Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Pertanyaan soal Amien

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
30/6/2017 05:31
Pertanyaan soal Amien
(MI/M Irfan)

INI pertanyaan ibu saya yang agak sulit dijawab. Pertanyaan ini bisa dipahami secara denotatif tapi juga konotatif. "Ke mana saja Amien Rais? Kok sekarang seperti tidak terlihat bekasnya? Padahal, dia yang memulai perubahan." Kesulitan menjawab pertanyaan itu karena kami keluarga Muhammadiyah, dan ibu saya sejak muda hingga kini berusia 84 tahun, tetap bersetia pada parsarikatan itu dan Amien pemimpin panutannya.

Ia mungkin saja jadi masgul jika jawaban saya tak pas di hati. Meski dua tahun ibu saya terbaring di tempat tidur karena sakit, tapi bicaranya masih 'semangat 45', terlebih jika membincangkan Muhammadiyah dan para tokohnya. Televisi berita di kamar tidur ibu saya memang menjadi teman setia yang menginformasikan segala hal. Karena itu, ia tak terlalu ketinggalan informasi, meski beberapa soal ia kerap bingung menangkapnya.

Namun, pertanyaan tentang Amien Rais, yang 'seperti tak ada bekasnya', saya menangkapnya dua kemungkinan. Pertama, Amien memang benar-benar sudah meredup. Kedua, Amien yang sudah banyak berbuat tapi seperti ada kesengajaan dilupakan. Saya jawab agak berputar sedikit, bahwa setiap tokoh ada masa puncaknya. Masa kehebatan Amien Rais di awal reformasi mungkin sudah lewat untuk sekarang.

Media massa, dahulu, memang mengganggap Amien tokoh paling punya otoritas untuk bicara perubahan dan politik Indonesia. Amien waktu itu pusat dan rujukan perubahan di Indonesia. Pengalaman menyeleksi calon reporter Media Indonesia pada 2000-an ketika ditanya siapa tokoh idolanya, 90 persen dari mereka ketika mahasiswa mengidolakan Amien Rais.

Namun, beberapa tahun kemudian, mereka tak lagi menganggap Amien panutannya. Amien, kata mereka, telah selesai. Rupa-rupa alasaannya. Pemilihan presiden 2004, menjadi bukti paling konkret kenapa suara pasangan Amien Rais yang berpasangan dengan Siswono Yudhohusodo tak signifikan. Memang tidak mudah menjadi tokoh, terlebih tokoh politik, yang bisa panjang masa edarnya.

Ibu saya terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk-anggukkan kepala. Saya ceritakan pula Amien Rais yang tetap konsisten kritis pada pemerintah seperti menjelang dan setelah reformasi khususnya di masa Abdurrahman Wahid. Keikutsertaan Amien secara aktif dalam beberapa demonstrasi yang digalang Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), juga disayangkan karena Amien tokoh yang mestinya bisa berada di tengah.

Kritik juga dilontarkan pada Amien karena mengatakan KPK busuk dan bahkan mengintruksikan PAN, 'partai reformasi' yang ia dirikan, mendukung Hak Angket DPR terhadap KPK. Sikap reaktif Amien karena ia disebut oleh jaksa tipikor menerima dana dari perusahaan milik Sutrisno Bachir dalam kasus dana Alkes yang melibatkan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari.

Amien dalam penilaian saya memang tak kinclong lagi sebagai tokoh reformasi. Ia justru seperti lupa apa tuntutan reformasi dulu, yakni memberantas korupsi, kolusi, nepotisme (KKN). Istilah yang dipopulerkan Amien Rais sendiri. "Bagaimana soal kriminalisasi ulama, terutama terhadap Habib Rizieq? Sebaiknya dalam suasana Idul Fitri saling memaafkan," Ibu saya bertanya lagi sambil melihat televisi yang memberitakan silaturahmi antara beberapa pengurus GNPF MUI dan Presiden Jokowi.

Karena sudah cukup 'intro', saya lebih mudah menjawab pertanyaan kedua. Saya mengatakan bahwa ulama di Indonesia jumlahnya pasti ribuan. Kalau ada satu-dua ulama diproses hukum karena aktivitasnya yang masuk kategori melanggar hukum, ya gak bisa dibilang kriminalisasi ulama, Sejauh ada perbuatan dan ada pasal hukum yang dilanggarnya, itu bukan kriminalisasi.

Kalau kriminalisasi, pengertiannya tidak ada tindakan yang dikategorikan melanggar hukum tapi diproses hukum. Ketua Umum MUI Maruf Amin juga mengatakan kasus yang menimpa Rizieq bukan kriminalisasi ulama. Justru pengadilan tempat terbaik membuktikan tuduhan. Mengindari proses hukum berarti membiarkan rumor, desas-desus, dan bahkan fitnah jadi panjang dan berkembang.

Soal memaafkan, itu tergantung Presiden Jokowi. Karena selain mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang banyak menjadi sasaran tembak GNPF, FPI, FUI, dan para pendukungnya ialah Jokowi. Jokowi tak hanya menjadi sasaran sumpah serapah tapi juga fitnah, salah satunya PKI. Ada yang menyayangkan Jokowi begitu mudahnya menerima para pengkitiknya yang banal itu.

Namun, apa pun nasi telah menjadi bubur. Publik sulit untuk tak membandingkan dengan Ahok, yang tak hanya mendatangi Polri sebelum jadi tersangka, tetapi juga menghadapi proses hukum dengan gagah dan disiplin. Rizieq tidak hanya menolak diproses hukum dalam dugaan chat WhatsApp berkonten pornografi dengan Firza Husein, tapi justru ia buron.

Ia kabur ke Arab Saudi dan kini dikabarkan berada di Yaman. Kenapa kebenaran harus menghindar? Idul Fitri memang momentum untuk saling memaafkan. Namun, seperti yang juga sering Rizieq katakan, seluruh warga negara sama di mata hukum, maka proses hukum itulah cara terbaik meneguhkan kehormatan dirinya, kehormatan ucapannya. Adapun buron ialah cara sebaliknya. Ia memperpanjang persoalan.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.