Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Jokowi menuai pujian hebat atas dua perkara besar berkaitan dengan acara dan upacara memperingati hari proklamasi kemerdekaan ke-72 RI.
Pertama karena dikenakannya pakaian adat dan kedua karena hadirnya semua mantan presiden dan wakil presiden, khususnya SBY dan Megawati di istana.
Kedua tokoh itu lebih dari 13 tahun tidak bertegur sapa.
Pada 17 Agustus lalu mereka bersalaman di istana disaksikan Ibu Ani Yudhoyono dan Menko Puan Maharani.
Peristiwa itu mendapat perbincangan luas, fotonya beredar di media sosial, dan Presiden Jokowi mendapat apresiasi hebat karena mempersatukan pemimpin bangsa.
Kiranya kisah lama perihal seorang menteri, pembantu presiden, yang 'diam-diam' mencalonkan diri menjadi presiden, kemudian bersaing dalam pilpres, tutup buku. Kala itu SBY menko polkam, Megawati Presiden RI.
Keduanya bertarung dalam Pilpres 2004.
Pertarungan berlangsung dua putaran dan dimenangkan SBY.
Mencalonkan diri menjadi capres merupakan hak konstitusional warga.
Pokok persoalan bukan pada pencalonan, bukan pula pada siapa menang atau kalah, melainkan pada kata 'diam-diam'.
SBY sepertinya 'lupa', Megawati-lah yang mengangkatnya kembali menjadi menko polkam setelah dipecat Gus Dur.
Sekali lagi, berkat Presiden Jokowi, kiranya semua itu telah menjadi masa lalu.
Semua mantan presiden, apa pun riwayat hubungan masing-masing, personal maupun official, sama-sama merayakan kemerdekaan RI dengan semangat satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, yaitu Indonesia Raya.
Jokowi bukan tipe presiden yang gemar muluk-muluk, yang dikemas dalam slogan dan tema besar.
Tema perayaan kemerdekaan RI kali ini ialah Kerja bersama.
Tema itu sangat bersahaja, yang tetap konsisten berkaitan dengan nama kabinet Jokowi, Kabinet Kerja.
Berkuasa tidak selalu diisi dengan kerja, tetapi dengan omong, bahkan mulut sampai berbusa-busa. Itu jelas bukan Jokowi.
Ia, misalnya, tidak pernah 'berbicara' perihal mempertemukan SBY-Megawati, tetapi ia 'mengerjakannya'.
Kerja merupakan napas utama kepemimpinannya dan dalam hasil kerja ia mengekspresikan kekuasaannya, bukan dengan menjadi otoriter dan diktator seperti tuduhan oposisi.
Hasil kerja bersama itu nyata, antara lain pembangunan infrastruktur yang bukan saja dapat diperiksa hasilnya, melainkan juga dapat dirasakan dan dinikmati.
Sebentar lagi terwujud sebuah sejarah baru pelayanan kepublikan di ibu kota negara, orang naik kereta api dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta tanpa kemacetan.
Suatu hari belum lama berselang, seorang rekan asal Jawa Barat dengan bangganya memperlihatkan kepada saya secara visual perkembangan pembangunan Bandara Kertajati Majalengka.
Tahap awal terminal utama penumpang bandara itu seluas 96 ribu m2, dapat menampung 11 juta penumpang.
Diperkirakan, bandara itu dapat beroperasi tujuh bulan lagi (Maret 2018).
Siapa pun dapat melihat dan merasakan pembangunan infrastruktur lainnya di perbatasan Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Nugini.
Dulu anak bangsa malu bila keadaan di negeri sendiri dibandingkan dengan negara tetangga.
"Kita ingin rakyat di perbatasan, di pulau-pulau terdepan, menjadi semakin bangga menjadi warga negara Indonesia dan menjadi semakin semangat untuk menjaga Tanah Air-nya," kata Jokowi.
Semua itu hasil kerja bersama.
Bukan kerja sendiri-sendiri.
Mengurus dan membangun negeri ini bukan semata kerja presiden yang sedang berkuasa, melainkan semua anak bangsa, termasuk para mantan presiden, dan tentu mereka yang juga berkuasa di DPR yang menjadi oposisi.
Merayakan kemerdekaan RI jelas juga terkandung makna kontekstual, bahwa beroposisi tidak berarti buta terhadap semua realitas positif yang dikerjakan komponen bangsa bersama Presiden Jokowi.
Presiden yang sehat rohani dan jasmani dan kinerjanya nyata jelas bukan pula presiden yang lebih gemuk, seperti doa seorang oposisi di DPR.
Lebih gemuk badannya, apalagi kantongnya karena korupsi.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved