Kamis 09 Mei 2019, 19:46 WIB

Serang SBY, Demokrat : Kivlan Zein Jangan Tambah Lawan Politik

Rahmatul Fajri | Politik dan Hukum
Serang SBY, Demokrat : Kivlan Zein Jangan Tambah Lawan Politik

Medcom.id/M.Sholahadhin Azhar
Ketua Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean

 

KEPALA Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean meminta Mayjen (purn) Kivlan Zein untuk tidak menambah lawan politik, setelah ia melontarkan pernyataan yang menyerang Partai Demokrat dan Ketua umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Pak Kivlan jangan menambah lawan politik. Lawan yang ada sekarang saja tidak bisa dilawan, apalagi harus menambah lawan politik, tidak produktif untuk pemenangan Pak Prabowo," kata Ferdinand, ketika dihubungi Kamis (9/5).

Ferdinand mengatakan Kivlan tak tahu persis soal peran Demokrat dalam memenangkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019. Sehingga, lanjutnya, dengan mengatakan Demokrat dan SBY tidak ingin Prabowo memenangkan Pilpres adalah sebuah lelucon.

"Saya pikir Pak Kivlan menyampaikan banyak hal yang dia tidak tahu persis proses perjalanan Pilpres ini ya. Apalagi sampai menuding Pak SBY tidak ingin Prabowo menang adalah lelucon yang tidak lucu sebetulnya," kata Ferdinand.

Meski pihaknya diserang atas pernyataan itu, ia mengaku tak akan memperkarakan pernyataan Kivlan tersebut. Ia hanya memberikan saran kepada Kivlan agar tidak lagi memberikan pernyataan yang malah merugikan koalisi Prabowo-Sandi.

Baca juga : Respons Setan Gundul, Kivlan Zein Serang Andi Arief dan Demokrat

"Saran kepada senior saya Pak Kivlan untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang tidak baik dan justru kontraproduktif untuk pemenangan Prabowo-Sandi. Kita hanya ingin kawan yang lain menjaga lisannya, apalagi menuduh sembarangan itu tidak baik," kata Ferdinand.

Setelah diserang oleh pernyataan Kivlan Zein tersebut, Ferdinand mengaku masih menjalankan komitmen di tubuh koalisi Prabowo-Sandi. Setidaknya, kata ia, setelah hasil hasil resmi KPU keluar.

"Partai Demokrat akan menyelesaikan kewajiban moral politiknya hingga KPU menetapkan siapa pemenang Pemilu ini. Setelah itu kemudian Partai Demokrat akan mengevaluasi posisi politiknya, apakah akan berada di luar pemerintahan atau di pemerintahan," kata Ferdinand..

Sebelumnya, Kivlan Zein menuding Partai Demokrat yang menjadi pembajak di koalisi Prabowo-Sandi.

"Masa kita dibilang setan gundul. Orang Demokrat nggak jelas kelaminnya, SBY nggak jelas kelaminnya, dia mau mencopot Prabowo supaya jangan jadi calon presiden dengan gayanya segala macam," tutur Kivlan.

Kivlan juga mengatakan bahwa ia merupakan senior dari Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sehingga ia mengetahui tabiat juniornya tersebut, yang ia nilai licik dan ingin berkuasa secara tunggal.

"Saya tahu sifatnya mereka ini saling bersaing antara Prabowo dan SBY. Dia tak ingin ada jenderal lain yang jadi presiden, dia ingin dirinya sendiri dan dia orangnya licik. Sampaikan saja bahwa SBY licik. Dia junior saya, saya yang mendidik dia, saya tau dia orangnya licik, dia mendukung 01 waktu menang di tahun 2014," pungkas Kivlan. (OL-8)

Baca Juga

Ist/DPR

DPR: Survei dan Hitung Cepat saat Pemilu Perlu Ditertibkan

👤mediaindonesia.comm 🕔Senin 03 Oktober 2022, 14:28 WIB
Jajak pendapat memang merupakan sebuah keniscayaan, namun sayangnya terkesan survei ini menjadi persoalan di tengah-tengah kehidupan...
BPMI Setpres

Tingkat Kepuasan Jokowi Naik, Pengamat: Kebijakan BLT BBM Diapresiasi Masyarakat

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 03 Oktober 2022, 14:27 WIB
Pemberian BLT BBM sebagai kebijakan yang diambil pemerintah pascapenyesuaian harga BBM ternyata cukup diapresiasi oleh...
 MI/RAMDANI

Janji Anies, Lanjutkan Kepemimpinan Jokowi dan Beri Perubahan

👤Anggi Tondi Martaon 🕔Senin 03 Oktober 2022, 14:20 WIB
Anies menyampaikan keberlanjutan merupakan sebuah keniscayaan dalam roda pemerintahan. Harus ada keberlangsungan pembangunan antar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya