Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMILIHAN Presiden telah dilaksanakan di seluruh Indonesia. Secara umum, Warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih memilih dengan semangat tinggi untuk berpartisipasi datang ke tempat pemungutan suara.
Antusiasme publik terlihat dari membludaknya para pemilih yang datang ke TPS yang tersebar di seluruh Indonesia.
Beberapa hasil Quick Count dari berbagai lembaga survey menunjukkan keunggulan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin atas pasangan Prabowo Subinato-Sandiaga Uno.
Rata-rata hasil Quick Count dari 7 lembaga survei yang kredibel (Litbang Kompas, Indobarometer, Charta Politika, Indikator, LSI Denny JA, SMRC, dan CSIS) menunjukkan keunggulan Joko Widodo–Ma’ruf Amin sebesar 54,58% dan Prabowo Subianto–Sandiaga Uno sebesar 45,42%.
Keunggulan Joko Widodo–Ma’ruf Amin tersebut tidak berbeda jauh dari prediksi 3 skenario prediksi hasil Pilpres yang disampaikan oleh Alvara Research Center dua hari sebelum hari tenang, 12 April 2019.
Ketiga skenario tersebut menunjukkan peluang besar Joko Widodo–Ma’ruf Amin memenangkan Pilpres 2019.
Baca juga : Jokowi-Ma'ruf Bahas Rekapitulasi Suara dengan Parpol Koalisi
“Prediksi Elektabilitas Hasil Akhir yang mendekati Hasil Quick Count adalah 55,9% untuk Joko Widodo–Ma’ruf Amin dan 44,1% untuk Prabowo Subianto–Sandiaga Uno”, ujar Hasanuddin Ali, CEO Alvara Research Center dalam keterangan tertulisnya.
Ada tiga faktor kunci yang menjadi keunggulan Joko Widodo–Ma’ruf Amin tersebut yaitu, pemilih Jawa, Pemilih NU, dan Pemilih Minoritas.
Berbeda dengan hasil Pemilu Presiden 2014, yang menunjukkan Joko Widodo hanya unggul tipis di Pulau Jawa, pada Pemilu Presiden 2019 kali ini, Joko Widodo–Ma’ruf Amin unggul tebal di pulau Jawa.
Data survei Alvara Research Center bulan Oktober–April 2019 menunjukkan elektabilitas Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin selalu diatas 58%, bahkan mendekati 60%.
“Jawa benar-benar menjadi lumbung suara bagi pasangan Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin ,“ ujar Hasanuddin Ali.
Keunggulan di Jawa menjadi sangat penting karena pemilih di Jawa menyumbang 57,84% dari total pemilih nasional.
“Selain itu keunggulan Joko Widodo–Ma’ruf Amin di Jawa menjadi kompensasi atas kekalahan di Sumatera yang semakin telak, dan di Sulawesi yang persaingannya semakin ketat antar kedua kandidat,” imbuh Hasanuddin
Faktor kedua kemenangan Jokowi adalah karena dukungan pemilih dari kalangan Nahdlatul Ulama.
Analisa Alvara menunjukkan besarnya dukungan Nahdliyin kepada Joko Widodo–Ma’ruf Amin merupakan salah satu faktor kunci dalam pilpres 2019 ini.
“Di saat pemilih Muhammadiyah memberikan dukungan yang besar kepada pasangan Prabowo–Sandi dan ketatnya elektabilitas pada pemilih yang bukan anggota Ormas, pemilih dari Nahdlatul Ulama menunjukkan soliditasnya hingga detik terakhir dalam mempertahankan keunggulan Jokowi–Ma’ruf," ungkap Hasanuddin.
Baca juga : Jokowi: Quick Count Biasanya Sama dengan Hasil KPU
Hasannudiin menegaskan, pemilihan Ma’ruf Amin sebagai Cawapres mendampingi Joko Widodo adalah strategi yang tepat dalam pertarungan Pilpres 2019.
Sumbangan suara Nahdiliyin bagi Joko Widodo–Ma’ruf Amin bisa terlihat dari besarnya elektabilitas pasangan ini di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
“Pemilih Nahdliyin mayoritas berasal dari dua propinsi ini”, ujar Hasanuddin.
Faktor ketiga yang menjadi kunci kemenangan Joko Widodo–Ma’ruf Amin adalah solidnya pemilih minoritas mendukung Joko Widodo–Ma’ruf Amin.
”Hasil Quick Count di provinsi-provinsi di Indonesia Timur seperti Bali, NTT, Sulut, Papua menunjukkan margin keunggulan yang sangat tebal bagi Joko Widodo–KH Ma’ruf Amin ”.
Di sisi lain, di kalangan pemilih Muda yang merupakan pemilih dengan kompossisi terbesar di Indonesia pada Pilpres 2019, yaitu 44,48% pemilih di Indonesia berusia 17–36 tahun, dukungan terbagi rata.
Namun berbeda dengan pemilih dewasa, yaitu GEN X dan Baby Boomers dimana Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendapatkan keunggulan tebal,. “Pemilih muda, GEN Z dan Milenial terbagi rata ke kedua kandidat,“ ujar Hasanuddin Ali. (RO/OL-8)
KPK menetapkan Hasto Kristiyanto sebagai tersangka suap terkait buronan Harun Masiku. Hasto disebut aktif mengupayakan Harun memenangkan kursi anggota DPR pada Pemilu 2019.
Bagi Mahfud, batalnya memakai kemeja putih tersebut lima tahun lalu menyimpan pesan tersendiri.
KPID Sulawesi Selatan mengaku belum bisa menindak caleg dan parpol yang mulai mencuri start pada Pemilu 2024.
PENDUKUNG Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kini berbalik mendukung calon presiden (capres) Prabowo Subianto jelang Pilpres 2024.
Beberapa upaya dari KPU untuk mencegah terjadinya kembali korban jiwa dari petugas KPPS.
"Mas Ganjar kan enggak nyapres, enggak nyapres beliau," kata Immanuel di Jakarta, Minggu.
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) didesak segera memanggil Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk diperiksa sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi kuota haji 2023-2024.
KPU menegaskan akan menindaklanjuti putusan Majelis Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) yang memerintahkan pembukaan dokumen ijazah jokowi dalam proses pencalonan Pemilu 2014 dan 2019.
POLEMIK ijazah Jokowi yang terus berlarut dinilai tidak lagi menyentuh kepentingan publik dan cenderung bergeser menjadi isu politik yang diproduksi berulang.
Lima menteri turut tergugat, yakni Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri ATR/BPN, Menteri ESDM, dan Menteri Investasi dan Hilirisasi.
Profil lengkap Jenderal Gatot Nurmantyo. Simak rekam jejak karier Panglima TNI ke-16, pemikiran Proxy War, hingga peran di gerakan KAMI.
Relawan Jokowi mengklaim Presiden Jokowi telah memaafkan Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis. Polisi diminta mempertimbangkan pencabutan status tersangka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved