Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGADILAN Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) kembali menggelar persidangan terdakwa kasus korupsi Imam Nahrawi, yang merupakan Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).
Dalam persidangan, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan tagihan kartu kredit Bank Mandiri sebesar Rp 244 juta atas nama Miftahul Ulum, yakni asisten pribadi Menpora. Tagihan tersebut tercantum dalam laporan fasilitas kunjungan dinas Menpora ke Kepulauan Seribu.
Bundel berisi laporan fasilitas kunjungan tersebut merinci nota pembayaran Pelangi Island dan invoice Kapal Sea Leader Marine.
Saksi Persidangan, Yuyun Sulistyawati, istri dari Miftahul Ulum, yang juga asisten pribadi istri Menpora, Shohibah, membenarkan dokumen tersebut merupakan lembar kartu kredit milik suaminya. Namun dia mengaku tidak tahu siapa yang membayar tagihan tersebut.
"Mohon maaf, saya tidak tahu (siapa yang membayar tagihan)," ucap Yuyun di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (21/2).
Jaksa pun kembali bertanya kepada saksi terkait siapa pihak yang membayar tagihan bernilai fantastis itu. "Saudara benar tidak mengetahui? Karena ini jumlah yang sangat besar. Makanya sebelumnya kami tanyakan berapa penghasilan saudara dan Pak Ulum," tanya Jaksa.
Baca juga: KPK Tetapkan Menpora Imam Nahrawi Tersangka Suap
"Mohon maaf, tidak tahu," tukas Yuyun.
Yuyun juga mengaku tidak pernah mengikuti kegiatan dinas seperti yang tertera dalam lembar tagihan tersebut. Kendati demikian, dia menyatakan pernah diajak Ulum ke Kepulauan Seribu pada Februari 2016, dengan menggunakan Kapal Sea Leader Marine.
"Bisa saya pastikan bahwa saat itu saya belum jadi asisen pribadi saudari shohibah. Posisi saya hanya sebagai istri dari saudara Ulum," tuturnya.
Diketahui, KPK menetapkan Imam Nahrawi dan asisten pribadinya, Mifathul Ulum, sebagai tersangka pengurusan dana hibah KONI dan penerimaan gratifikasi. Keduanya diduga menerima aliran dana Rp 14,7 miliar. Imam juga disinyalir meminta uang Rp 11,8 miliar selama 2016-2018.
Total uang yang diduga diterima Imam mencapai Rp 26,5 miliar. Besaran itu diduga menjadi komitmen fee atas pengurusan proposal hibah, yang diajukan pihak KONI kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga Tahun Anggaran 2018.
Imam dan Miftahul dijerat Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 12 B atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.(OL-11)
Prestasi gemilang yang ditorehkan kontingen Indonesia pada ajang SEA Games 2025 Thailand tidak hanya menjadi catatan sejarah olahraga nasional.
Presiden Prabowo Subianto menyerahkan bonus bagi atlet berprestasi SEA Games ke-33 Thailand. Ia berpesan dana tersebut dijadikan tabungan, bukan sekadar upah.
Kemenpora bersama FAO mendorong keterlibatan generasi muda Indonesia dalam sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan nasional
Kemenpora membuka peluang domino masuk agenda olahraga nasional termasuk dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir meminta masukan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat terkait program deregulasi aturan di Kementerian Pemuda dan Olahraga.
TIM bulutangkis Indonesia tengah memasuki fase pematangan menuju SEA Games Thailand 2025 yang dijadwalkan berlangsung pada 6 sampai 20 Desember.
MANTAN Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, menjadi salah satu jemaah haji yang mendapat pengalaman tidak menyenangkan saat menjalani rangkaian haji 2025 di Muzdalifah.
ATURAN mengenai remisi seharusnya tidak menyasar terhadap narapidana tindak pidana korupsi. Sebab, tindak pidana yang dilakukan para koruptor itu termasuk kejahatan luar biasa
NARAPIDANA korupsi Setya Novanto alias Setnov dan Imam Nahrawi mendapat remisi masing-masing tiga bulan. Remisi ini diberikan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 RI.
KPK menduga pungutan liar (pungli) di rumah tahanan (rutan) yang dikelolanya sudah terjadi sejak 2018. Lembaga antirasuah mengendus sejumlah kejadian mencurigakan di tahun itu.
Mantan Menpora Imam Nahrawi baru menyerahkan Rp75 juta dari total kewajiban Rp400juta.
KPK menilai vonis bagi Imam Narawi belum memenuhi rasa keadilan. Sehingga memutuskan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved