Sabtu 09 Oktober 2021, 15:30 WIB

Pengamat Imbau Publik Hentikan Tagar #PERCUMALAPORPOLISI

Mediaindonesia | Politik dan Hukum
Pengamat Imbau Publik Hentikan Tagar #PERCUMALAPORPOLISI

Dok.Metro TV
Reza Indragiri Amriel

 

RAMAI di media sosial Twitter tagar #percumalaporpolisi buntut laporan kasus bapak memperkosa tiga anak kandungnya dihentikan. Tagar yang mengandung ajakan tidak melapor ke polisi itu dinilai tidak patut.

"Ajakan untuk tidak melapor ke polisi, betapa pun dilatari kekecewaan mendalam dan itu manusiawi, tidak sepatutnya diteruskan," kata Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel dalam keterangan tertulis, hari ini.

Menurut Reza, pelaporan ke polisi perlu dilakukan. Agar kinerja polisi dapat ditakar berbasis data pada periode tertentu. "Juga ajakan tersebut (#percumalaporpolisi) bisa direspons secara salah sebagai ajakan untuk aksi vigilantisme dan ini berbahaya," ujar Reza.

Reza mengatakan, Polri perlu diberi masukan agar penyusunan laporan kinerja lebih komprehensif. Tidak sebatas jumlah laporan, tetapi mencakup jumlah kasus yang diproses sampai ke pengadilan.

"Apa dan berapa yang ditangani dengan diversi, tren tuntutan jaksa, tren vonis hakim, ragam penghukuman pemasyarakatan dan residivisme," ungkap psikolog anak itu.

Baca juga: Begini Kronologi Penghentian Kasus Bapak Perkosa 3 Anak

Menurutnya, laporan selengkap itu mengharuskan seluruh lembaga penegakan hukum untuk duduk bareng dan menyajikan laporan tunggal. Judulnya, kata dia, bisa saja laporan penegakan hukum periode tertentu.

"Dari laporan terintegrasi itulah masyarakat bisa mengukur, sudah sejauh apa sesungguhnya kerja otoritas penegakan hukum di Tanah Air," ucap dia.

Kasus pemerkosaan bapak terhadap tiga anak di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang terjadi 9 Oktober 2019 tak memiliki cukup bukti. Polres Luwu Timur dan Polda Sulsel menghentikan penyelidikan kasus tersebut.

Reza mengatakan, penerbitan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) tidak mutlak. Pada alinea terakhir SP3, kata dia, ada kalimat penanganan bisa diaktifkan sewaktu-waktu jika ditemukan bukti dan saksi yang memadai.

"Jadi, saya tetap menyemangati korban dan keluarga jika peristiwa dimaksud benar-benar terjadi untuk terus berikhtiar dan berdoa," ujar Reza. (Medcom.id/OL-4)

Baca Juga

Dok. Pribadi

DPR Papua Minta Persidangan Mahkamah Militer Kasus Mutilasi Nduga Ditunda, Dorong Peradilan Koneksitas

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Jumat 09 Desember 2022, 23:14 WIB
"Kami sayangkan bahwa persidangan di Mahmil Jayapura dan Surabaya tidak dilakukan dengan transparan. Keluarga korban tidak diberitahu...
DOK MI

Jubir Sosialisasi KUHP: Pasal Perzinaan Tak Akan Pengaruhi Sektor Pariwisata Dan Investasi

👤Widhoroso 🕔Jumat 09 Desember 2022, 21:34 WIB
PASAL perzinaan dalam KUHP yang baru dipastikan tidak akan berdampak negatif terhadap sektor pariwisata dan investasi di...
MI/ADAM DWI

Penjagaan TNI di MA Bukan Menghalangi KPK, Tetapi Mencegah 'Markus'

👤Mediaindonesia 🕔Jumat 09 Desember 2022, 21:32 WIB
Pengetatan masuk ke MA juga untuk mengantisipasi adanya upaya makelar kasus (markus) yang mencoba memengaruhi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya