Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
LUAR biasa acara Diaspora Indonesia yang digelar Sabtu (1/7) di Jakarta. Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Dino Pati Djalal, ada sekitar 9.000 orang yang ikut dalam konferensi yang untuk keempat kalinya dilaksanakan itu. Mereka datang dari 153 kota dari 55 negara di seluruh dunia. Seperti disampaikan 27 orang perwakilan, meski hidup dan tinggal di negeri orang, hati mereka tetap ada di Indonesia.
Dengan menggunakan bahasa tempat mereka tinggal sekarang, ke-27 orang perwakilan itu menyatakan siap untuk membantu kemajuan Indonesia. Banyak di antara warga Indonesia itu yang menjadi tokoh berhasil di negara barunya. Ada yang menjadi penemu dengan jumlah paten yang begitu banyak di AS. Ada yang menjadi pengembang properti besar di Australia.
Ada juga yang menjadi dokter onkologi terkenal di Rusia. Mereka tentunya bisa menjadi ujung tombak kita untuk membuka jaringan di luar negeri. Seperti halnya diaspora India yang menjadi lokomotif kemajuan bagi negaranya, kita pun bisa memanfaatkan 8 juta orang Indonesia yang tinggal di seluruh dunia untuk menjadi 'ambassador Indonesia'. Bahkan, mantan Presiden AS Barack Obama yang menjadi pembicara kunci pada acara itu dengan bahasa Indonesia-nya mengaku, "Indonesia bagian dari diri saya."
Obama berjanji, yayasan miliknya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak Indonesia dan juga Asia Tenggara agar bisa mengejar cita-cita mereka. Obama menyampaikan, sekarang ini di dunia tengah bangkit semangat nasionalisme, yang refleksinya kadang kurang baik. Semangat itu disertai dengan sikap diskriminatif dan intoleran.
Karena itu, Obama menekankan pada tiga hal yang harus menjadi perhatian kita bersama. Pertama, kita harus menanamkan sejak dini sikap toleran. Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana toleransi itu dijalankan karena sudah menjadi keseharian. Ia menunjuk bagaimana candi umat Buddha dan juga Hindu bisa berdiri di lingkungan masyarakat muslim.
Namun, faktor kedua yang juga perlu diperhatikan ialah keadilan dalam bidang ekonomi. Jangan sampai ekonomi hanya dikuasai dan dinikmati segelintir orang. Kalau itu terjadi, bisa berdampak kepada munculnya sikap intoleran.
Ketiga, seluruh anggota masyarakat harus terus membangun komunikasi untuk memperkecil perbedaan. Obama menekankan pentingnya membangun kerja sama karena bisa menjadi alat untuk memecahkan persoalan. Ia menunjuk pengalaman ketika menjadi Presiden AS pada 2008 di saat kondisi ekonomi negaranya sedang terpuruk. Obama mengaku bisa mengembalikan kondisi ekonomi negaranya karena melakukan perbaikan bersama-sama.
Menurut Obama, era teknologi informasi seharusnya bisa menjadi alat untuk mempererat hubungan antarmasyarakat. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Kemajuan teknologi dan globalisasi menjadi sumber masalah karena orang hanya mau menerima apa yang dianggap sesuai dengan pandangannya dan tidak peduli dengan pandangan pihak lain.
Sama seperti demokrasi, toleransi harus diperjuangkan. Orang-orang yang tercerahkan harus menjadi jembatan untuk membangun kesamaan, bukan justru melebarkan perbedaan. Kita tidak bisa mengharapkan toleransi terjadi dengan sendirinya. Pesan Obama penting untuk kita garis bawahi karena kita menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kita menghadapi tiga persoalan sekaligus, yaitu kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan.
Padahal, secara demografi kita dihadapkan pada kondisi jumlah penduduk terbesar ialah anak-anak muda yang masih produktif. Kita tidak bisa bayangkan apabila bagian terbesar penduduk kita tidak mempunyai pekerjaan. Padahal, manusia selalu dikatakan sebagai homo faber. Orang akan merasa berarti sebagai manusia kalau mereka memiliki pekerjaan. Ketika orang merasa tidak berarti dan tidak lagi memiliki harga diri, sangat mudah mereka bersikap fatalis.
Salah satu refleksi sikap frustrasi itu, seperti dikatakan Obama, ialah orang mudah untuk menjadi tidak toleran. Sekali lagi demokrasi memang bukan sistem yang sempurna, melainkan merupakan pilihan terbaik yang ada. Demokrasi tidak mungkin dijalankan dengan kemalasan. Muara dari demokrasi terutama di Indonesia itu harus tertuju kepada 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved