Rabu 30 Oktober 2019, 18:43 WIB

Inilah Tiga Poin Kesepahaman NasDem dan PKS

Candra Yuri Nuralam | Politik dan Hukum
Inilah Tiga Poin Kesepahaman NasDem dan PKS

ANTARA/Puspa Perwitasari
Ketum Partai Nasdem Surya Paloh (kanan) berjabat tangan dengan Presiden PKS Sohibul Iman (kedua kiri) di DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10)

 

PERTEMUAN Ketua Umum NasDem Surya Paloh dan petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menelurkan tiga poin kesepahaman. Kedua partai sepakat menghargai jalur politik masing-masing.
 
"Kedua partai bertemu dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan saling menjajaki untuk menyamakan pandangan tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dewasa ini," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKS Mustafa Kamal di Kantor DPP PKS, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Rabu (30/10).
 
Kesepahaman pertama, kata dia, kedua partai saling menghormati sikap konstitusional masing-masing. Keduanya siap bekerja bersama di luar maupun dalam pemerintahan untuk kepentingan bangsa.

"Perbedaan sikap politik kedua partai tersebut tidak menjadi penghalang bagi NasDem dan PKS untuk berjuang bersama-sama menjaga demokrasi agar tetap sehat dengan memperkuat fungsi checks and balances di DPR RI," kata Mustafa.
 
Menurut dia, sikap saling menghormati ini perlu dilakukan untuk membuat demokrasi tetap sehat. Semua langkah dilakukan demi kemakmuran bangsa.
 
"Untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia baik di bidang politik, ekonomi, keagamaan, pendidikan, kesehatan, budaya dan lainnya," ujar Mustafa.

Baca juga: NasDem Nilai Jokowi Serius Bangun Papua
 
Kedua, NasDem dan PKS senantiasa menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Aksi radikalisme yang ingin menghancurkan NKRI tak akan dibiarkan.
 
"Serta tidak memberikan tempat kepada tindakan separatisme, komunisme, terorisme, radikalisme, intoleransi, dan lainnya yang bertentangan dengan empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara," tutur Mustafa.
 
Kesepahaman terakhir, kedua partai menyadari takdir sosiologis dan historis bangsa Indonesia adalah warisan sejarah kerja sama para pendiri bangsa. Ada peran besar kelompok nasionalis yang memuliakan nilai agama dengan kelompok Islam yang memegang teguh nilai kebangsaan.
 
"Bagi generasi penerus dari dua komponen bangsa tersebut harus mampu menjaga warisan sejarah pendiri bangsa ini dengan saling menghormati, saling memahami dan saling bekerja sama, dalam rangka menjaga kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan partai atau golongan," ungkap dia. (Medcom/A-4)

Baca Juga

AFP

Kasus HAM Sulit Selesai, Komjak Soroti Landasan Hukum

👤Tri Subarkah 🕔Rabu 03 Maret 2021, 04:50 WIB
Komjak mendorong pemerintah dan DPR untuk merumuskan landasan hukum dalam bentuk undang-undang...
Antara/Indrianto Eko

Nurhadi Dituntut 12 Tahun Penjara

👤Tri Subarkah 🕔Selasa 02 Maret 2021, 22:39 WIB
Sebelum merumuskan tuntutan, JPU KPK telah memeriksa 50 orang saksi dan 2 orang ahli. Adapun barang bukti terkait kasus dugaan suap...
MI/Susanto

Yusril: Pencabutan Aturan Minol Harus Direvisi dengan Perpres Baru

👤Antara 🕔Selasa 02 Maret 2021, 21:49 WIB
Presiden harus menerbitkan peraturan presiden baru yang berisi perubahan atas peraturan tersebut, khususnya menghilangkan ketentuan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya