Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Time Lag

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
10/6/2017 05:31
Time Lag
(MI/PANCA SYURKANI)

BUKA puasa dengan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memberikan dua gambaran tentang kondisi perekonomian Indonesia. Pertama, kondisi makroekonomi Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Itu terlihat dari cadangan devisa yang terus meningkat, surplus perdagangan yang membaik, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, pertumbuhan kredit yang mulai meningkat, dan angka inflasi yang terkendali.

Kedua, konsolidasi perbankan dan perusahaan sedang berjalan. Kita masih membutuhkan waktu agar kemudian benar-benar bisa menggerakkan sektor riil. Kondisi itu dikonfirmasi pendiri Grup Triputra Theodore Permadi Rachmat saat mengundang para pemimpin redaksi berbuka puasa. Kondisi keuangan banyak perusahaan pada kuartal pertama tahun ini hampir semuanya positif.

Kalau kita pandai memanfaatkan momentum ini, pertumbuhan ekonomi bisa didorong lebih tinggi lagi. Kita memang harus sabar memulihkan kondisi ekonomi. Apalagi berbeda dengan krisis global 2008, keseimbangan baru yang tercipta sekarang ini membutuhkan waktu yang lebih lama. Ketika terjadi krisis global 2008, perekonomian Indonesia sudah menunjukkan perbaikan pada 2010.

Sekarang ini sampai kuartal IV 2016 kita melihat perekonomian masih tertekan. Pembalikan baru dirasakan kuartal I 2017. Meski begitu, sektor ritel masih belum kembali ke titik semula. Konsumsi rumah tangga masih mengalami perlambatan. Investasi baru juga masih stagnan. Bahkan investasi nonbangunan masih tertekan dalam. Yang mulai terlihat menggeliat ialah konsumsi pemerintah yang kuartal IV tahun lalu tumbuh negatif -4,05% menjadi 2,7% pada kuartal I tahun ini.

Tantangannya terletak seberapa mampu pemerintah melakukan konsolidasi fiskal karena penerimaan pajak hingga Mei baru mencapai 38%. Kalau pada semester II tidak membaik, seperti tahun lalu pemerintah di akhir tahun nanti terpaksa melakukan penghematan agar defisit anggaran tidak melampaui batas 2,5% dari produk domestik bruto. Kita harus menerima kenyataan memang selalu akan ada time lag antara perbaikan pada makroekonomi dan bergeraknya sektor riil.

Kita mengharapkan pada semester II nanti sektor riil bisa bergerak mengikuti perbaikan yang terjadi di sektor perbankan. Yang kita butuhkan sekarang adalah kepastian. Pemerintah jangan membuat kebijakan yang membuat pasar malah menjadi nervous. Janji untuk memberikan kemudahan benar-benar harus menjadi praktik keseharian. Jangan hanya janji kosong dan kenyataannya pengusaha menghadapi kesulitan dalam mengurus izin.

Sebagai contoh kesepakatan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dengan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Pengurusan izin pengolahan produk yang disepakati 3 jam kenyataannya membutuhkan waktu 10 hari. Alasannya, yang 3 jam itu untuk pengolahan yang volumenya besar. Sebuah alasan yang tidak masuk akal. Pemerintah yang dihormati ialah pemerintah yang kredibel.

Kredibilitas itu diukur dari ucapan dan kebijakan yang disampaikan. Jangan sampai kebijakan mudah berubah hanya karena pertimbangan yang tidak matang. Jangan pula janji yang disampaikan berbeda dengan praktiknya. Terakhir, kita melihat juga kebijakan mengenai laporan rekening perbankan untuk perpajakan. Kita mendukung upaya pemerintah untuk membagi beban yang sama kepada setiap warga negara sesuai dengan pendapatannya.

Pajak merupakan alat yang paling ideal untuk menciptakan pemerataan kemakmuran. Namun, belum saja tinta yang dituliskan itu kering, peraturannya sudah diubah kembali. Penetapan pembukaan rekening bank sampai Rp200 juta menimbulkan reaksi keras dari masyarakat karena komunikasi yang buruk. Ketika muncul ancaman untuk memindahkan simpanan dari bank ke bawah bantal, pemerintah mengubah menjadi Rp1 miliar.

Kita ingat pernyataan mendiang Presiden AS John F Kennedy yang menyebutkan, "Upya dan keberanian tidaklah cukup kalau tidak diikuti dengan penjelasan tentang tujuan dan arah yang akan ditempuh." Terlalu sering kita mengeluarkan kebijakan tanpa menjelaskan maksud dan tujuan. Padahal, yang namanya kebijakan pemerintah itu bukan untuk pejabat pemerintah, melainkan untuk masyarakat yang akhirnya harus menjalaninya.

Kita perlu belajar dari bangsa Jepang yang selalu detail dalam merencanakan segala sesuatu. Untuk mencapai sebuah tujuan, rencana aksinya ditetapkan jauh-jauh hari. Bahkan setiap rencana aksi itu dipertimbangkan dengan segala aspek yang akan terjadi. Bukan hanya yang baik saja, melainkan juga antisipasi terhadap dampak buruk yang akan dihadapi.

Kebiasaan untuk berpikir pendek yang harus dibuang jauh-jauh, apalagi ketika berkaitan dengan nasib orang banyak. Pemerintah harus lebih bijak dalam mengambil keputusan. Jangan hanya asal gebrak dan urusan belakangan. Sudah hampir 72 tahun kita merdeka, tetapi sikap kerja kita masih saja belum berubah. Jangan sampai apa yang dikhawatirkan Bung Hatta kemudian terjadi. Ketika kita harus menghadapi tantangan besar, negeri ini dikelola para pemimpin yang pikiran mereka kerdil.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan