Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Desa Kita

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
04/8/2017 05:31
Desa Kita
(MI/Djoko Sardjono)

DI ‘zaman lama’ kenyamanan desa sering dipuji, tetapi juga menjadi ketenangan yang membuai. Ia bisa menjadi belenggu mereka yang ingin maju. Kota tetaplah menjadi tempat ‘pembesaran’ siapa saja yang ingin ‘menjemput masa depan’nya. Itu sebabnya, dalam sajak Menuju ke Laut, Sutan Takdir Alisyahbana berupaya meninggalkan ‘tasik yang tenang’ yang ‘diteduhi gunung yang rimbun’.

Suasana itu membuat ‘jiwa gelisah’ dan ‘gunung pelindung rasa pengalang’. Dalam masa pembangunan berpuluh tahun kemudian, desa juga tetap menjadi olok-olok; tentang kelambanan dan kemiskinan. Hanya sesekali kadang ada nada pujian; untuk ‘ketenangan’ dan sesuatu yang ‘bersahaja’. Tetapi, seperti kata Sutan Takdir, ia ketenangan yang membuai. Desa tetaplah identik dengan lokus ketertinggalan.

Namun, pembangunan yang tertumpu di kota membuat pertanian yang menjadi penopang ekonomi perdesaan menjadi tak menarik lagi. Dengan bekal seadanya, urbanisasi masif pun tak terelakkan. Berbagai program pun diluncurkan, seperti ABRI Masuk Desa dan Koran Masuk Desa, juga Kampus Masuk Desa (Kuliah Kerja Nyata).

Tujuannya tentu ikut memajukan desa. Namun, kini kota membutuhkan orang-orang terdidik dengan keterampilan memadai. Dengan pendidikan yang buruk, urbanisasi tak memberikan kontribusi berarti. Simaklah data Bank Indonesia, mengutip laporan United Nations World Urbanization Prospects (2014), dari setiap 1% urbanisasi di Indonesia hanya berkontribusi setara 2% pertumbuhan PDB.

Bandingkan dengan Tiongkok yang sebesar 6% ke PDB, Thailand 10%, dan Vietnam 8%. Menurut data itu pula, proporsi penduduk perkotaan di Indonesia mencapai 53%. Bahkan, pada 2035 diprediksi bisa mencapai 73%. Ini akan menjadi persoalan serius jika aspek permukiman, ketersediaan air bersih, pasokan energi, dan lingkungan tak bisa diatasi. Kenyataan itulah yang dihadapi banyak negara, khususnya negara-negara berkembang.

Tengoklah data BPS per September 2016, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,76 juta orang (10,70%). Dari jumlah itu di penduduk miskin di perdesaan 17,28 juta dan perkotaan 10,49 juta orang. Ini menunjukkan desa semakin tak berdaya. Otonomi daerah yang bertujuan mempercepat akselerasi pembangunan
dan kesejahteraan, hingga kini masih berkutat hanya pada gemuruh politik memperebutkan kekuasaan elite politik.

Menurut Kementerian Keuangan, ada 131 kabupaten/kota yang menghabiskan uangnya lebih dari 50%, bahkan ada yang 90%, untuk belanja pegawai. Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa ialah sebuah upaya nyata untuk mengatasi problem ketertinggalan desa. Desa punya hak untuk mengatur dirinya sendiri dan mendapat dana dari APBN dan APBD.

Untuk 74.910 desa yang tersebar di 6.445 kecamatan, 434 kabupaten, 34 provinsi, jumlahnya tak sedikit. Pada 2017 dana desa mencapai Rp60 triliun, pada 2016 Rp46,9 triliun, dan pada 2015 Rp20,7 triliun. Tahun depan menjadi Rp122 triliun. Dengan dana desa sebesar itu, kita bisa membayangkan pertumbuhan desa pada
lima atau 10 tahun ke depan.

Tertangkapnya Bupati Pamekasan Achmad Syafi i Yassin, Kepala Inspektoral Kabupaten Sucipto Utomo, Kajari Pamekasan Rudy Indra, dan Kepala Desa Dasok, Pamekasan, Agus Mulyadi oleh KPK sungguh amat mengecewakan. Apa yang menjadi kekhawatiran banyak pihak pun terbukti; dana desa menjadi sumber korupsi baru. Padahal, bulan lalu telah pula dibentuk Satuan Tugas Dana Desa yang diketuai mantan pemimpin KPK, Bibit Samad Rianto.

Di samping itu, pemerintah pusat telah berjanji akan melakukan pendampingan. Kita kecewa, alih-alih para pejabat bergairah untuk memajukan desa, tapi justru melakukan korupsi. Karena itu, menjadi amat penting, eksistensi KPK harus kian diperkuat, bukan dilemahkan, justru karena sumber korupsi menjadi bertambah. KPK harus kian memperkuat diri dan diperkuat negara, juga oleh mereka yang antikorupsi.

Kini ada sekitar 900 pengaduan tentang potensi penyelewengan dana desa, 300 kepada KPK dan 600 kepada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. KPK telah mengidentifi kasi empat celah penyelewengan dana desa, yaitu regulasi, tata laksana, pengawasan serta kualitas, dan integritas SDM yang
mengurus. Para kepala daerah harus serius membimbing aparat desa di wilayahnya untuk memenuhi standar SDM yang dibutuhkan guna mengajukan, menerima, dan mengelola dana yang tidak kecil itu. Bukan malah ikut mengorupnya.

Sesungguhnya tidak ada yang sulit untuk mengelola dan membelanjakan uang negara. Sudah ada regulasi dan aturannya. Ada pengawasnya. Yang dibutuhkan ialah komitmen membangun Indonesia. Membangun desa berarti mengatasi kesenjangan ekonomi, sebab ia bom waktu, potensi yang juga menjadi ancaman disintegrasi
bangsa. Saatnya kita membangun spirit seperti tema ulang tahun ke-72 kemerdekaan RI tahun ini, mari Kerja bersama. Untuk memakmurkan desa kita!



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.