Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Ukiran Sejarah Yazid

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
06/6/2017 05:31
Ukiran Sejarah Yazid
(AFP PHOTO / CURTO DE LA TORRE)

SAYA bukan penyuka Read Mad­rid ataupun Juventus. Juga tak membenci mereka. Justru ketika menonton kedua tim berseteru di final Liga Champions, Ahad dini hari lalu, saya mendua hati. Berharap kedua tim juara bersama. Ini pasti muskil. Saya berharap Juventus menang, sebab mereka berkali-kali mendamba ‘si Kuping Besar’, tapi terus jadi mimpi. Kali ini semuanya disiapkan.

Gawang Gianluigi Buffon pun hingga jelang final baru jebol tiga kali. Inilah sugesti tim Italia itu bakal berjaya. Namun, nubuat sejarah yang akan terukir di Stadion Nasional Wales, Cardiff, tak terjadi. Semua berakhir setelah wasit Felix Brych meniupkan peluit panjang. ‘Si Nyonya Tua’ dihancurkan Madrid 1-4. Los Merengues pun merebut gelar ke-12 kejuaraan antarklub tertinggi di Benua Biru itu.

Gol indah Mario Mandzukic pun tak berarti apa-apa. Ia hanya mengurangi kekalahan yang lebih telak. Memang Read Madrid terlalu gemerlap bertabur bintang, terlalu perkasa karena berkali-kali juara, dan terkesan jemawa. Akan tetapi, Zinedine Yazid Zidane, sang pelatih, bagi saya, sesuatu yang ‘berbeda’. Di mata saya ia seperti terpisah dari tim. Pun ketika ia masih aktif sebagai pemain di klub ini.

Ia pemain hebat dan pelatih pemula dengan prestasi luar biasa. Yazid, demikian ia dipanggil sang ayah, Smail Zidane, sukses mempertahankan Liga Champions dan menyandingkannya dengan trofi La Liga. Para penggemarnya memanggilnya Zizou. Di Indonesia, anak imigran Aljazair itu bisa jadi akan dipanggil Zainuddin Zidan jika melihat ihwal huruf Arabnya.

Smail Zidane berasal dari geografi dan geneologi Afrika, yakni Aljazair. Ia bermigrasi ke Prancis pada 1954 untuk memperbaiki nasibnya yang getir. Migrasi itu saja telah mengandung paradoks. Ia tak hanya datang ke negeri yang menjajah Aljazair, tetapi juga bukankah Prancis waktu itu dikenal negeri paling rasial di daratan Eropa?
Yazid lahir di Marseille pada 23 Juni 1972, tapi besar La Castellane, daerah miskin sebelah utara Marseille.

Di situlah ia tumbuh di tengah lingkungan yang tak ramah. Castellane pusat kriminalitas, tempat perdagangan narkoba merajalela dan bentrok antargang menjadi hal biasa. Bekerja sebagai penjaga gudang pastilah tak membuat kemiskinan Smail Zidane lekas beranjak. Tak ada jalan mulus bagi bangsa terjajah. Ia mengajari Yazid bekerja amat keras jika dibandingkan dengan ‘yang punya negeri’.

Begitulah memang postulat yang harus dipompakan bagi kaum imigran, si minoritas. Bekerja biasa atau sama dengan penduduk asli artinya hanya akan mendapat remah-remah. Bocah Yazid terus berlatih bola. Ia kemudian menjadi legenda setelah membawa Prancis juara dunia untuk pertama kali pada 1998. Putaran persepsi pun berubah. Sang imigran itu mengangkat kehormatan tinggi-tinggi negeri yang pernah menjajahnya.

Yazid menjadi pahlawan. Ia di puja di mana-mana. “Zidane! Presiden!” Begitu puluhan ribu orang menyeru. Wajahnya menghiasi banyak tempat. Prancis mungkin baru menyadari, si miskin, muslim imigran, ‘si liyan’, minoritas, justru menjadi roh pemersatu. Prestasi itu dikukuhkan lagi: Yazid membawa Les Bleus jawara Eropa 2000, merebut trofi lagi yang pernah diraihnya pada 1984.

Sepak bola memang di belahan dunia mana pun kerap jadi perekat sebuah nation. Menguras emosi baik bagi yang menang maupun sang pecundang. Ia memecah dominasi yang disebut mayoritas versus minoritas; arus utama versus yang biasa-biasa. Namun, di negeri asalnya, Aljazair, pahlawan Prancis itu tetaplah musuh. Ia dinilai bagian dari ‘harki’, tentara Aljazair yang berperang di pihak Prancis ketika Perang Kemerdekaan.

Itu sebabnya, ketika pertandingan persahabatan dengan timnas Aljazair, ada yang mengancam mau membunuh Yazid. Ia telah membantahnya berkali-kali. Namun, stigma telah dipatrikan. Yazid, Zainuddin, Zidane, atau Zizou, Ahad dini hari menjadi pahlawan lagi. Kali ini sebagai pelatih Real Madrid, klub bola raksasa asal Spanyol. Sebuah skuat yang tak sepenuhnya membawa nama negara.

Para penggemar mereka pun ada di berbagai belahan dunia. Mereka menjadi kebanggaan, inspirasi kerja keras dan perjuangan mereka yang tak pernah menyerah.
Di negeri asalnya, adakah yang masih belum berdamai dengan masa silamnya?

Sejarah lagi-lagi bukan pilihan mudah untuk dinilai hari ini. Apakah jika Smail Zidane tetap di Aljazair, akan lahir Yazid, tumbuh dan bekerja keras lalu bisa mengukir prestasi tinggi? Dendam dan fanatisme memang kerap menutup rapat masa depan, sebab ia memang sulit beranjak dari masa silam. Bola telah membawa manusia menjadi mulia. Selamat, Yazid.



Berita Lainnya
  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan