Kamis 15 Juli 2021, 17:15 WIB

Dua Staf khusus Edhy Prabowo Divonis 4,5 Tahun Bui

Tri Subarkah | Politik dan Hukum
Dua Staf khusus Edhy Prabowo Divonis 4,5 Tahun Bui

Antara
Andreau Misanta Pribadi

 

SETELAH memvonis mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo pidana penjara selama 5 tahun, Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan hukuman pidana penjara 4 tahun dan 6 bulan untuk dua staf khususnya, Andreau Misanta Pribadi dan Safri.

Dalam perkara suap izin ekspor benih bening lobster (BBL), kedua stafsus Edhy tersebut masing-masing menjabat sebagai ketua dan wakil ketua tim uji tuntas (due diligence) perizinan usaha perikanan budidaya lobster. Keduanya terbukti menampung suap yang diterima dari para eksportir BBL untuk kemudian diserahkan ke Edhy.

"Menyataka terdakwa Andreau Misanta Pribadi dan Safri terbukti secara sah dan meyakinkan, bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan alternatif pertama," kata hakim ketua Albertus Usada di ruang sidang Tipikor, Jakarta, Kamis (15/7).

Selain itu, majelis hakim yang beranggotakan Suparman Nyompa dan Ali Muhtarom itu menjatuhkan pidana denda terhadap keduanya sebesar Rp300 juta subsider 6 bulan kurungan.

Menurut hakim, perbuatan kedua terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Oleh karena itu, hakim mempertimbangkannya sebagai hal pemberat putusan.

"Para terdakwa selaku staf khusus Menteri Kelautan dan Perikanan tidak memberikan teladan dalam melakukan tugasnya membantu saksi Edhy Prabowo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan," imbuh Albertus.

Baca juga: Bekas Menteri KKP Edhy Prabowo Divonis 5 Tahun Penjara

Sebagai keadaan yang meringankan dalam putusan, Andreau dan Safri dinilai majelis hakim telah bersikap sopan selama persidangan dan belum pernah dihukum. Seluruh aset Andreau juga telah disita untuk pemulihan hasil korupsi. 

Meskipun Safri telah mengembalikan uang suap yang diterima, hakim tetap menolak permohonan justice collaborator-nya. Pasalnya ia dinilai masih menjadi pelaku utama dalam perkara tersebut.

Dalam surat putusannya, hakim menyebut Andreau dan Safri telah terbukti menerima uang dari para eksportir BBL. Andreau menerima Rp10,731 miliar dan Safri menerima S$26 ribu. Keduanya diperoleh dari pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP), Suharjito.

Selain terhadap Edhy, Andreau, dan Safri, hakim juga membacakan putusan terhadap tiga terdakwa lainnya. Mereka adalah sekretaris pribadi Edhy, Amiril Mukminin (pidana penjara 4 tahun dan 6 bulan serta denda Rp300 juta subsider 6 bulan kurungan); Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) sekaligus pemilik PT Aero Citra Kargo (ACK) Siswadhi Pranoto Loe (pidana penjara 4 tahun dan denda Rp300 juta subsider 4 bulan kurungan); serta staf pribadi istri Edhy, Ainul Faqih (pidana penjara 4 tahun dan denda Rp300 juta subsider 4 bulan). (P-5)

Baca Juga

Antara/Idhad Zakaria

Penyidikan Kasus HAM Paniai Diminta Transparan 

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 23:15 WIB
Wakil Ketua Komnas HAM itu menilai pembentukan tim penyidik Kejagung itu sebagai langkah yang baik. Namun, ia menyoroti unsur masyarakat...
Ilustrasi

Tokoh Non-Parpol Punya Elektabilitas Tinggi, Butuh Logistik kuat Untuk Nyapres 

👤Putra Ananda 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 23:00 WIB
Figur kuat non-parpol dinilai sangat memahami betul bahwa elektabilitas mereka akan sia-sia apabila tidak mendapatkan restu dari...
MI/Susanto

Tuntaskan Kasus HAM Masa Lalu, Pemerintah Siapkan Lagi UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi 

👤Dhika Kusuma WInata 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 22:00 WIB
"Pemerintah juga sesuai dengan peraturan perundang-undangan sekarang ini sedang menyiapkan rancangan Undang-Undang Komisi Kebenaran...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya