Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pajak Tebu

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
15/7/2017 05:31
Pajak Tebu
(ANTARA/Fikri Yusuf)

BERSYUKURLAH Menteri Keuangan sadar akan kekeliruan yang dilakukan.

Penetapan pajak pertambahan nilai kepada tebu yang dijual petani kepada pabrik gula merupakan blunder besar.

Kebijakan itu bukan hanya kontraproduktif kepada target penerimaan pajak, tetapi bisa menjadi bumerang kepada pembangunan pertanian dan lebih lagi kepada kepercayaan pada pemerintah.

Kita tahu jutaan ton gula kita impor setiap tahunnya.

Bahkan orang berani untuk menyelundupkan gula ke Indonesia karena keuntungannya yang besar.

Penyebabnya harga gula di Indonesia lebih mahal jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Tentu pertanyaannya mengapa impor tinggi dan harga gula mahal?

Pertama, karena produktivitas budi daya tebu kita rendah.

Selain bibitnya yang tidak kunjung diperbaiki, tata kelolanya juga umumnya masih tradisional.

Petani tebu harus menghadapi pukulan kedua karena banyak pabrik gula yang ada peninggalan Belanda.

Akibatnya, rendemen dari tebu yang mereka hasilkan rendah. Hal itu otomatis memengaruhi pendapatan yang bisa mereka peroleh.

Produktivitas dan rendemen yang rendah membuat produksi gula nasional menjadi rendah.

Tidak usah heran apabila harga gula menjadi mahal karena pasokannya lebih rendah daripada permintaannya.

Pemerintah harus membuka keran impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga industri.

Ironisnya, negeri ini pernah dikenal sebagai salah satu produsen dan eksportir gula terbesar di dunia.

Memang era emas itu terjadi di zaman kolonial Belanda.

Kebijakan cultuurstelsel yang ditetapkan Gubernur Jenderal Van Den Bosch memaksa petani untuk menanam komoditas yang menguntungkan bagi pemerintah Hindia Belanda.

Hanya, sisi positifnya, Indonesia merupakan negara yang bisa dijadikan lumbung pangan dunia.

Di era Indonesia merdeka seharusnya kita bisa jadikan kesuburan Indonesia sebagai kekuatan.

Berbeda dengan zaman kolonial, pembangunan pertanian harus menguntungkan semua pihak.

Aneh jika pemerintah Indonesia merdeka masih berpikir seperti kolonial Belanda.

Negara hanya memikirkan nasibnya sendiri, tanpa peduli kehidupan rakyatnya.

Rencana penerapan PPN tebu merupakan gaya pemerintah kolonial, bukan watak dari pemerintah yang merdeka.

Penerapan PPN tebu jelas akan membuat petani malas menanam tebu.

Mereka merasa percuma bekerja karena hanya memberi tambahan beban.

Mereka harus menanggung beban 10% dari tebu yang mereka jual kepada pabrik gula.

Kalau petani malas untuk mengolah lahannya, yang akan dirugikan akhirnya negara juga.

Produksi gula yang sudah rendah pasti akan semakin rendah lagi.

Akibatnya, pemerintah harus mengeluarkan devisa lebih besar lagi untuk mengimpor gula.

Ketika kita memenuhi kebutuhan dari impor, kita sebenarnya sedang menghidupi petani di negara orang, sementara petani di negara sendiri dibiarkan mati.

Kita memahami, pemerintah memang sedang dihadapkan pada keterbatasan penerimaan negara.

Namun, perolehan pajak tidak bisa dilakukan dengan cara membabi buta.

Kita jangan memotong otot yang akhirnya membuat kita justru tidak bisa berdiri.

Belakangan ini kita melihat berbagai kebijakan perpajakan yang tidak pas.

Belum lama mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mempersoalkan penerapan pajak bumi dan bangunan yang tidak sesuai dengan zaman.

Apalagi berlaku umum, termasuk untuk lahan dan bangunan sekolah.

Menurut Daoed Joesoef, PBB juga merupakan peninggalan kebijakan zaman kolonial.

Bagaimana kita akan bisa mencerdaskan anak bangsa dan memberi kesempatan yang sama kepada semua warga untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas kalau sekolah dibebani PBB mahal?

PBB tinggi pasti akan dibebankan kepada biaya pendidikan sehingga akhirnya hanya anak-anak dari orangtua yang berada yang bisa menyekolahkan anak mereka di tempat itu.

Rasanya cukup sudah berbagai kekeliruan dalam membuat kebijakan perpajakan. Setidaknya dalam sebulan ini sudah dua blunder yang dilakukan.

Untungnya, kedua kebijakan itu kemudian segera direvisi kembali.

Namun, keseringan membuat kebijakan yang keliru akan memengaruhi kredibilitas.

Kalau kredibilitas tidak lagi bisa dimiliki pemerintah, kita sebenarnya tidak sedang membangun masa depan.

Jangan sampai itu terjadi!



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.