Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SUATU hari putri kami mengkritik keras bahwa grup-grup medsos yang paling tak penting ialah milik para orangtua. Ini berdasarkan cerita pengalaman para orangtua teman-temannya, dan tentu sering pula mendengar dari kami betapa riuhnya grup-grup medsos, termasuk konten-konten berisi SARA.
Kata putri kami, yang mahasiswa semester akhir, para orangtua mudah percaya pada hoax dan baper (bawa perasaan) alias sensitif jika membaca tulisan yang tak cocok. “Kita (ia dan teman-temannya sesama mahasiswa) sering ngobrol membahas grup-grup medsos para orangtua masing-masing. Mereka sepakat, para orangtua penuh basa-basi, hanya mengulang-ulang, mengucapkan ‘selamat pagi’, ‘tetap bersemangat’, ‘jangan lupa berdoa’, dan seterusnya. La, kayak gitu tiap hari apa pentingnya?
Kayak anak kecil aja,” katanya serius. Kami (saya dan istri) justru tertawa terbahak-bahak karena tak menyangka dikritik begitu keras. Sementara itu kami merasa dengan ‘basa-basi’ di grup medsos telah melakukan kebajikan. Rupanya mereka, anak-anak muda, juga tak mudah copy-paste lalu mengirimkan berita atau konten-konten yang tidak jelas. Mereka merasa bisa mencari sendiri sumber beritanya.
Wajar juga jika hasil penelitian bersama Kemendikbud dan Kemenkominfo pada 2015 menyebutkan bahwa orangtua umumnya, termasuk yang sudah profesor dan doktor, lebih percaya hoax jika dibandingkan dengan anak-anak muda. Wajar pula jika berniaga berita dusta pasarnya bagus di Indonesia.
Negeri yang kerap diberitakan gairah keberagamannya tengah meningkat, tapi suka dengan berita dusta. Karena itu, para pelakunya (pembuat berita dusta) pun harus bekerja serius. Ada yang memprediksi keuntungan mereka berniaga berita dusta mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.
Terlebih menjelang pemilihan presiden, gubernur, kabupaten/kota, harga berita dusta bisa melonjak tajam. Kini, para produsen berita dusta satu per satu ditangkap Tim Siber Bareskrim Polri. Merekalah, lewat kelompok Saracen, menjadi ‘pabrik’ berita bohong alias hoax. Merekalah yang membuat media sosial terus panas setiap saat.
Publik nanti akan kian tahu lagi bagaimana mereka bekerja, sindikat produsen berita dusta, provokatif, dan bermuatan SARA itu. Saracen merupakan sindikat pembuat dan penyebar kebencian di media sosial. Mereka ialah JAS, 32, MFT, 43, dan SRN, 32. JAS merupakan ketua dari sindikat Saracen, sedangkan MFT berperan sebagai ketua bidang media informasi dan SRN sebagai koordinator wilayah Cianjur, Jawa Barat. MFT ternyata ditangkap pada 21 Juli 2017.
Saracen memiliki 800 ribu akun yang menjadi ‘kaki tangan’ untuk menebar berita dusta. Terungkap pula ada 2.000 akun yang bertugas khusus untuk memojokkan Islam dan 2.000 akun pula untuk memojokkan agama Kristen, serta puluhan ribu akun dipakai untuk menyerang pemerintah, tokoh politik, dan yang lain-lain.
Uang bagi mereka adalah segalanya. Karena itu, tak peduli barang dagangan yang mereka jajakan berupa kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Mereka tak peduli bangsa ini terkuras energinya untuk saling memaki.
Bisa jadi pesan-pesan kebencian yang membanjiri media sosial selama berbulan-bulan itu sumbernya dari situs-situs yang mereka kelola, seperti Saracen News, Saracen Syber Tem, dan Saracennewscom.
Seperti juga pedagang, para pengelola Saracen juga menawarkan konten dengan harga yang cukup tinggi. Dugaan itu muncul setelah polisi menemukan adanya proposal pembuatan konten SARA di kantor pelaku. Dalam proposal itu disebutkan bahwa harga pembuatan konten SARA berkisar Rp75 juta-Rp100 juta.
Ada yang mengatakan bisnis berita dusta setahun bisa mencapai Rp360 miliar. Selain dari penawaran lewat proposal, jika akun mereka ramai dikunjungi, juga akan mendapatkan keuntungan dari iklan. Sayangnya mereka tak peduli dengan apa isi dagangan mereka, yang ternyata menyuburkan kebencian sesama warga bangsa.
Tentu yang menarik ialah para konsumennya. Siapa para penggemar dan pelanggannya? Siapa yang mau beli konten yang bermuatan SARA? Polisi kini tengah mencari tahu dugaan keterlibatan pilitikus.
Politikus atau mereka yang mempunyai kepentingan jahat, mencapai tujuan dengan segala cara, memang harus dibongkar tuntas. Kita menunggu siapa saja para pelanggan berita dusta dan SARA, para pengacau negara.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved