Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Tak Biasa!

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
12/6/2015 00:00
Tak Biasa!
(ANTARA/R REKOTOMO)
SIMAKLAH dengan saksama komentar para 'komandan berwenang' TNI-Polri setiap terjadi bentrok antarmereka. Sangat khas. Saya kerap menyimak, kira-kira seperti ini, "Kami minta maaf. Biasa, itu terjadi karena kesalahpahaman darah muda. Kenakalan anak muda. Jangan dibesar-besarkan."

Kata, frasa, klausa, dan kalimat itu diproduksi dari mulut berbeda, tapi nadanya sama. Bahkan, intonasi dan ekspresi wajah sang 'komandan berwenang' ketika mengucapkan juga tak berbeda: tak bersalah. Seperti ada standar jawaban yang sama setiap bentrok antaraparat terjadi.

Saya kerap menunggu ada petinggi TNI-Polri yang berbeda nada. Misalnya bilang begini, "Kami minta maaf. Berulang kali bentrok seperti ini terjadi di antara kami. Ini memalukan. Tugas dan kehormatan tertinggi kami sebagai prajurit ialah menjaga kedaulatan negara. Bagi setiap prajurit, kemuliaan tertinggi ialah mati di medan laga. Bukan mati baku pukul dan baku tembak di antara kami sendiri, terlebih karena urusan pribadi. Kami, para atasan, memang bersalah dalam membina anak buah. Kami bertanggung jawab."

Namun, itu tak terjadi (atau saya tak mendengarnya?). Juga ketika para serdadu Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kartosuro, Jawa Tengah, berduel dengan prajurit TNI-AU di sebuah kafe, akhir Mei silam. Seorang prajurit TNI-AU, Serma Zulkifli, menemu ajal. Daftar bentrok antara TNI dan Polri pun kian panjang. Sejak 2013 saja telah lima kali bentrok di antara mereka yang terekspose media massa. Umumnya dipicu masalah sepele.

Seperti yang saya duga, seorang menteri benar-benar bilang, "Itu kenakalan anak muda. Seperti kenakalan antara satpam dan FBR kemarin.Kebetulan ini tentara. Sama aja." Pak Menteri, adakah TNI, Polri, Satpam, dan FBR sama saja?

Tentara digaji negara, senjata dibeli uang rakyat, membunuh sesama tentara yang juga telah dilatih dengan biaya negara, itu soal 'biasa'? Soal 'darah muda'? Menjadi tentara, adakah bisa ditoleransi melakukan kriminal bersembunyi di balik laku 'anak muda' atau 'remaja'? Sungguh itu mereduksi profesinalitas TNI-Polri. Kalau begini logikanya, pantaslah bentrok antaraparat negara terus terjadi. Itu dimaklumi sebagai 'kenakalan anak muda'.

Saya masih ingat ketika mendiang Presiden Soeharto mewisuda para taruna ABRI (kini TNI) pada 1980-an, bilang seperti ini, "Tentara seperti kalian disiapkan untuk menghadapi hal-hal luar biasa (perang), sedangkan hal-hal biasa, itu tugas yang harus diemban sipil."

Karena itu, retorika standar setiap ada bentrok antaraparat seperti itu betul-betul merendahkan jiwa kesatria tentara. Bukankah tentara dididik dan dilatih mengendalikan emosi dengan standar tinggi karena mereka memegang senjata? Apakah standar disiplin seperti itu telah merapuh?

Kenapa di antara aparat negara, yang mestinya menjadi teladan disiplin, ruang syakwasangka justru diperluas dan ruang kebersamaan dipersempit? Selalu, setelah konflik, para pihak menyesali, tetapi masih berulang. Dalam syakwasangka kebenaran selalu menjadi korban pertama.

Dalam tarikan konflik yang lebih luas, manusia modern--termasuk TNI-Polri--apakah tengah dilanda 'kesepian jiwa', seperti kata filsuf Hannah Arend? Laku destruksi sering kali ditandai dengan mereka yang gagal 'berdialog' dengan dirinya sendiri. Ditambah, tak ada 'pembimbing dialog' yang dinilai punya perbawa. Baku bunuh antaraparat itu bukan soal biasa!

Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.