Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
DI awal bulan kemerdekaan ini seorang lelaki dibakar massa dengan beringas. Lelaki itu, Muhammad Al Zahra alias Zoya, ayah seorang anak yang kini istrinya tengah hamil anak kedua. Warga Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, itu dibunuh massa yang beringas karena disangka mencuri amplifier di sebuah musala. Selasa sore pekan silam Zoya menemui ajal di sebuah ruang terbuka. Kita tahu seperti umumnya pengadilan jalanan; tuduhan massa segera disematkan, sidang atas nama 'terdakwa' pencuri segera dilakukan, dan 'vonis mati' segera dijatuhkan.
Tubuh yang tak berdaya karena aneka siksaan itu akhirnya dibakar hidup-hidup. Berkali-kali seperti didengar beberapa saksi, Zoya dengan sisa tenaganya yang nyaris punah sempat membantah, ia bukan pencuri. Namun, apa lacur, api segera mengepung tubuhnya. Siti Zubaedah, istri Zoya, tak percaya suaminya maling pengeras suara.
Zoya ialah seorang tukang servis elektronik dan jual beli amplifier bekas yang saban hari berkeliling Bekasi. Kesaksian Siti sejak ia menikah, tak pernah Zoya berbuat kriminal. Akan tetapi, lagi-lagi, pengadilan jalanan selalu menafikan pembelaan apa pun sebab siapa pun yang menjadi ‘terdakwa’ ia harus bersalah. Di negeri ini bukan kali ini saja pengadilan jalanan digelar dengan akhir vonis mati.
Berkali-kali ini kita membaca berita terduga pencuri, umumnya pencuri sepeda motor, dibakar massa. Kenapa Zoya kemudian juga dibakar, juga karena ada yang berteriak ia pencuri sepeda motor. Padahal, semula lelaki malang ini akan dibawa ke balai desa yang tak jauh lokasinya. Namun, teriakan 'pencuri sepeda motor' akhirnya menjadi dasar massa menghabisi Zoya di jalanan. Terlebih lagi, di daerah itu, pencurian sepeda motor kerap terjadi.
Belum lama berselang kendaraan bermotor roda dua hilang ketika pemiliknya tengah salat Isya. Maka, ada semacam kegeraman yang menggumpal untuk membuat perhitungan semaksimal mungkin ketika pelaku pencurian bisa ditangkap. Bulan Juli silam di Pamekasan, Madura, seorang yang diduga pencuri sepeda motor juga dibakar massa.
Video tindakan sadis itu diunggah ke Youtube. Dalam gambar hidup berdurasi 2 menit itu terlihat pria malang itu diinterogasi dengan posisi tangan terikat. Proses pembakaran itu memang tak terlihat. Namun, terlihat tubuh yang terbakar itu bergulung-gulung di tanah seraya mengerang kesakitan. Kita selalu gagal memahami bagaimana keberingasan membakar tubuh berulang-ulang terjadi untuk mereka yang belum tentu bersalah.
Inilah negara hukum dengan pengadilan jalanan yang tinggi jumlahnya. Berkali-kali setiap ada pengadilan jalanan yang mengerikan seperti itu, selalu ada imbauan agar massa tak main hakim sendiri. Namun, ‘main hakim sendiri’ rupanya menjadi kegemaran kita. Polisi beberapa kali bisa mencegah penghakiman massa, tetapi tidak sedikit yang lewat, termasuk Zoya. Pencurian kendaraan bermotor di Indonesia memang tinggi.
Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2015 pencurian kendaraan bermotor di Indonesia jumlahnya cukup tinggi, yakni 40 ribu kasus. Jawa Barat, Sumatra Utara, DKI Jakarta, Sumatra Barat, dan Sulawesi Selatan merupakan lima provinsi dengan jumlah kasus pencurian kendaraan bermotor tertinggi. Akan tetapi, menghukum orang-orang yang belum tentu bersalah, terlebih dengan penghakiman massa yang sadis, jelas tindakan biadab.
Dalam sebuah bangsa yang religius, fakta ini jelas mencengangkan. Bukankah ada adagium hukum berkata, "Lebih baik membebaskan 1.000 orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah?" Organisasi Kesehatan Dunia pernah mengungkap, tak ada benua, negara, yang luput dari kekerasan. Bahkan, Jepang bangsa yang semula amat rendah tingkat kekerasannya juga tak terhindarkan. Benarkah kita mewarisi kebuasan primata? Padahal, umumnya primata bisa beringas karena kebutuhan fisik atau untuk membela diri. Akan tetapi, manusia membunuh untuk alasan-alasan yang kadang sulit dipahami. Kasus di Bekasi bisa jadi masuk kategori ini.
Untunglah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Bupati Purwakarta Deddy Mulyadi berkunjung ke kediaman almarhum Zoya. Kunjungan ini penting untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga korban. Tak seharusnya orang yang belum tentu bersalah dibunuh dengan keji. Mestinya Bupati Bekasi Neneng Hasanah yang paling awal memberikan simpati. Penghakiman masa dengan stigma pencuri pastilah menimbulkan luka ganda. Duka ditinggalkan yang mati dan luka hati dituduh pencuri. Karena itu, negara bertanggung jawab untuk melenyapkan pengadilan jalanan yang mengerikan itu.*
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved