Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PAGI pekan lalu pemuda berbadan ceking itu dengan ceria lewat di depan rumah. Seperti para penjual bendera keliling di musim agustusan, ia menjajakan dagangannya dengan gerobak. Ikatan bambu, bendera sang dwiwarna, umbul-umbul, spanduk, serta aneka properti hiasan agustusan masih penuh.
Ia memakai kaus oblong merah putih dengan gambar Bung Karno yang tengah berpidato dengan tangan kanan menunjuk ke muka. Gambar agustusan yang khas dan berjiwa. Tak hanya itu, sang penjaja pun mengenakan ikat kepala dwiwarna dengan dua ujung yang dijuraikan. Penjaja bendera yang berbeda! Saya tahu kemudian namanya Zulkifli, asal Cirebon. Ada banyak penjual bendera musiman seperti Zulkifli.
"Cuma memasang satu bendera, Pak?" tanyanya tenang seraya melihat bendera kecil yang terpasang di depan rumah. "Memangnya mesti berapa?" Saya balik bertanya dengan nada agak tinggi. Setiap agustusan saya memang hanya mengibarkan satu bendera di depan rumah. "Setahun sekali menghormati Indonesia agar lebih kuat dan bermartabat, Pak." Apa hubungannya martabat Indonesia dengan bendera dan 'benda-benda perayaan kemerdekaan'? Saya bertanya.
Ia pun bercerita memasang bendera dan umbul-umbul adalah kebanggaannya. Pekerjaan tetapnya jualan tanaman hias. Setiap Agustus ia beralih jualan bendera, dan menjelang tahun baru ia jualan terompet. Namun, katanya, menjual bendera dan properti agustusan seperti ada getaran semangat. Rasanya ia seperti ikut berjuang waktu revolusi kemerdekaan. Guru sejarahnya waktu SMP dulu memang pencerita sejarah yang inspiratif. Zulkifli menjadi suka sejarah.
Tanpa banyak tanya lagi saya beli dua lembar bendera berukuran lebih lebar dari yang telah ada, dua tiang, dan sebuah umbul-umbul. Dengan cekatan ia ikat tali-tali bendera dan umbul-umbul itu ke tiang-tiang bambu. Dengan cepat pula ia pasang di dua sisi pintu gerbang. Naik dengan cepat ke atas tembok dan mengikat dua tiang bendera dengan cepat pula. Segera ia melompat turun dan angin bertiup.
Dua bendera dan umbul-umbul segera berkibar-kibar. "Tuh, Pak, langsung berkibar. Bergetar-getar. Indah sekali sekali kan, Pak?" katanya seraya memberi hormat kepada bendera bendera-bendera tu. Ia menambahkan betapa bahagia setiap menyaksikan sang dwiwarna jajaannya berkibar.
Baru kali ini saya memasang lebih dari satu bendera menyambut 17 Agustus. Baru kali ini pula memasang umbul-umbul. Baru kali ini pula bertemu penjaja bendera yang sangat 'ideologis'. Saya melihat bukan semata strategi jualan. Ia seperti menghayati betul 'merah putih' dalam konteks hari ini.
Saya melihat di lingkungan rumah, semangat menghias dengan 'properti agustusan' terasa lebih meriah. Bendera, umbul-umbul, dan aneka hiasan warna merah putih memenuhi jalanan dan depan rumah. Para ibu dan remaja mengumpulkan sumbangan lebih banyak. Mata lomba yang digelar juga makin beragam. Untuk pertama kali bahkan ada lomba tumpeng Ibu-ibu. "Ini memang agustusan paling meriah setelah tiga tahun vakum," kata seorang ibu.
Lagu-lagu perjuangan juga menggema dari beberapa lokasi perayaan. Di media sosial lagu Indonesia Raya, Berkibarlah Benderaku, Garuda Pancasila, dan Rayuan Pulau Kelapa dengan berbagai aransemen dan ilustrasi gambar juga membanjiri media sosial. Saya merasakan masih banyak bangsa ini yang mencintai negerinya.
Di Istana Merdeka, perayaan peringatan 17 Agustus juga mendapat banyak apresiasi karena para tamu undangan mengenakan pakaian daerah, termasuk Presiden Joko Widodo dan para mantan presiden dan mantan wakil presiden. Mereka seperti tengah membangkitkan semangat lama yang telah dilupakan.
Seluruh mantan presiden dan wakil presiden hadir paling lengkap kali ini. Joko Widodo mengenakan pakaian adat Batu Licin, Kalimantan Selatan, BJ Habibie dan Jusuf Kalla mengenakan pakaian tradisional Bugis, Susilo Bambang Yudhoyono mengenakan pakaian tradisional Sumatra Selatan. Foto ini pun viral di media sosial. "Alhamdulillah rukun sederetan. Seneng lihatnya," Dessy Ummu Rizky merespons foto Joko Widodo bersama BJ Habibie, Megawati, dan SBY. 'Mudah-mudahan memberikan contoh yang dilakoni secara nyata kerukunan kehidupan berbangsa', tulis pengajar ekonomi Universitas Lampung, Agus Nompitu.
Semarak pakaian daerah, saya kira penting untuk melawan lupa bahwa kita mempunyai kekayaan pakaian adat dan daerah. Bukan untuk membangkitkan semangat primordialisme, justru ingin menegaskan, Indonesia memang kaya, beragam, tetapi satu. Komentar positif itulah umumnya yang kita baca dan dengar. "Nah begitu, dong. Kalau pemimpinnya rukun, kan kita juga seneng. Kalau mereka berantem, kita juga ikut pusing," kata Untung, tukang batu di rumah, secara spontan setelah melihat di media sosial foto para pembesar itu viral.
Rakyat memang bersahaja dan tulus; ikut senang melihat pemimpin berkumpul dan bertegur sapa. Megawati sendiri sejak 10 tahun ketika SBY menjadi presiden tak pernah hadir di Istana untuk peringatan kemerdekaan. SBY juga baru kali ini hadir pada peringatan proklamasi kemerdekaan di Istana setelah tak menjadi presiden.
Saya merasakan peringatan 17 Agustus kali ini memang terasa lebih punya makna. Mungkin karena belakangan rajutan kebangsaan Indonesia agak terganggu. Peringatan proklamasi kemerdekaan kali pun menjadi semacam peneguhan bahwa terlalu sayang Indonesia untuk tidak dicintai.
Terima kasih, Zulkifli, yang telah mengingatkan saya tentang Indonesia lewat bendera. Terima kasih kepada para penjual bendera yang telah memeriahkan Indonesia.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved