Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Reindustrialisasi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
19/7/2017 05:31
Reindustrialisasi
(Dok MI /ANGGA YUNIAR)

WAJARLAH jika Ikatan Sarjana Teknik Mesin dan Industri sampai merasa prihatin. Sejak era reformasi kontribusi industri kepada produk domestik bruto selalu di bawah tingkat pertumbuhan ekonomi. Sejak sembilan tahun terakhir, industri bahkan selalu mengalami defisit. Yang lebih mengkhawatirkan, kita mulai mengalami kekurangan jumlah insinyur.

Menjadi insinyur ternyata tidak lagi memberi kebanggaan. Padahal, dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan saja digambarkan cita-cita seorang Doel ialah menjadi 'tukang insinyur'. Insinyur ialah gambaran seorang sarjana yang mampu membangun negara ini menjadi maju dan modern.Dalam perjalanan 72 tahun Republik ini, hanya sekitar 10 tahun kita bersungguh-sungguh membangun industri.

Di era Presiden Soeharto, negara hadir untuk mendorong tumbuhnya industri nasional. Pada 1988 kita bergegas untuk membangun industri manufaktur. Hasilnya luar biasa karena 10 tahun kemudian kita sempat dijuluki sebagai 'negara industri baru'. Sayang, krisis keuangan melanda Asia Timur dan demokrasi mulai menjadi fenomena global. Kita terkena imbasnya sehingga bangunan industri yang sudah dengan susah payah dibangun ikut runtuh.

Era reformasi seharusnya mengoreksi kekurangan yang ada pada Orde Baru. Ternyata reformasi yang sudah hampir dua dekade kita jalani hanya melahirkan pragmatisme. Orang berlomba menikmati gaya hidup serbawah, tetapi lupa untuk menanamkan disiplin dan etos kerja. Saat menyampaikan kuliah umum pada pembukaan Akademi Bela Negara, Presiden Joko Widodo menggarisbawahi persoalan rendahnya disiplin dan etos kerja itu.

Paling mudah lihat di jalan raya, ketika semua orang seenaknya melanggar aturan lalu lintas. Kita tidak merasa bersalah ketika melawan arus. Bahkan ketika pengendara sepeda motor diingatkan untuk tidak melewati trotoar, malah pengendara itu yang marah-marah. Kita harus menyadari, dunia terus bergerak ke arah kemajuan. Revolusi yang dihadapi umat manusia sudah sampai tahapan keempat, yakni dari revolusi hijau, revolusi industri, revolusi teknologi informasi, dan yang akan datang revolusi industri 4.0.

Pada bangsa-bangsa lain, tahapan revolusi itu mendorong terjadinya transformasi. Yang sangat dirasakan ialah lahirnya disiplin, etos kerja tinggi, dan sikap pantang menyerah. Dari sanalah kemudian dihasilkan yang namanya produksi dan bahkan kemudian direproduksi. Kita tidak akan bisa sejajar dengan bangsa lain kalau tidak mempunyai disiplin, etos kerja, dan menghasilkan produk made in Indonesia.

Sekarang ini orang enggan menjadi industriawan karena lama dan lebih banyak repotnya. Kita cenderung mau gaji besar, tetapi malas dalam bekerja. Buruh lebih banyak demonya daripada kerjanya. Sepanjang orang lebih suka menjadi pedagang daripada menjadi industriawan, dampaknya jumlah angkatan kerja tidak pernah bisa tertampung. Tiga persoalan besar yang dihadapi bangsa ini, yakni kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan, akan terus menjadi masalah besar bangsa.

Jawaban dari semua itu, kita harus kembali ke jalan yang dulu dilakukan Presiden Soeharto. Negara harus memberikan pemihakan kepada tumbuhnya sektor industri. Barang-barang yang bisa dibuat di dalam negeri harus diprioritaskan dari dalam negeri. Istilah yang dipakai Presiden BJ Habibie, ketika kita menggunakan barang impor, sebenarnya kita sedang memberikan pekerjaan dan nilai tambah kepada bangsa lain.

Belajar dari pengalaman Orde Baru, sekarang kita tentu tidak harus memberikan proteksi. Seperti bangsa Jepang, Korea, dan Tiongkok ketika awal membangun industri, cukup dengan mengajak masyarakat menjadi pemakai produk bangsa sendiri. Sampai sekarang 55% produk Jepang, konsumennya bangsa Jepang sendiri, baru sisanya mereka ekspor.

Sekarang Tiongkok menjelma menjadi kekuatan industri baru karena menerapkan konsep seperti itu. Menurut dosen Penn State University, Jeff Willerstein, Tiongkok bisa lebih cepat menguasai teknologi dari AS karena berani mencoba. Mereka bahkan lebih unggul dalam membuat kereta cepat daripada negara lain karena produk mereka diuji pada kondisi lingkungan yang ekstrem. Mulai yang paling dingin di Harbin, paling panas di Gurun Gobi, angin topan di Pulau Hainan, hingga terowongan paling panjang di Guangzhou.

Sementara itu, kita tidak pernah berani memberikan kepercayaan kepada putra-putra bangsa untuk menunjukkan karya. Bahkan untuk membuat cangkul saja yang paling sederhana, produk bangsa sendiri dikalahkan produk impor hanya karena dianggap lebih murah. Kesadaran untuk melakukan reindustrialisasi perlu kita hidupkan. Mulai dengan yang memang menjadi kekuatan kita seperti pertanian dan perikanan. Kita dorong industri manufaktur berbasis sumber daya alam yang kita miliki. Kalau ada peta jalan dan kemauan, kita pasti bisa karena kita pernah membuktikan bisa melakukan transformasi besar.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.