Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI Covid-19 telah mengubah tatanan global dan hubungan internasional antar negara di Dunia. Adanya pandemi Covid-19 banyak negara yang harus menutup wilayahnya. Aktivitas transportasi dan pergerakan masyarakat pun dibatasi. Hubungan bilateral dan multilateral antar negara terganggu akibat pandemi ini.
"Persoalan etis, moral, keadilan, kesehatan, pemerataan akses vaksin, dan pertarungan negara-negara besar mewarnai politik global saat ini pada kondisi pandemi,” ujar Guru Besar Politik Internasional Universitas Pelita Harapan Prof. Aleksius Jemadu, Ph.D. dalam Webinar Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional, di Jakarta, kemarin
Dengan kondisi saat ini terdapat tiga tren utama politik global yaitu rasa nasionalisme yang menguat. Hal itu disebabkan adanya gerakan gotong royong untuk saling membantu satu dengan lainnya. Namun hal itu juga dibarengi melemahnya sikap multilateralisme sehingga negara tidak lagi berharap dengan program kerjasama dengan negara lain.
"Kemudian ditengah kondisi pandemi, ada persaingan bisnis global produksi vaksin diantara negara-negara. Mereka berlomba lomba menemukan vaksin penyakit ini yang harus diatasi sehingga didalamnya ada aspek bisnis yang tidak dipungkiri meskipun negara yang bayar tapi tetap perusahaan dapat diuntungkan,”kata Aleksius.
Selain itu, menurut Aleksius, kondisi politik global saat ini adanya kecurigaan publik terhadap aktor-aktor yang bermain di dalamnya. Sehingga dengan situasi pandemi covid19 ada berbagai kepentingan dan keuntungan yang ingin didapat.
“Ada hasrat-hasrat yang berkecamuk yakni hal-hal yang diuntungkan, ada kepentingan kepentingan tersembunyi dibalik aktor yang tersembunyi, ada agenda-agenda yang terselubung jadi ada kepentingan yang berkecamuk saling berbenturan satu dengan yang lain itu adalah kondisi global saat ini,” jelasnya.
Sementara itu, Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional dan Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Dr. Adi Suryadi Culla, M.A. menyatakan bahwa situasi politik global akibat pandemi menimbulkan suatu persaingan di antara negara-negara di dunia. Persaingan tersebut terlihat adanya perlombaan antara negara dalam menemukan vaksin covid-19.
“Ada dampak global yang radikal yang sangat masif dari dinamika politik global yang kita hadapi, sehingga kondisi global akibat covid menciptakan suatu persaingan,” ucap Adi.
Selain, negara-negara lain, Amerika dan China juga semakin menunjukan rivalitas antar kedua negara akibat pandemi Covid-19. “Munculnya China sebagai negara yang berhasil dalam menghadapai krisis pandemi dan perannya yang sangat penting dalam memberikan bantuan internasional, menandai semakin mencuatnya rivalitas dengan Amerika serikat,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Nasional Dr.(c) Hendra Maujana Saragih, S.IP., M.Si. menjelaskan bahwa Covid-19 sebagai babak baru dunia dimana munculnya virus ini membuat dinamika politik internasional sangat berfokus pada upaya penanganan.
“Sehingga logis jika pandemi Covid-19 bisa dijadikan sebagai babak baru dalam periodisasi politik global,” jelasnya. Alasannya, menurut hendra, karena semua negara sangat terpengaruh karena pandemi ini.
Dinamika politik global yang terjadi ditengah pandemi harus diwaspadai oleh negara-negara dan hati-hati dalam mengeluarkan kebijakan. Sehingga diperlukan proteksi terhadap warga negara.
“Resposibility to protect yakni negara hadir untuk memproteksi dan lebih hati hati dalam menjalankan kebijakan, harus lebih detil jadi bukan soal kesepakatan antar negara negara tapi manfaatnya harus dirasakan oleh warga negara,” tuturnya. (OL-13)
Baca Juga: Jokowi: ASEAN Jangan Jadi Objek Pertarungan Politik Global
Bintang kehormatan Nishan-e-Pakistan merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Pakistan kepada para pemimpin asing yang dinilai berjasa besar bagi Pakistan.
Ramaphosa bakal menyoroti komitmen untuk memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, pertanian, pariwisata, dan pertahanan.
Di Jakarta, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong bertemu dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono untuk membahas kerja sama bilateral yang sedang berlangsung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu Duta Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste Jess Dutton.
Thai Trade Center Jakarta, di bawah naungan Department of International Trade Promotion (DITP) Ministry of Commerce Thailand resmi membuka acara Thailand Week 2025 di Jakarta.
Darmawan Utomo mengapresiasi sejumlah kesepakatan penting yang dicapai Menteri Luar Negeri Republik Belarus selama kunjungannya di Indonesia.
POLITIK sering riuh oleh slogan, tapi sepi etika. Kita mudah terpukau oleh janji muluk, retorika yang memabukkan, dan klaim kemenangan seolah tanda kelayakan moral.
KPPOD menilai 25 tahun otonomi daerah menunjukkan kemajuan penurunan kemiskinan dan peningkatan IPM, namun tren resentralisasi dan ketergantungan fiskal ke pusat menguat.
Prabowo juga melantik Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK).
Mahfud mengatakan posisi Polri saat ini merupakan hasil reformasi 1998.
PKB menyebut arah kebijakan tersebut sebagai penerapan ekonomi konstitusi yang berpijak pada Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
Mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu menilai, upaya meminimalkan perbedaan pandangan menjadi penting di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved