Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian berbicara perihal hati kecil. Katanya, "Hati kecil saya tidak ingin sampai selesai 2022." Ia ingin pensiun dini dan menikmati hidup. Sang jenderal kini berusia menjelang 53 tahun. Ia baru setahun diangkat Kapolri. Pada 2022, ia berumur 58 tahun, umur pensiun yang dapat diperpanjang sampai 60 tahun. "Bayangkan, saya jadi Kapolri enam tahun, tujuh tahun. Anggota bosan, organisasi bosan, saya pun bosan."
Suara hati kecil ialah suara kejujuran. Jauh hari telah membayangkan bosan di puncak kekuasaan, kiranya kualitas kebatinan yang langka. Umumnya orang ingin berlama-lama di puncak kekuasaan, khawatir pensiun, bahkan berharap diperpanjang. Akibatnya, banyak yang berhenti berkuasa dalam kegalauan batin yang mendalam. Bahkan ada yang tetap merasa berkuasa setelah tidak berkuasa sehingga sedikit atau banyak tampak 'sakit'.
Karena itu, jauh hari menyadari diri suatu ketika bosan di puncak kekuasaan, lalu pensiun dini, jelaslah pertanda objektivitas terhadap diri sendiri. Saya termasuk yang setuju dengan pendapat bahwa kebanyakan orang tidak begitu objektif tentang diri sendiri, termasuk saya terhadap diri saya sendiri. Terlebih yang tengah berkuasa, yang praktis 'terkepung' penilaian yang dikatakan orang, sehingga mengaburkan perspektif tentang diri sendiri.
Salah satu alasannya, menjadi Kapolri itu penuh dengan kehidupan stressfull. Ia ingin kehidupan yang less stress. Setelah bekerja keras, ia ingin menikmati hidup. Hemat saya, Jenderal Tito tidak hanya bekerja keras, tapi juga bekerja cerdas. Kombinasi bekerja keras dan bekerja cerdas itu menghasilkan kinerja nasional keamanan dan ketertiban yang dipujikan dan menjadikan dirinya sebagai ukuran terbaru, standar tertinggi yang mutakhir seorang Kapolri.
Kiranya telah lahir benchmark baru. Terus terang, malu hati terus-menerus menjadikan Jenderal Hoegeng sebagai satu-satunya contoh. Malu karena itu menunjukkan bangsa ini gagal melahirkan pemimpin. Malu karena menerapkan kriteria yang sama untuk era yang jauh berbeda. Jenderal Tito ingin menikmati hidup. Sebuah keinginan yang manusiawi, sekalipun tak lumrah, karena kebanyakan petinggi negeri ingin menikmati hidup sambil menikmati kekuasaan.
Hasilnya pengabdian setengah hati, bahkan yang parah tercampur aduknya kenikmatan kekuasaan dengan kenikmatan hidup. Contohnya, hakim Mahkamah Konstitusi main golf dibayari pihak yang beperkara, menganggap main golf sebagai kenikmatan hidup yang substansial sampai-sampai menjual kehormatan jabatan. Sang jenderal mengambil batas yang tegas bahwa untuk menikmati hidup harus pensiun dini.
Dalam kedudukan dan kapasitas Kapolri mustahil bisa menikmati hidup. Kekuasaan malah bikin stres. Ia bukan penikmat kekuasaan, bukan pula penikmat hidup superfisial. Berikut sebuah ilustrasi yang kontras. Alkisah ada seorang wakil bupati, ditanya apa suka dukanya hidup dalam jabatan itu. Katanya, tiada dukanya, karena jabatan itu penuh sukacita. Katanya uang mengalir bergelombang tak putus-putus.
Sopirnya bercerita, kekuasaannya bahkan diukur dalam sentimeter. Sopir itu dimarahi bila mobil lewat 1 cm, tidak persis berhenti di tempat penyambutan. Dalam pilkada tahun ini, ia maju lagi dengan pasangan bupati yang sama dan kalah. Wakil bupati bukan levelnya Kapolri. Akan tetapi, batas menikmati hidup dan menikmati kekuasaan menyangkut garis api prinsipiil yang sama, terlepas level jabatan. Melanggar batas itu dapat kebablasan masuk ranah KPK.
Jenderal Tito sampai ke posisi Kapolri kiranya telah melakukan perjalanan panjang melalui berbagai 'institusi', dari Akpol sampai ke puncak, menjalani yang fungsional dan struktural yang terbaik sehingga tercepat meraih jenderal berbintang empat. Setelah itu memilih pensiun dini untuk menikmati hidup, tentulah hasil refleksi, hasil berterima kasih.
Orang hanya bisa menikmati hidup setelah menjawab apa arti hidup. Menjawab arti hidup itu hanya tercapai bila orang objektif mengenal diri, punya perspektif yang terang benderang mengenai diri sendiri. Itu bedanya dengan menikmati bakso, tak perlu menjawab apa arti bakso dalam hidup, tak perlu mendengar hati kecil, tak perlu mengenal diri sendiri.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved