Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pendidikan Bangsaku

21/6/2017 05:31
Pendidikan Bangsaku
(ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

SIAPA yang punya pemuda, mereka yang mempunyai masa depan. Pepatah Belanda itu mengingatkan seluruh bangsa di dunia pentingnya mempersiapkan generasi muda. Ketika kita memiliki generasi muda berkualitas, masa depan itu akan semakin cerah. Tidak ada satu pun bangsa di dunia yang tidak berupaya menciptakan kesejahteraan untuk rakyatnya. Cita-cita semua bangsa merdeka ialah menciptakan kehidupan ekonomi yang lebih baik bagi bangsanya.

Dalam perjalanannya, kita melihat berbagai macam revolusi yang terjadi di dunia. Mulai revolusi hijau yang mengubah manusia dari nomaden menjadi menetap hingga revolusi industri yang ditandai dengan dihasilkannya mesin uap. Sekarang revolusi itu bahkan sudah sampai ke bidang teknologi informasi dan ekonomi kreatif. Ke depan orang sedang bersiap-siap memasuki tahapan baru yang disebut dengan industri 4.0.

Diperkirakan, pada 2060, para ahli teknologi akan bisa menciptakan robot yang kemampuannya sama dengan manusia. Pada saat itu, semua pekerjaan akan diambil alih oleh robot. Mengapa kemajuan manusia begitu luar biasa? Karena berbagai revolusi yang terjadi menciptakan transformasi besar. Yang paling terasa ialah terciptanya etos kerja dan disiplin.

Itulah yang kemudian mendorong orang untuk berkarya menghasilkan produk. Bahkan produk itu dikembangkan menjadi produk-produk yang bernilai tambah lebih tinggi lagi. Semua itu bisa dilakukan karena semua bangsa berkonsentrasi kepada pendidikan. Setiap bidang ilmu dicoba untuk dikuasai. Perpaduan berbagai bidang ilmu itu yang dipakai negara untuk mencapai cita-cita kemerdekaan.

Tidak terkecuali hal itu juga dilakukan Indonesia. Setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno sangat sadar, untuk mengatasi ketertinggalan dari bangsa lain, putra-putra Indonesia harus mendapatkan pendidikan yang baik. Melalui diplomasi tingkat tinggi, Bung Karno bisa mendapatkan beasiswa untuk ribuan putra Indonesia. Mereka dikirim belajar ke Amerika Serikat dan Eropa Timur untuk berbagai disiplin ilmu mulai pertanian, sosial, hingga teknik.

Sayang setelah pergolakan politik 1965, banyak anak Indonesia terutama yang belajar di Eropa Timur tidak bisa kembali ke Indonesia. Padahal, mereka banyak yang menguasai bidang metalurgi dan akhirnya menjadi ahli di negara baru. Pengiriman putra-putra Indonesia untuk belajar ke luar negeri dilakukan lagi zaman BJ Habibie menjadi menteri riset dan teknologi.

Secara spesifik ketika itu anak-anak Indonesia dikirim untuk mempelajari bidang aeronautika sebagai persiapan Indonesia tinggal landas. Sayang krisis multidimensi 1998 membuat Dana Moneter Internasional menyarankan kita untuk membekukan pendanaan bagi PT Dirgantara Indonesia dan putra-putra Indonesia itu akhirnya bekerja di Eropa. Sekarang ini dengan 20% dana anggaran pendapatan dan belanja negara untuk pendidikan, kemampuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia tentunya semakin besar.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan memberikan beasiswa untuk ribuan anak Indonesia untuk bisa mengecap pendidikan lebih tinggi.
Sayang arah pendidikan yang kita lakukan sekarang tidak lebih terarah seperti zaman Bung Karno dulu. Pendidikan yang kita tempuh tidak sejalan dengan arah pembangunan yang hendak kita tempuh.

Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies Phillip Vermonte pernah mengatakan, dari sekitar 6.000 doktor yang ada di Indonesia, kebanyakan untuk bidang hukum dan agama. Tantangan terberat kita dalam bidang pendidikan bukan terletak pada anggaran, melainkan penggunaannya. Kita tidak punya strategi pendidikan jangka panjang yang disesuaikan dengan tantangan zaman satu generasi ke depan.

Tidak usah heran apabila kebijakan yang dikeluarkan bukan hanya tidak menyentuh persoalan utama bangsa ini, tetapi juga menimbulkan kontroversi. Terakhir, misalnya, kebijakan sekolah 8 jam yang akhirnya harus dianulir Presiden. Oleh karena tujuan kemerdekaan ialah untuk menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan harus diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang bisa memberi kontribusi kepada kemajuan ekonomi.

Kita tahu yang bisa mendorong pertumbuhan ialah industri manufaktur dan industri kreatif. Untuk itu, pendidikan harus fokus kepada peningkatan keterampilan serta penguasaan sains dan teknologi. Para pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi harus duduk bersama dengan pejabat Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, serta Kementerian Ketenagakerjaan agar kerja keras kita menuju kepada arah yang sama.

Yakni, bagaimana bangsa ini bisa naik kelas menjadi negara maju. Kita masih jauh menuju tahapan masyarakat industri 4.0. Kita masih harus berjuang membangun etos kerja dan disiplin. Hanya dengan pendidikan yang terarah dan benar, kita akan mencapai cita-cita Indonesia yang maju.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.