal, dikenal sebagai pencetus Perang Sunggal, menentang kehadiran pemerintah Belanda di Sumatra Timur. Sepanjang perlawannya mengusir penjajah itu, Rondahaim Saragih tidak pernah menyerah dan tidak pernah ditangkap pemerintah Belanda.
Ia, Tuan Rondahaim Saragih, yang mendapat julukan Napoleon dari Simalungun adalah satu-satunya penguasa lokal di Sumatra Timur yang sepanjang perjuangannya mengusir kekuasaan asing tidak pernah menyerah dan tidak pernah ditangkap pemerintah Belanda.
Tuan Rondahaim Saragih pejuang dari Simalungun ini sungguh-sungguh tokoh sentral dalam perlawanan masyarakat Simalungun menentang penjajahan Belanda di tanah leluhurnya, sosok pejuang tangguh yang cerdas, patriotik, dan teguh pendirian.
Bika kita bertanya, siapakah dari antara tokoh perlawanan rakyat di Sumatra Utara yang tidak pernah ditangkap dan dibunuh Belanda. Maka jawabannya hanya Tuan Rondahaim Saragih. Sisingamangaraja XII dari Tappanuli tewas ditembus peluru Belanda pada 1907, Kiras Bangun dari Batukarang Tanah Karo ditangkap dan ditahan Belanda di perladangan Riung di Batukarang. Demikian pula Datuk Sunggal Surbakti ditangkap dan dibuang oleh Belanda. Juga Raja Sintar Tuan Sang Naualuh Damanik ditahan, diadili, dan dibuang Belanda ke Bengkalis hingga akhir hayatnya pada 1913.
Kita pantas berbangga hati dan ini merupakan kebanggaan seluruh bangsa Indonesia bahwa ada salah satu putra Mutiara Bangsa ini yang memimpin perlawanan dengan teknik gerilya, membela tanah air dengan sepenuh hati, mengorbankan segala-galanya, dan dengan semangat patriotisme itu, seorang partuanan dari Raya Simalungun mampu mengorbarkan perlawanan melawan penjajah Belanda, memompa semangat prajurit dan rakyat untuk maju terus melawan Belanda hingga tetes darah terakhir.
Dan perjuangan Tuan Rondahaim Saragih pantas dicatat dengan tinta emas bahwa hanya beliau, sejauh yang diketahui, satu-satunya tokoh sentral perlawanan rakyat yang tidak mampu ditangkap dan dibunuh Belanda.
Hingga akhir hayatnya, pemerintah kolonial Belanda tidak mampu dan berani memasuki daerah kekuasaan Tuan Rondahaim di Buntu Raya mengingat semangat dan api perjuangan Tuan Rondahaim yang tidak padam-padam.
Pantas bila gelar Pahlawan Nasional disematkan kepada Tuan Rondahaim Saragih untuk melestarikan semangat patriotisme dan sikap mendahulukan kepentingan rakyat ketimbang kepentingannya sendiri. Diatei Tupa.
Gelar Pahlawan Nasional yang diterima kedua tokoh tersebut merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk terus meneladani perjuangan mereka.
Bahlil Lahadalia menilai Soeharto layak mendapatkan gelar pahlawan nasional. Ia berharap pihak yang menolak dapat menerima keputusan pemberian gelar tersebut.
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, Pemerintah Republik Indonesia kembali menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh penting dari kalangan NU
PEMERINTAH Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menggelar syukuran atas anugerah gelar pahlawan nasional kepada K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Marsinah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved