Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Berniaga Dusta

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
25/8/2017 05:31
Berniaga Dusta
(thinkstock)

SUATU hari putri kami mengkritik keras bahwa grup-grup medsos yang paling tak penting ialah milik para orangtua. Ini berdasarkan cerita pengalaman para orangtua teman-temannya, dan tentu sering pula mendengar dari kami betapa riuhnya grup-grup medsos, termasuk konten-konten berisi SARA.

Kata putri kami, yang mahasiswa semester akhir, para orangtua mudah percaya pada hoax dan baper (bawa perasaan) alias sensitif jika membaca tulisan yang tak cocok. “Kita (ia dan teman-temannya sesama mahasiswa) sering ngobrol membahas grup-grup medsos para orangtua masing-masing. Mereka sepakat, para orangtua penuh basa-basi, hanya mengulang-ulang, mengucapkan ‘selamat pagi’, ‘tetap bersemangat’, ‘jangan lupa berdoa’, dan seterusnya. La, kayak gitu tiap hari apa pentingnya?

Kayak anak kecil aja,” katanya serius. Kami (saya dan istri) justru tertawa terbahak-bahak karena tak menyangka dikritik begitu keras. Sementara itu kami merasa dengan ‘basa-basi’ di grup medsos telah melakukan kebajikan. Rupanya mereka, anak-anak muda, juga tak mudah copy-paste lalu mengirimkan berita atau konten-konten yang tidak jelas. Mereka merasa bisa mencari sendiri sumber beritanya.

Wajar juga jika hasil penelitian bersama Kemendikbud dan Kemenkominfo pada 2015 menyebutkan bahwa orangtua umumnya, termasuk yang sudah profesor dan doktor, lebih percaya hoax jika dibandingkan dengan anak-anak muda. Wajar pula jika berniaga berita dusta pasarnya bagus di Indonesia.

Negeri yang kerap diberitakan gairah keberagamannya tengah meningkat, tapi suka dengan berita dusta. Karena itu, para pelakunya (pembuat berita dusta) pun harus bekerja serius. Ada yang memprediksi keuntungan mereka berniaga berita dusta mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.

Terlebih menjelang pemilihan presiden, gubernur, kabupaten/kota, harga berita dusta bisa melonjak tajam. Kini, para produsen berita dusta satu per satu ditangkap Tim Siber Bareskrim Polri. Merekalah, lewat kelompok Saracen, menjadi ‘pabrik’ berita bohong alias hoax. Merekalah yang membuat media sosial terus panas setiap saat.

Publik nanti akan kian tahu lagi bagaimana mereka bekerja, sindikat produsen berita dusta, provokatif, dan bermuatan SARA itu. Saracen merupakan sindikat pembuat dan penyebar kebencian di media sosial. Mereka ialah JAS, 32, MFT, 43, dan SRN, 32. JAS merupakan ketua dari sindikat Saracen, sedangkan MFT berperan sebagai ketua bidang media informasi dan SRN sebagai koordinator wilayah Cianjur, Jawa Barat. MFT ternyata ditangkap pada 21 Juli 2017.

Saracen memiliki 800 ribu akun yang menjadi ‘kaki tangan’ untuk menebar berita dusta. Terungkap pula ada 2.000 akun yang bertugas khusus untuk memojokkan Islam dan 2.000 akun pula untuk memojokkan agama Kristen, serta puluhan ribu akun dipakai untuk menyerang pemerintah, tokoh politik, dan yang lain-lain.

Uang bagi mereka adalah segalanya. Karena itu, tak peduli barang dagangan yang mereka jajakan berupa kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Mereka tak peduli bangsa ini terkuras energinya untuk saling memaki.

Bisa jadi pesan-pesan kebencian yang membanjiri media sosial selama berbulan-bulan itu sumbernya dari situs-situs yang mereka kelola, seperti Saracen News, Saracen Syber Tem, dan Saracennewscom.

Seperti juga pedagang, para pengelola Saracen juga menawarkan konten dengan harga yang cukup tinggi. Dugaan itu muncul setelah polisi menemukan adanya proposal pembuatan konten SARA di kantor pelaku. Dalam proposal itu disebutkan bahwa harga pembuatan konten SARA berkisar Rp75 juta-Rp100 juta.

Ada yang mengatakan bisnis berita dusta setahun bisa mencapai Rp360 miliar. Selain dari penawaran lewat proposal, jika akun mereka ramai dikunjungi, juga akan mendapatkan keuntungan dari iklan. Sayangnya mereka tak peduli dengan apa isi dagangan mereka, yang ternyata menyuburkan kebencian sesama warga bangsa.

Tentu yang menarik ialah para konsumennya. Siapa para penggemar dan pelanggannya? Siapa yang mau beli konten yang bermuatan SARA? Polisi kini tengah mencari tahu dugaan keterlibatan pilitikus.

Politikus atau mereka yang mempunyai kepentingan jahat, mencapai tujuan dengan segala cara, memang harus dibongkar tuntas. Kita menunggu siapa saja para pelanggan berita dusta dan SARA, para pengacau negara.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.