Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
POLISI Malaysia menghentikan pidato Dr Mahathir Mohamad dalam forum Nothing2Hide di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur, Jumat (5/6).
Berdasarkan foto di The Straits Times, perwira polisi tampak santun kala 'memberedel' Mahathir. Alasan polisi ialah demi ketertiban umum dan kerukunan nasional.
Forum terbuka itu diselenggarakan bagi Perdana Menteri Datuk Seri Mohd Najib Razak untuk menjawab 'tuduhan' penyelewengan di perusahaan negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang dilontarkan Mahathir.
Akan tetapi, menurut The Straits Times, pada Jumat pukul 08.50 itu Inspektur Jenderal Polisi Tan Sri Khalid Abu Bakar men-tweet bahwa acara dibatalkan atas perintah polisi demi keamanan umum.
PM Razak nyatanya tidak hadir pada forum yang dijadwalkan mulai pukul 10.00 itu. Ketidakhadirannya menuai kritik. Petinggi Partai UMNO menyayangkan ketidakhadirannya.
Forum itu sangat penting bagi PM Razak bukan hanya untuk membantah tuduhan, melainkan juga, bila ia benar, ganti 'menghajar' mantan bosnya, Mahathir.
Ketidakhadiran Razak sebaliknya membuat Mahathir dinilai menang. Dalam pidatonya ia berseru, "Apakah kita negara merdeka atau dijajah?"
Ia sempat menilai Razak antek Singapura dan Amerika. Hanya beberapa menit ia berpidato, polisi langsung memberedelnya.
Seperti telah saya tulis di kolom ini 49 hari lalu, Mahathir gencar menyerang PM Razak melalui blognya (Media Indonesia, 23/4). Istri Razak pun dikecam bergaya hidup mewah. PM paling lama berkuasa itu sampai pada kesimpulan,
"Saya rasa dia tidak patut lagi menjadi perdana menteri."
Forum Nothing2Hide yang diselenggarakan persatuan advokat diharapkan menjadi wadah buka-bukaan. Seperti judulnya, dalam forum itu mestinya tak ada lagi yang disembunyikan Razak di depan publik. Namun, ia memilih tak hadir dan polisi 'memilih' memberedel Mahathir.
Saya menduga bagi Mahathir pemberedelan itu bak senjata makan tuan yang menyakitkan. Mahathir kena batunya, batu buatannya. Kala berkuasa ia represif menggunakan kekerasan negara terhadap oposisi.
Hegemoni kekuasaannya antara lain dibangun di atas Internal Security Act (Akta Keselamatan Dalam Negeri) yang memberi kewenangan hukum bagi negara untuk menangkap dan menahan tanpa pengadilan. Ternyata dugaan saya keliru.
Mahathir tidak tersinggung, tidak marah, tidak melawan. Ia menerima kena batunya, menerima senjata makan tuan, menerima diberedel. Tidak menyakitkan.
Mantan PM itu patuh pada perintah polisi. Ia menunjukkan diri sebagai warga biasa yang kini terkena perlakuan represif negara. Tak ada kegaduhan.
Kepada wartawan ia malah mengatakan datang untuk mendengarkan pembelaan Razak dan jika diyakininya benar, ia akan terus mendukung Razak.
Mari berandai-andai. Apakah yang terjadi jika, katakanlah, polisi menghentikan pidato mantan Presiden SBY yang tengah mengkritik Presiden Jokowi. Pasti gaduh hebat. DPR menghakimi agar Kapolri dicopot, bahkan menjadi pintu masuk pemakzulan presiden.
Pengandaian itu kiranya tak bakal terjadi. Pertama, dengan seluruh kehebatannya 'gaya' Mahathir yang mantan PM mencereweti PM tak cocok untuk negeri ini. Lagi pula, tak elok mantan PM menjadi oposisi terhadap PM dari partai sendiri (keduanya UMNO). Jeruk 'makan' jeruk.
Kedua, pemberedelan seperti itu kiranya tak bakal terjadi di negara ini karena betapa pun tak sempurna inilah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved