Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Gedung Baru DPR

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
24/8/2017 05:31
Gedung Baru DPR
(MI/SUSANTO)

TERUS terang selama ini saya termasuk yang berpandangan DPR tidak perlu gedung baru. Saban kali muncul gagasan membangun gedung baru, saban kali itu pula saya berpendirian yang sama, menolaknya. Sampai kemudian saya mendengar kabar, lift di gedung itu jatuh. Seorang rekan anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah berada di dalamnya. Kabar itu mendorong saya berpikiran kiranya ada baiknya beranjang sana ke gedung DPR.

Itulah yang saya lakukan kemarin, bersama seorang rekan wartawan senior Kleden Suban, mengunjungi gedung DPR. Ketika tiba di lantai 22, tempat Fraksi NasDem, seorang petugas keamanan bertanya mau ke mana, spontan saya jawab, "Mau jalan-jalan." 'Jalan-jalan' ke Gedung DPR itu membawa kami antara lain ke sebuah ruangan tempat tenaga ahli bekerja.

Dalam ruangan 12 m2 itu bekerja 8 orang, padahal agar bisa lega bekerja ruangan itu sebaiknya hanya untuk empat orang. Mereka bagaikan sardencis. Benar lift di gedung itu telah berkali-kali jatuh. Terakhir itu terjadi dua pekan lalu. Tidak terjadi malapetaka, yang dibahasakan sebagai 'untunglah', karena jatuh dari lantai 1.

Gedung DPR itu resmi dipakai pada tanggal keramat di zaman Pak Harto, 11 Maret 1997. Masih terpampang jelas prasasti peresmiannnya, yang ditandatangani Ketua DPR H Wahono. Dari segi usia (20 tahun), gedung itu belum tua, tapi dari segi daya dukung telah melewati batas. Gedung itu dirancang untuk dihuni 800 orang, kini dihuni 4.000, alias lima kali lipat.

Di zaman otoriter itu, misalnya, tidak perlu benar anggota DPR punya tenaga ahli. DPR kerjanya kor menyetujui apa yang diinginkan eksekutif. Legislatif cuma tukang stempel, sebutlah dalam hal menyetujui rancangan undang-undang yang umumnya diproduksi pemerintah. Di era demokrasi, DPR diasumsikan mampu memiliki inisiatif sendiri dalam memproduksi undang-undang.

Tiap fraksi hendaknya punya pandangan yang berbobot, yang antara lain berkat dukungan tenaga ahli. Bila satu fraksi 'hanya' punya 20 tenaga ahli, itu berarti di gedung itu sedikitnya ada 200 tenaga ahli. Belum lagi tenaga ahli sang wakil rakyat. Di sisi lain, jumlah kursi DPR terus bertambah. Pada 1997, ketika gedung itu diresmikan hanya 425 kursi, sekarang 560 kursi. Pada Pemilu 2019 bertambah 15 kursi, menjadi 575 kursi.

Itu berarti juga pertambahan jumlah tenaga ahli sehingga ruang kerja kian padat dan sumpek. Karena itu, dari segi kenyamanan dan keselamatan, DPR perlu gedung baru. Gedung untuk kerja, bukan apartemen untuk tempat tinggal anggota DPR. Itulah yang diputuskan Ketua DPR Setya Novanto.

proyek apartemen itu, menurut Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, karena Novanto tidak ingin terus menjadi polemik. Di masa awal saya menjadi reporter (1980), mudah mencari anggota DPR yang tinggal di flat di kompleks DPR. lat itu kemudian dirobohkan. Tak ada lagi wakil rakyat yang tinggal di situ.

Saya sendiri kini setuju negara kembali membangun hunian bagi mereka di kompleks itu berupa apartemen, bukan yang mewah, dan sebagai 'gantinya', semua kompleks perumahan DPR baik di daerah Kalibata maupun Ulujami dirobohkan untuk dibangun rusunawa bagi rakyat. Yang perlu dipertanyakan justru apa perlunya di kompleks parlemen dibangun alun-alun demokrasi, seperti menghidupkan kembali alun-alun sebagai tempat topo pepe agar raja mendengar 'suara' rakyat.

Di Keraton Yogyakarta, topo pepe ialah aksi warga menjemur diri di alun-alun sampai mendapat jawaban dari ngarso dalem, sang raja. Sejarah kiranya kuburan buat aristokrasi. Ini zaman demokrasi langsung yang menuntut wakil rakyat turun ke rakyat, menjemput protes rakyat, bukan malah rakyat yang datang untuk topo pepe di alun-alun di kompleks parlemen.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.