Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu faktor yang menentukan pemulihan ekonomi pada semester II ialah seberapa mampu pemerintah melakukan konsolidasi fiskal. Saat ini perbankan dan korporasi dalam proses konsolidasi setelah terpukul berat dalam empat tahun terakhir. Harapan kita konsolidasi bisa dilakukan juga oleh pemerintah. Persoalan terberat dalam konsolidasi fiskal ialah penerimaan pajak.
Sejak 2015, target penerimaan pajak memang terlalu optimistis. Padahal, kondisi perekonomian sedang tertekan akibat krisis global. Itu bisa terlihat dari pertumbuhan penerimaan pajak yang terus melambat dalam empat tahun terakhir. Apabila pada 2013 pertumbuhan penerimaan pajak masih bisa mencapai 12%, setahun kemudian pertumbuhannya melambat menjadi 9% dan turun lagi menjadi 6% pada 2015.
Tahun lalu, ketika kita menjalankan amnesti pajak, ternyata pertumbuhan penerimaan pajak mencapai titik nadir, yaitu hanya naik 3,5%. Itulah yang membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terpaksa melakukan pengetatan anggaran pada semester II 2016. Meski deklarasi amnesti pajak mencapai Rp4.800 triliun, tambahan penerimaan pajaknya hanya sekitar Rp148 triliun.
Kita lihat akibatnya, pertumbuhan ekonomi menjadi tertekan. Investasi pemerintah pada kuartal IV 2016 tumbuh negatif lebih dari minus 4%. Namun, pilihan itu harus diambil karena Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hanya memberikan ruang untuk defisit maksimal 3% dari produk domestik bruto. Di samping tantangan pada sisi penerimaan, pemerintah menghadapi persoalan dalam sisi penggunaannya.
Ruang gerak yang dimiliki pemerintah dalam pengelolaan anggaran sangat terbatas. Memang kalau dibandingkan anggaran 10 tahun yang lalu, APBN kita naik 100%. Sekarang APBN kita sudah di atas Rp2.000 triliun. Namun, penggunaannya sudah dipatok dan hanya sebagian kecil yang bisa dipakai untuk anggaran pembangunan. Sekarang ini sekitar 40% dari anggaran sudah terpakai untuk biaya rutin dan alokasi ke daerah.
Sebesar 20% harus dialokasikan untuk pendidikan. Berbagai subsidi yang harus dikeluarkan menyita sekitar 15%. Alokasi untuk membayar utang sekitar 10%. Praktis hanya tersisa 15% untuk anggaran pembangunan. Dengan jumlah yang terbatas itu, ruang bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan dan mengurangi pengangguran serta kemiskinan otomatis juga terbatas.
Untuk itulah pemerintah sangat tergantung kepada investasi, baik yang datang dari badan usaha milik negara maupun pengusaha dalam negeri dan luar negeri. Kesadaran tentang keterbatasan ruang gerak pemerintah ini sayangnya begitu rendah. Seakan-akan pemerintah bisa menyelesaikan semua persoalan. Itu bisa terlihat dari perlakuan terhadap pengusaha.
Seakan pengusaha hanyalah pribadi yang sekadar mencari untung. Presiden, misalnya, tidak merasa penting untuk memenuhi undangan buka puasa Kamar Dagang dan Industri. Secara tiba-tiba Presiden membatalkan kehadirannya. Padahal, tidak ada acara lebih penting yang harus dihadiri. Tidak usah heran kalau di satu sisi pemerintah gencar untuk mengundang investor mau menanamkan modalnya di Indonesia.
Namun, di sisi lain mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun berinvestasi di Indonesia malah ‘diusir’ keluar. Lihat, misalnya, pengelolaan Blok Mahakam yang 35 tahun dikelola Total Indonesie, Prancis, dan tambang di Timika yang 50 tahun dikelola PT Freeport Indonesia. Hanya karena kontraknya sudah habis dan merasa saatnya orang Indonesia mengelola sendiri kekayaan alam, mereka tidak diberi perpanjangan lagi.
Seharusnya mereka justru diminta menambah investasi. Yang terpenting ialah manfaat terbesar dirasakan Indonesia. Ini sekaligus menghapus anggapan ‘habis manis, sepah dibuang’, yang bisa membuat banyak investor enggan untuk berbisnis di Indonesia. Simbiosis mutualisme harus menjadi sikap kita. Basis yang harus kita bangun ialah sikap saling percaya, bukan sebaliknya sikap saling tidak percaya.
Semua harus dilihat dari niat baiknya, sampai kemudian terbukti bahwa orang itu melakukan perbuatan tercela. Kita seringkali justru terbalik. Orang yang jelas-jelas melakukan perbuatan tercela malah dipuja-puji. Tidak hanya masih diberi ruang untuk masih bisa berbisnis, bahkan mendapatkan kedudukan politik yang tinggi. Akibatnya tidak usah heran apabila orang itu kemudian mengulangi perbuatannya.
Kita justru harus memberi penghormatan kepada mereka yang telah berbuat kepada negeri ini. Begitu banyak pengusaha yang telah memberikan kontribusi kepada negara dengan melakukan investasi, membayar pajak, dan membuka lapangan kerja. Namun, mereka hanya dilihat sebagai pribadi yang sekadar mencari untung. Padahal, untung itu merupakan salah satu ukuran keberhasilan dalam berbisnis.
Semakin pengusaha mampu mengakumulasikan modal, semakin besar kesempatannya untuk mengembangkan usaha yang artinya membuka lebih banyak lapangan kerja dan lebih besar membayarkan pajak. Dengan kontribusi dari investasi pemerintah dan pengusaha itulah, kemudian kita bisa meraih pertumbuhan ekonomi seperti yang diharapkan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved