Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Indonesia Bangga

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
02/8/2017 05:31
Indonesia Bangga
(ANTARA FOTO/Irfan Anshori)

AGUSTUS merupakan bulan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Ketika kita berbicara tentang Indonesia, seharusnya yang segera muncul adalah kebanggaan. Setelah 72 tahun merdeka, sepantasnya kita bangga atas apa yang berhasil kita raih. Itulah salah satu yang membuat Metro TV memilih tema bulanannya, Indonesia bangga.

Pekan lalu ketika kunjungan ke Jawa Timur, kebanggaan itu bisa kita rasakan. Di PT Boma Bisma Indra, Pasuruan, dan PT PAL, Surabaya, kita bisa melihat karya-karya putra Indonesia dalam produk-produk industri strategis.

PT BBI mampu memberikan pelayanan dalam bidang engineering, procurement, dan construction mulai pembangkit listrik panas bumi, kilang minyak, hingga industri petrokimia. Sejauh ini, produk mereka digunakan perusahaan Prancis, Alsthom, untuk proyek-proyek yang tersebar di Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia.
Sayangnya, produk itu menggunakan label Alsthom meski sepenuhnya buatan putra-putra Indonesia. Sisi positifnya, pengakuan perusahaan sekelas Alsthom menunjukkan putra Indonesia mampu dan tidak kalah dari bangsa lain.

Kalau saja sekarang kita mencanangkan pembangunan pembangkit listrik 35 ribu Mw dan 50% pelaksanaan pengadaan barang modalnya diserahkan kepada PT BBI, bisa dibayangkan betapa sibuknya putra-putra Indonesia membangun negara mereka. Kesempatan itu otomatis akan membuat putra-putra Indonesia semakin menguasai teknologi. Bukankah selalu dikatakan, 'Practice makes perfect?'

Hal yang sama dilakukan PT PAL. Lebih dari 1.000 orang yang bekerja di sana sangat terampil membuat kapal, baik itu untuk kapal niaga maupun kapal perang. Sekarang mereka bahkan mulai membuat kapal selam. Dalam tahapan pertama, mereka mampu menyambungkan pelat baja tebal untuk badan kapal selam dengan sempurna tanpa ada cacat. Itu membuat kagum para insinyur Korea Selatan yang menjadi mentor mereka.

Keandalan produk PT PAL diakui Angkatan Laut Filipina dan Malaysia. Satu yang sudah diserahkan kepada Angkatan Laut Filipina, jenis strategic sealift vessel, kini menjadi andalan untuk penyerbuan tentara Filipina ke Marawi.

Pertanyaannya, apakah kebanggaan itu membuat kita mau menggunakan produk karya bangsa sendiri? Di sinilah persoalan besar yang kita hadapi. Berbagai industri strategis yang kita miliki belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Angkatan Laut Republik Indonesia, misalnya, membutuhkan kapal perang jenis perusak kawal rudal. Ada empat buah kapal yang dipesan dan semua dikerjakan di galangan PT PAL. Namun, pembangunan kapal itu diserahkan kepada Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. Hanya sekitar 5% dari kapal yang harganya sekitar Rp2 triliun per buah itu yang pengerjaannya diserahkan kepada PT PAL.

Keberpihakan kepada industri dalam negeri itulah yang masih terasa kurang. Padahal, kalau porsinya diberikan dalam persentase yang lebih besar, bukan hanya tanggung jawabnya yang menjadi lebih besar, putra-putra Indonesia pun mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan ilmu dan keterampilan mereka.
Tidak ada bangsa di dunia yang sekali jadi menjelma bangsa maju. Kesempatan yang diberikan itulah yang membuat bangsa itu akan terpacu. Dari sanalah kemudian kita bisa menguasai teknologi dan akhirnya bisa menjadi negara yang maju.

Lihat saja Tiongkok yang baru 1990-an membuka diri. Kini mulai produk industri yang paling sederhana sampai yang paling canggih bisa mereka kuasai. Bangsa Tiongkok tidak hanya bisa membuat peniti atau cangkul. Kereta cepat, kapal perang, pesawat tempur, hingga pesawat ruang angkasa mampu mereka buat. Semua itu bisa dilakukan karena putra-putra Tiongkok diberi kepercayaan untuk merealisasikan mimpi mereka.

Entah mengapa kita tidak pernah mau memberi kesempatan kepada bangsa sendiri untuk bisa maju. Bahkan untuk cangkul pun kita tidak merasa bersalah untuk mengimpornya. Padahal, ada kesepakatan antara PT Krakatau Steel untuk memasok bajanya, PT BBI membuat cangkulnya, dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia serta PT Sarinah untuk memasarkan. Namun, untuk memasarkan 300 ribu cangkul buatan Indonesia per bulan pun kita tidak bisa sehingga 10 juta kebutuhan cangkul per tahun sepenuhnya harus kita impor.

Kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing, Indonesia seperti apa sebenarnya yang ingin kita bangun? Apakah kita ingin menjadi bangsa mandiri seperti dicanangkan Bung Karno dulu atau kita hanya mau menjadi bagian masyarakat dunia?

Momentum kemerdekaan merupakan kesempatan kita untuk melakukan refleksi. Ini penting karena kita tentu ingin memiliki kebanggaan. Hanya, kita sendiri yang bisa membuat kita bangga kepada bangsa dan negara ini.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.