Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA bangsa yang suka menunggu ‘tamu’, lalu kepadanya kita bergantung. Siapa pun kini yang menjadi tamu kita selalu ditunggu: apa yang dikatakan apa yang dilakukan, akan jadi rebutan, akan jadi rujukan. Sementara itu, di dalam kita saling menghantam. Inilah mental ‘xenomania’ yang belum sembuh-sembuh juga.
Begitulah kita. Untuk kesekian kalinya kita memuji Barack Obama, yang menyadarkan kita betapa keberagaman adalah takdir kita, bahwa toleransi sejarah kita, kepadanya kita becermin. Ia menunjuk fakta yang amat nyata bahwa Borobudur adalah candi umat Buddha dan Prambanan simbol religiositas umat Hindu. Namun, kedua candi itu hingga kini tetap tegak berdiri dan terawat, di tengah mayoritas penduduk muslim.
“Hal itu (toleransi) diabadikan dalam konstitusi, saling menghargai dalam harmoni,” kata Presiden Ke-44 Amerika Serikat itu, Sabtu pekan lalu. Obama menjadi pembicara utama dalam Kongres Ke-4 Diaspora Indonesia yang diadakan di Jakarta. Inilah negeri Asia pertama yang dikunjungi Obama sejak pensiun sebagai presiden Januari 2017.
Tak terlalu salah juga jika ada yang menafsirkan pidato Obama seperti ini, jangan ajari muslim Indonesia soal toleransi! Karena toleransi telah menginternalisasi dalam darah, dalam aorta tubuh-tubuh manusia Indonesia. Tentu ada pula yang menjadikan ucapan Obama sebagai ‘tempat terlindung’ mereka yang selama ini diposisikan sebagai pihak yang kurang toleran.
Maka, bagi mereka yang ‘diuntungkan’ apa yang diucapkan Obama, ramai-ramai memberi konteks sesuai dengan keinginan kelompoknya. Kelompok yang lain juga memberi konteks sesuai dengan kepentingannya.
Obama yang ketika kanak-kanak bersekolah di Indonesia, berayah tiri orang Indonesia, merasakan hidup dengan segala problem Indonesia, pastilah terpatri pada memorinya dengan segala pengalaman. Darah yang mengalir dalam tubuhnya antara Kenya dan Amerika, agama yang dianut orangtuanya yakni muslim dan nonmuslim, kulit hitam dan kulit putih, geografi yang pernah ditinggali yakni Indonesia dan Amerika, jadi fondasi yang kukuh tentang visi dan laku hidup bersama dalam masyarakat yang beragam. Dengan fondasi keberagaman seperti itu, terlebih pernah menjadi presiden Amerika Serikat, Obama menjadi tokoh yang paling punya legitimasi dan otoritas untuk bicara keberagaman.
Obama tak hanya memberi garis bawah soal toleransi, tapi selama sepekan jelas ia juga telah menjadi ‘PR’ Indonesia, khususnya dunia wisata di Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Sebagai tokoh dunia yang masih punya pesona, semua ‘bekas’ Obama di Indonesia: objek wisata yang dikunjungi, hotel tempat menginap, makanan yang dikudap, dinubuat akan menimbulkan efek ekonomi.
Maret yang lalu, selama sepekan, Raja Salman dari Arab Saudi juga berlibur di Bali setelah beberapa hari melakukan kunjungan resmi di Jakarta. Raja negeri kaya minyak itu juga memuji semangat toleransi keberagaman di Indonesia. Karena itu, Saudi sepakat mendorong dialog di antara umat beragama. Kunjungan Salman juga menjadi ajang ‘rebutan kedekatan’. Bahkan, siapa yang berfoto dan tak berfoto dengan Raja, ramai dibincangkan.
Wakil Presiden Amerika Serikat Michael Pence yang berkunjung ke Indonesia bulan berikutnya setelah Raja Salman merasa amat tersanjung melihat berbagai penyambutan untuk dirinya. Pence amat menikmati dan memuji toleransi di Indonesia.
Selain Raja Salman, Barack Obama, tokoh penting yang berlibur di Pulau Dewata ialah juga Perdana Menteri Malaysia Najib Razak. Berliburnya tokoh-tokoh penting itu jelas memberikan promosi gratis. Liputan media jelas hikmah kunjungan/berliburnya orang-orang penting itu. Namun, promosi gratis itu jadi sia-sia jika kita yang di dalam tak berjibaku untuk maju.
Berkali-kali Indonesia kedatangan para tamu. Tak terhingga pula kita dipuji. Mereka tentu penting sebagai penyemangat, sebagai pengingat. Namun, sesungguhnya sang pemilik rumah ialah kita bangsa Indonesia. Karena itu, alangkah aneh, kita kerap ‘memperebutkan’ tamu dan menyanjungnya tinggi-tinggi, tapi saling tak percaya di antara kita; saling menghabisi di antara kita.
Kita lupa bahwa kitalah penentu utama maju dan mundurnya negeri ini, bukan para tamu itu.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved